wisata

Razia Anak Punk di Aceh, Dunia Protes


Razia anak punk yang dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh menuai kontroversi.  Pembaca sejumlah media massa internasional protes sejak diberitakan di Daily Mail, Washington Post, Strait Times.

Rata-rata pembaca media bertiras besar dari Inggris dan Amerika Serikat itu memprotes kesewenang-wenangan aparat daerah yang melakukan pencukuran paksa para punker berambut Mohawk dan tindikan dicopot. Tak hanya itu, mereka juga harus menjalani pelatihan militer.

Mereka menilai penangkapan dan cara pembinaan yang dilakukan aparat setempat sebuah pelanggaran HAM dan tidak berprikemanusiaan.

I can only laugh at this idiocy (Saya hanya bisa menertawakan kebodohan ini),”komentar, Tejas yang berasal dari Mumbai, India di laman dailymail, koran bertiras besar asal Inggris.

Why do people judge by the music people listen to?? How is shaving someones hair and subjecting them to this..its sick!! Definitely is a violation of human rights! Saying we should chuck in all the ‘goths, punks’ etc…what is wrong with you?? Everyone is an individual and should b respected for that! Just because they listen to heavy music and don’t follow today’s ‘fashion’ does not make them any different! People carrying out this act are animals! (Mengapa orang menghakimi orang yang memiliki aliran musik berbeda?? (Bagaimana mungkin seseorang menyalahkan dan mencukur rambut mereka seperti ini. Sakit !! Sudah pasti ini pelanggaran HAM! Apa  yang salah dengan anak punks?? Itu adalah hak individidu setiap orang yang harus dihormati! Hanya karena mereka mendengarkan musik yang berat dan mengikuti ‘fashion’ yang berbeda, tidak membuat mereka salah! Saya kira orang-orang yang melaksanakan undang undang ini adalah binatang!)” kata pengunjung dailymail lainnya dengan identitas Welsh One, Cardiff.

This slideshow requires JavaScript.

Penertiban anak punk itu bermula dari penertiban konser musik di Taman Budaya Banda Aceh yang ditengarai tak mengantongi izin, akhir pekan lalu. Dari situlah terjaring sebanyak 65 anak punk yang berasal dari Kota Banda Aceh, Lhokseumawe, Tamiang, Takengon, Sumatera Utara, Lampung, Palembang, Jambi, Batam, Riau, Sumatera Barat, Jakarta dan Jawa Barat.

Razia dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh bekerjasama dengan Kepolisian Aceh. Para punker lalu dibina di Aceh di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Seulawah. Pembinaan selama 10 hari itu bertujuan untuk mengubah gaya hidup dan penampilan anak punk yang dinilai bertentangan dengan norma dan mengganggu penerapan syariat Islam di kota Banda Aceh.

Selain diprotes masyarakat internasional, pembinaan itu mendapat reaksi dari kalangan aktivis sipil di Aceh. Seperti dinukil dari vivanews, penangkapan anak punk juga menjadi perhatian Kontras Aceh dan Komnas Perlindungan Anak. Mereka menilai upaya pembinaan tersebut cacat hukum dan dianggap over-reaktif.

“Atas dasar apa mereka ditahan dan dibina dengan cara-cara militer, kenapa tidak di panti sosial atau lembaga lain saja. Konstitusi kita menjamin kebebasan berekspresi sejauh tidak melanggar aturan yang ada,” kata Koordinator Komisi orang hilang dan tindak kekerasan (Kontras) Aceh, Hendra Fadli, Kamis (15/12/2011).

Hendra menyebutkan, jika memang dalam konser itu terdapat beberapa anak punk yang melanggar hukum, maka hanya beberapa saja yang ditahan. Pembinaan dengan dalih syariat sama sekali tak mendasar.

“Kalau memang terbukti ada yang melanggar hukum seperti menggunakan narkoba atau melanggar hukum syariat, maka harusnya hanya individunya saja  yang ditangkap bukan semuanya,” ujarnya.

Kontras bersama lembaga lainnya akan melakukan upaya advokasi terhadap anak punk yang ditangkap itu. Dia juga mendesak Komnas Perlindungan Anak untuk menginvestigasi kasus penangkapan ini.

“Komnas Perlindungan Anak harus menyelidiki apakah ada anak di bawah umur yang ditahan dan dididik dengan cara militer seperti itu. Karena itu melanggar hak anak,” katanya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan, penertiban anak punk itu karena mereka dinilai meresahkan dan memengaruhi generasi muda di Banda Aceh untuk mengikuti gaya hidup mereka.

“Ini untuk meminimalisasi ajaran sesat dan perilaku yang menyimpang dari norma dan agama. Jika kita biarkan, perilaku mereka akan mempengaruhi generasi muda Aceh,” katanya.


Baca di sini: http://www.dailymail.co.uk/news/article-2073990/Rock-fans-heads-shaved-cleansed-river-Islamic-law-crackdown.html

http://www.washingtonpost.com/blogs/blogpost/post/indonesian-police-arrest-punk-rockers-shave-off-mohawks/2011/12/14/gIQA2zt6tO_blog.html?wprss=blogpost

6 thoughts on “Razia Anak Punk di Aceh, Dunia Protes

  1. POLISI N ORMAS=manusia tak berhati nurani,manusia munafik,manusia berakhlak iblis,coba ngaca dech… sblum brtindak,sudah sempurna kah hidupnya,sesuci apa dirinya,DASAR MANUSIA TAiiiiiiii ANJING SEMUA.(HIDUP ANAK PUNK0

  2. kalau NAD memang gudang para GAM termasuk PARA PEJABAT PEMERINTAHAN, penegak hukum juga termasuk orang kafir (kalau di agama islam), kalau tsunami aja dunia ikut bantu mbangun nah kalau gubernurnya GAM YA….. payah malah cari keuntungan

  3. itu kawan gue,,
    tegar lah kawan ku jngan tkut aku akan slallu mndukung mu,,
    punk ga akan pernah tkut sma yang nma nya pp dan punk tidak akan mati,,
    punk street garut,,
    pasukan saraf,,
    jerry,,

  4. apabila setiap anak muda Indonesia menganut budaya dan filosofi punk, tak lama bangsa ini akan hancur, karena tak ada lagi generasi yang sehat dan cerdas pemikirannya yang akan mengurus keberlangsungan ekonomi dan pemerintahan bangsa ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s