Intermezzo

IBU

Tanpa sadar, air mata selalu berlinang setiap mendengarkan lagu “Ibu” yang dinyanyikan Iwan Fals. Bibirku kelu. Tak sepenggal katapun mampu terucap. Dada terasa sesak menahan segumpal beban. Seperti ada sembilu yang selalu menghujam kalbu. Saya merasa berdosa karena belum bisa memberikan sedikitpun kebahagiaan kepadanya .

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu

    Ibuku sayang masih terus berjalan
    Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

    Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
    Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
    Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
    Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Selain Ibu-nya Iwan Fals, perasaan saya juga sering terhanyut saat mendengar lagu “Bunda” milik Melly Goeslow dan “Doa untuk Ibu” miliknya Band Ungu. Bisa dipastikan, air mata saya tanpa sadar akan terurai sendiri.

 “ Oh Ibu terima kasih. Untuk kasih sayang yang tak pernah usai. Tulus cintamu takkan mampu untuk terbalaskan………..”

Iwan Fals, Melly Goeslow dan band Ungu (Pasha cs) bukanlah musisi biasa di Tanah Air. Mereka adalah musisi-musisi besar yang pernah kita miliki. Pun tak lupa mereka memberi apresiasi untuk seorang Ibu.

Makanya, saya tak takut dicap cengeng, saat orang-orang sekitar memergoki saya menangis ketika mendengarkan lagu-lagu tadi. Karena bagi saya, dari setiap tetes air mata yang jatuh adalah sebuah doa: Semoga Allah memberi kesehatan dan kebahagiaan untuk mereka, Ibu dan Ayah saya.

“Tangan halus dan suci. Telah mengangkat diri ini. Jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan………….”

Saya tergolong orang yang beruntung. Allah masih memberi kesehatan dan usia yang panjang bagi Ibu dan Ayahku. Dan saya juga sadar, sampai usianya yang kini mencapai 54 tahun, saya belum dapat memberi kebahagiaan seutuhnya buat beliau. Bahkan kadang, tanpa sadar, aku merampas kebahagiaan mereka. Karena dengan masalah yang sering saya hadapi, membuat mereka menjadi terbebani, sesuatu yang tak pantas mereka terima di sisa hidupnya.

“Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu. Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku. Dengan apa membalas…ibu…ibu…. “

Pesan yang selalu mereka ingatkan ke saya hanya satu: SHALAT. Karena  bagi mereka, kebahagiaan itu akan datang sendirinya jika melihat anak-anaknya tetap menjalankan kewajiban itu. Dan bodohnya, aku teramat jarang melaksanakan ibadah shalat ini secara rutin.

Ibu, betapa aku telah durhaka ke padamu……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s