navigasi

Zubaidah

Pukul 3 dinihari. Tiba-tiba cacing di perut saya berteriak, lapaaaarrr !! Benar-benar tak ada kata kompromi saat itu. Maka bergegaslah saya mencari makanan di luar rumah. Maklum, sembako di rumah lagi kosong karena bulan tua.

Sambil menikmati semilir angin malam, sepeda motor saya arahkan ke simpang Titi Kuning di Jalan Abdul Haris Nasution, Medan. Di kawasan lapangan sepakbola Sejati itu terkenal sebagai pusat jajanan rakyat yang murah meriah. Ratusan menu yang tersaji dari balik steling para pedagangan itu barangkali bisa menuntaskan rasa lapar tadi.

by Dedy Ardiansyah

Begitu sampai, saya justru tak melihat ada keramaian. Sepi. Benar-benar sepi. Hanya sejumlah pria yang tengah bersiap menutup gerai dagangannya. Menggulung tenda plastik, mencuci piring, membersihkan kompor, menyusun kursi dan menyapu areal tempatnya berdagang agar kembali bersih.

“Pulang,” kata seorang pedagang nasi goreng langganan saya. “ Lagian sudah habis bang, hari ini kita belanja pas-pasan saja,” sambungnya.

Tanya punya tanya, ternyata para pedagang di situ diberi deadline berjualan. Esok paginya kawasan itu sudah harus bersih dari gerobak dagangan. Saya teringat jika beberapa pekan terakhir Walikota gencar menertiban pedagang kaki lima. Lihat, bagaimana pedagang di Pasar Sei Kambing, Pasar Petisah dan Pasar Sambu, digusur Sat Pol PP dari badan jalan tanpa kompromi.

Pro kontra memang ada setelahnya, namun penggusuran itu berhasil membuat jera para pedagang untuk berjualan kembali. Dan kebijakan itu berdampak luas ke penjuru kota.

Pak Wali memang ingin mengembalikan citra Kota Medan dari kesemrawutan. Merebut kembali Piala Adipura yang tiga tahun berturut-turut melayang sehingga Medan dijuluki sebagai kota terjorok di Indonesia. Lalu, adakah yang salah dari kebijakan ini?

Adalah Yusuf, nama pedagang nasi goreng langganan saya itu. Dia masih muda, masih lajang dan hanya tamatan SMA. Tiga tahun lalu, setelah pinjam sana sini, dia merintis usaha tersebut. Beberapa tahun kemudian, tempat dagangannya ramai, terutama menjelang dini hari. Konsumennya, ya, mungkin orang-orang seperti saya, yang kelaparan ketika malam menjelang.

Saya kebetulan pernah membuat tulisan tentang usaha si Yusuf ini beberapa tahun sebelumnya. Dari dia saya tahu jika pengorbanannya bergadang hingga pagi itu dapat menutupi kebutuhan keluarga, membiayai dua adiknya bersekolah dan tentu saja membuatnya happy sebagai manusia. “Daripada menganggur dan jadi berandalan, lebih baik saya punya usaha sendiri. Yang penting halal kan bang,” katanya.

Ya saya setuju, walaupun dalam hati sedikit iri karena penghasilannya perbulan ternyata lebih besar dari gaji saya sendiri. Soal berapa besar jumlahnya, biarlah itu menjadi rahasia kami. Tapi yang tidak boleh dirahasiakan adalah bagaimana nasib mereka setelah kebijakan Pak Wali.

Saya tidak dalam posisi menyalahkan Pak Wali melakukan penggusuran para pedagang kaki lima itu. Tapi saya kok jadi teringat ucapan seorang teman di facebook. Katanya begini ; “Ketika pedagang kaki lima habis digusur, maka Medan akan menjadi kota mati dan makin banyak korupsi. Karena tempat belanja dan nongkrong sudah pindah ke mall yang serba mahal dan topik pembicaraan pasti juga tak merakyat lagi. Karena yang dilihat orang-orang dengan gaya, style tinggi.”

