sport

Glory United, Always!

Buntut buruknya performa Manchester United musim 2011/2012, saya sering di-bully oleh teman-teman di twitter. Lakon ini selalu terjadi ketika tim kesayangan saya itu kalah, baik di Liga domestik maupun Champion. Termasuk saat MU dibekuk tuan rumah Newcastle United 3-0, Kamis dinihari tadi (5/1/2012). Saya hanya tersenyum membaca komentar-komentar mereka.

Sebagai pesaing “Setan Merah”, wajar kalau mereka seperti itu. Bisa jadi mereka terlalu cemburu atas apa yang telah diraih Manchester United dalam 1 dekade terakhir. Termasuk sukses sebagai pengumpul tropy gelar  terbanyak, memecahkan rekor Liverpool yang telah bertahan bertahun-tahun lamanya.

Dan, harus pula diakui, tak sedikit para penggemar kecewa dengan performa Manchester United musim ini. Gagal meraih tiket 16 besar Liga Champion dan kekalahan telak 1-6 dari tim sekota Manchester City, yang kini memimpin klasemen sementara.

Tapi, sebagai pengikut setia “Setan Merah”, saya tak perlu khawatir. Sebab ada sejumlah faktor yang membuat langkah United tak segarang musim sebelumnya. Salah satunya karena faktor cidera pemain.

Sampai paruh musim saja, tercatat 10 pemain utama Manchester United harus bergantian masuk kamar operasi. Mereka antara lain, Rafael dan Fabio Da Silva, Tom Cleverly, Anderson, Antonia Valencia, Jonny Evans Chris Smalling, dan Chicarito. Bahkan, dua di antaranya, Nemanja Vidic dan Darren Fletcher, kemungkinan sudah tak akan bermain lagi musim ini.

Panjangnya daftar pemain yang cidera tersebut, memaksa Ferguson untuk melakukan rotasi pemain. Lihat betapa seringnya Phil Jones gonta-ganti posisi hanya untuk menambal pos yang ditinggalkan pemain aslinya. Atau lihat bagaimana Michael Carrick bermain sebagai bek tengah lantaran pemain untuk posisi tersebut semuanya masuk ruang perawatan.

Bahkan di beberapa laga, Wayne Rooney “dipaksa” menjadi play maker. Padahal sebagai striker, Rooney sempat menduduki daftar top score di awal musim.

Lantaran cidera menggerogoti banyak pemain, MU kerap tampil seperti kurang darah. Hal ini disebabkan minimnya seorang gelandang tengah kreatif. Ketika Tom Cleverley cedera, tak ada lagi yang mampu melakoni peran itu. Laga melawan Newcastle membuktikannya. Strategi untuk membangun permainan dari sisi lapangan terbukti mati lantaran Nani dan Antonio Valencia dijaga ketat. Sementara, Yohan Cabaye dan Cheick Tiote, yang terbukti solid sepanjang musim ini, dengan mudah memenangi pertarungan di lini tengah.

Meski memiliki problem teknis, tapi prestasi Manchester United hingga putaran kedua taklah buruk-buruk amat. Apalagi jika mengingat bagaimana tim lain tengah membangun kekuatan, termasuk Manchester City yang memiliki uang tak terbatas untuk merebut title juara.

Yang perlu diingat, Manchester United pernah mengalami saat-saat seperti ini. Musim 2007-2008 misalnya. Kala itu, Chelsea tengah menyusun kekuatan besar di Liga Inggris dengan Jose Mourinho sebagai manager. Dan gelar juara Manchester United berhasil diraih sampai detik terakhir. Demikian juga musim 2007/208, ketika Manchester United yang sempat tertinggal dari Arsenal akhirnya keluar sebagai juara.

Jadi, apakah pertarungan musim ini juga akan seseru yang tersaji di atas? Atau bahkan akan lebih seru dan lebih banyak twist lagi? Saya kira akan sama. Meski sesungguhnya situasi musim ini jauh lebih berat.

Konsistensi

Sebelum musim ini dimulai, Fergie mengatakan bahwa Premier League kian berat lantaran tim-tim besar bisa saling mengalahkan atau kehilangan poin ketika melawan tim yang relatif lebih kecil. Ucapannya terbukti valid.

Dalam dua musim terakhir Premier League tidak lagi hanya didominasi mereka-mereka yang disebut Big Four. Tottenham Hotspur dan Manchester City sudah membuktikan bahwa tim di luar MU, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool bisa finis di dalam zona empat besar. Bahkan, musim ini, City dan Spurs duduk di posisi tiga besar dengan diselingi ‘Setan Merah’.

Cerita persaingan MU dan City hanya sebagian kecil betapa istilah ‘Liga Jungkat-Jungkit’ di Premier League . Bisa jadi tak ada yang memprediksi MU yang bisa menang 8-2 atas Arsenal kemudian kalah 1-6 di tangan City. Atau bagaimana Chelsea yang bisa memberikan kekalahan pertama untuk City malah bisa ditundukkan Aston Villa 1-3.

Dalam sudut pandang penonton, ini adalah sajian pertunjukan menarik nan seru. Sementara dari sudut pandang para manajer, inkonsistensi tim adalah sebuah pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Fergie tentu tidak akan tersenyum melihat timnya kalah dua kali secara berurutan setelah sebelumnya menang lima kali beruntun.

Alhasil, meski terdengar klise, konsistensi adalah poin penting untuk bisa menjadi juara. Jose Mourinho, ketika melatih Chelsea, pernah mengatakan hal ini. Menurutnya, memenangi liga adalah sebuah hal yang lebih menyenangkan ketimbang memenangi turnamen seperti Liga Champions. Alasannya, memenangi liga adalah bukti konsistensi sebuah tim sepanjang musim.

Dalam lima laga terakhir, tiga tim teratas Premier League; City, MU, dan Spurs, hanya mampu memetik tiga kemenangan. MU dan Spurs menelan dua kekalahan, sementara City hanya satu. Dalam catatan yang satu ini, City layak untuk disebut lebih konsisten ketimbang dua pesaingnya itu. Pertanyaannya sekarang, mampukah ‘Manchester Biru’ mempertahankannya sampai Mei?

Jawabannya bisa dilihat dalam 20 pertandingan sisa, khususnya ketika Manchester City ditinggal Yaya Toure untuk berlaga di Piala Afrika nanti. Toure adalah salah satu penopang performa mereka musim ini.  Di lain pihak, perburuan poin klub-klub lain akan semakin ganas, baik mereka yang ingin masuk ke zona Champion dan Eropa, juga tim yang berada di zona degradasi akan tersuntik motivasinya untuk tetap bertahan di kasta tertinggi liga Inggris.

Di tengah kondisi tersebut, Fergie masih tetap bersikukuh untuk tidak menambah skuadnya dengan seorang gelandang baru. Jika memang konsistensi yang dibutuhkan untuk memenangi gelar, saat ini MU tengah berada dalam kondisi tertinggal. Lain urusannya jika Fergie tiba-tiba menemukan formula jitu untuk memenangi liga dengan segala keterbatasan dan menghadapi City yang punya skuad lebih lengkap. Maka, ia layak mendapatkan aplaus.

Namun, di tengah sorotan timnya sendiri, Fergie mengaku masih bisa melihat sisi positifnya. Layaknya veteran yang pernah melalui perang berat seperti ini berulangkali, The Scotsman mengatakan, “Ini bukan saatnya panik, kami punya pengalaman untuk mengatasi masalah ini.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s