navigasi

Rekening Gendut PNS Kita

                                                         Isu korupsi di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi headline dalam pemberitaan Kompas dua hari terakhir (Kamis-Jumat, 8-9 Desember 2011). Pemberitaan ini berangkat dari temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tentang rekening gendut PNS yang mencapai milyaran rupiah.

Kasus ini menjadi sorotan ketika Wakil Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso, membeberkan ada 10 PNS yang memiliki rekening miliaran rupiah, jauh dari gaji dan pendapatan resminya.

Agus yang baru sebulan menjabat, sempat shock karena temuan rekening miliaran rupiah itu justru oleh PNS berusia muda, bukan pejabat-pejabat senior. Tetapi PNS golongan III B yang memegang proyek miliaran rupiah.

Yang membuat Agus bertambah shock, sebab modus yang dilakukan oknum PNS tadi cukup rapi. Uang yang diduga hasil korupsi tadi dibuat atasnama (rekening) istrinya. Si istrinya lalu memecah lagi ke anaknya yang usia lima bulan untuk diasuransikan Rp 2 miliar. Sementara anaknya yang berusia lima tahun diasuransikan pendidikan sebesar Rp 5 miliar. Bahkan kata Agus, uang itu juga dikirim ke ibu mertuanya.

Sejujurnya, temuan PPATK ini tidak terlalu mengejutkan. Sebab praktik ini banyak terjadi di daerah. Hanya besaran uang yang dikorup dan modus mengkorup uang negara saja berbeda.

Karena sesungguhnya PNS golongan III, adalah motor penggerak di setiap lembaga pemerintahan. Mereka menguasai seluruh item anggaran di lingkungan kerjanya. Bahkan, biasanya PNS di golongan III inilah yang bertugas menyusun setiap perencanaan kerja, termasuk segala proyek dan kebutuhan-kebutuhan dinas setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Ada kisah seorang teman, yang tiga tahun lalu lulus testing PNS. Ia kemudian ditempatkan di sebuah kabupaten kota yang baru saja dimekarkan. Satu hari saat libur Idul Fitri, tanpa sengaja dia curhat kepada saya tentang pengalamannya menjadi PNS. Bukan cerita enak yang saya dengar. Dia mengeluh, karena ditugasi atasannya untuk membuat laporan keuangan bodong, alias fiktif.

Semula dia menuruti saja. Karena toh kerjanya tak ada, selain membuat laporan keuangan tadi. Perintah itu dia lakoni terus. Mulai membuat laporan per tri wulan, enam bulan hingga untuk akhir tahun, sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban keuangan kantor dinas tempatnya bekerja.

Hati nuraninya sebenarnya berontak, karena dia harus menyusun laporan keuangan terhadap sebuah pekerjaan yang tak pernah ada. Tekanan mental semakin tinggi, sebab dia harus membuat sendiri setiap item pengeluaran untuk disesuaikan engan anggaran yang diterima. “Mereka yang makan uangnya,  awak yang capek,” begitu istilahnya.

Yang membuatnya khawatir adalah, suatu hari dia harus bertanggungjawab secara hukum atas laporan tadi, bila sewaktu-waktu dilakukan audit. “ Aku bisa saja di kambinghitamkan atasan karena dituduh membuat anggaran fiktif.”

Berangkat dari kisah teman tadi, saya kemudian menyimpulkan, ada begitu banyak PNS muda yang masih memiliki hati nurani. Tapi atas nama pekerjaan mereka tak bisa menolak. Apalagi misalnya, mereka kecipratan rezeki.

Tapi untuk PNS yang sudah terlanjur basah dan keenakan atas rezeki tadi, justru akan semakin dinikmati. Pengalaman bertahun-tahun menyusun anggaran, membuat mereka “matang”. Istilahnya, kalau bisa jangan cuma receh yang dapat, tapi goninya.

Itulah barangkali yang terjadi dalam temuan PPATK. Sejak dini, para PNS ini sudah ditempah pimpinannya untuk menjadi koruptor. Nah, begitu mendapat ruang, maka kesempatan takkan disia-siakan. Bak kata pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing menari. Tak heran jika korupsi di lingkungan pemerintahan, berlangsung sistemik.

Rincian Gaji PNS 2011, dari golongan terendah ke tertinggi:

Pegawai Golongan I a dengan masa kerja 0 tahun Rp.1.175.000

Pegawai Golongan I a dengan masa kerja 10 tahun Rp.1.346.800

Pegawai Golongan I a dengan masa kerja 26 tahun Rp.1.675.200

Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 0 tahun Rp.1.505.400

Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 11 tahun Rp.1.749.600

Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 21 tahun Rp.2.004.900

Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 33 tahun Rp.2.361.400

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 0 tahun Rp.1.902.300

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 10 tahun Rp.2.180.300

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 20 tahun Rp.2.499.000

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 32 tahun Rp.2.943.400

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 0 tahun Rp.2.245.200

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 10 tahun Rp.2.537.300

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 20 tahun Rp.2.949.400

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 32 tahun Rp.3.473.900

Sementara itu, untuk pejabat eselon I (golongan IV d dan golongan IV e adalah)

Golongan IV d masa kerja 0 tahun Rp2.542.300

Golongan IV d masa kerja 10 tahun Rp2.913.900

Golongan IV d masa kerja 20 tahun Rp3.339.700

Golongan IV d masa kerja 32 tahun Rp3.933.600

Golongan IV e masa kerja 0 tahun Rp2.649.900

Golongan IV e masa kerja 10 tahun Rp3.037.100

Golongan IV e masa kerja 20 tahun Rp3.481.00

Golongan IV e masa kerja 32 tahun Rp4.100.000.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s