Seketika saja alam sadar saya menyetujui pendapat tersebut. Membandingkan kontradiktifnya suasana mall yang sejuk dengan duduk di bawah tenda biru para PKL. Di mal kita tak bakal temui curhat para tukang becak yang dongkol setelah membaca berita pejabat memakan uang rakyat milyaran rupiah. Atau merasakan tempat yang kita duduki tiba-tiba tergenang air karena hujan akibat selokannya tumpat. Di mal, kita juga tak bakal mendengar lagu dangdut lawas Mansur S berjudul Zubaidah yang kebetulan dini hari itu, menutup sua kami. Suasana ini benar-benar sangat merakyat sekali.

Bandingkan jika duduk di satu restoran mal. Sudah barang tentu pakaian harus rapi, wangi dan berpenampilan trendi. Jika niatnya untuk bersantai, tentu yang dibicarakan seputar surga duniawi. Ketawa hahahihi sembari melirik kanan kiri. Untung-untung pembicaraan seputar profesi, tapi jika yang terlihat seorang putri duduk sendiri, wahhh….bisa lupa anak bini. Kalaulah nongkrong di mal sudah menjadi tradisi para pejabat negeri, maka ujung-ujungnya akan melahirkan korupsi. Memperkaya diri sendiri demi harga diri dan gengsi, dus menggaet wanita seksi.

Banyak kisah pejabat negeri yang terjebak dalam kondisi ini. Anda ingat kasus Ketua KPK Antasari yang didakwa melakukan konspirasi pembunuhan tingkat tinggi, lantaran tak ingin berbagi hati gara-gara si cantik Rani, yang seorang caddy? Atau kisah wakil rakyat Yahya Zaini yang adegan syurnya dengan aktris pedangdut Maria Eva beredar di televisi? Kenapa fenomena ini bisa terjadi?

Barangkali mereka melupakan jati diri karena saban hari tak perduli akan nasib rakyatnya sendiri. Terlena atas jabatan dan melupakan sumpah janji sebagai pengabdi yang harus melayani. Tentu, tulisan ini bukan sebagai alat justifikasi melainkan resonansi diri untuk Pak Wali.

Kebijakan penggusuran pedagang kaki lima di Kota Medan sudah terbukti sakti dan dipuja-puji, hanya saja tanpa solusi. Seperti kisah Jokowi (Joko Widodo-Walikota Solo) yang sukses mengangkat martabat PKL menjadi saudagar di kampung sendiri. Relokasi yang disambut dengan gempita hati dan disyukuri karena mampu mendongkrak PAD sendiri.

Nah Pak Wali, apa Anda tak ingin berkenalan dengan Zubaidah. Atau justru lebih tertarik mengenal Maria Eva dan si cantik Rani? Pilihannya ada di hati Anda sendiri.

::dedy ardiansyah::
pojok kota- Medan 21 Oktober 2009

komentar di facebook

  • Hendra Mulya

    bagus bang tulisannya, ga sia2 abg jadi guru ku… semua yang ada ditulisan abg itu memang benar… seharus PKL di tata… bukan di gusur… karena mereka memerlukan tempat untuk mereka memenuhi kebutuhan keluarganya… kalau hanya cuma men…ggusur aja… bagus walikotanya kita gusur… biar tau dia pahitnya dunia ini… seharusnya dia bisa berfikir, apa yang harus dia berikan kepada rakyatnya… jangan dia berfikir apa yang rakyatnya pernah beri ke dia… tanpa disadarinya… gaji besar dia itu datangnya dari rakyatnya…buat apa dia kita beri gaji bila dia tidak bisa memberikan solusi yang terbaik bagi rakyatnya… apakah lebih penting piala adipura ketimbang kesejahteraan rakyatnya…? maaf sedikit kasar… habis awak kesal kali liat wali kota yang satu nie…See More
    October 21, 2009 at 2:13am · LikeUnlike
  • Sofyan TanTulisan yg menggugah,PKL adalah pengaman keamanan kota medan,sektor yg mencegah penggangguran yg menjadi masalah kota Medan,solusi gaya walikota Solo perlu ditiru n dicontoh termsk pengurusan izin satu atap yg meningkatkan PAD di Solo

    October 21, 2009 at 7:33am · LikeUnlike
  • Elvi SumantiTulisan menarik Ded, tapi apakah Walikota punya account FB untuk membacanya ? hehehe

    October 21, 2009 at 9:13am · LikeUnlike
  • Mohammad Reza AliSetuju bng! Tak cocok perut kta makan Salmon Shasimi, Fried Rice atau makanan2 mewah lainnya! Masih enak nasi perang nya Warkop Rahman lagi bng!

    October 21, 2009 at 9:56am · LikeUnlike
  • Guntur Adi Sukma pak dediiii, bulan tua tapi makin banyak duit, yaaa?
    soalnya, biasanya kalo lagi bulan tua, kebanyakan orang ngutang, pak dedi malah jajan…
    hehehehe, jangan marah, bos. just a kidding!

    October 21, 2009 at 4:00pm · LikeUnlike
  • Dedy Ardiansyah‎@guntur, itulah enaknya jajan di PKL langganan, bisa ngutang. Coba nongkrong di mall, apa bisa??? Tuhkan, jadi ketauan deh ngutangnya.Hahahaha…..

    October 21, 2009 at 4:11pm · LikeUnlike
  • May HollandI’d better see this on HG tomorrow!🙂

    October 21, 2009 at 7:11pm · LikeUnlike
  • Dedy Ardiansyahnot tomorrow ya bu. i have my own plan for HG..🙂

    October 21, 2009 at 8:57pm · LikeUnlike
  • Andriadi TjhinDicari pemimpin yg memahami kekuatan ekomi kerakyatan dan dapat mengubah kaki lima yg semerawut menjadi kekuatan ekonomi rakyat dgn motto.. Rasa kaki lima harga kaki lima.

    October 21, 2009 at 9:49pm · LikeUnlike
  • Dedy Ardiansyahtengkiu pak andri. saya setuju ide anda. warna dari tulisan ini sebenarnya juga untuk mengajak pak wali (siapapun dia nantinya), supaya mencari solusi yang pas untuk para pedagang kaki lima itu. buktinya, solo, yang sangat sukses menata PKL.btw, thanks, sudah bisa berbagi. salam kenal tuk pak andri.

    October 21, 2009 at 10:13pm · LikeUnlike
  • Rion Aritonang

    Kita yang lebih paham diharuskan memberikan pengertian kepada yg belum paham. Sudah selayaknya lebih di depan untuk menyuarakani seperti apa yg lebih tepat untuk dilakukan si walikota untuk melayani masyarakat.Sayang dia duduk jadi pj Wali…kota bukan karna pilihan rakyat, dia hanya tunduk ama abah Syamsul yg udah jadi Gubsu. Dia mengemban tugas politis untuk menyenangkan orang2 yg telah mendukung dia untuk duduk di Pemko Medan, kita jangan lupa itu.Maka kita harus persiapkan penggantinya, seperti yg disampaikan Hendra Mulya, digusur aja meski tinggal bbrp bulan lagi. penggusuran itu merupakan pesanan diakhir jabatan, silahkan kita kita mau lakukan apa……See More

    October 21, 2009 at 11:31pm · LikeUnlike
  • Restu Bumi

    Banyak kisah pejabat negeri yang terjebak dalam kondisi ini. Anda ingat kasus Ketua KPK Antasari yang didakwa melakukan konspirasi pembunuhan tingkat tinggi, lantaran tak ingin berbagi hati gara-gara si cantik Rani, yang seorang caddy? Atau… kisah wakil rakyat Yahya Zaini yang adegan syurnya dengan aktris pedangdut Maria Eva beredar di televisi? Kenapa fenomena ini bisa terjadi?>> saya juga heran, kok ente pinter merangkai kalimat demi kalimat dengan akhiran i ?? salute!See More
    October 22, 2009 at 12:20am · LikeUnlike
  • Novie Wulandari selamat y pak wali…obsesimu it buat perut dn nasib pndi2kan warga tak mampu menjerit…mgkn akan smkin byk pengangguran d pnggir jln. ato mreka akn kmbali jd preman…
    bijaksanalah sdikit pak…(yg penting bg kumis ga ikut d gusur kan bg ded?hehehe)

    October 22, 2009 at 5:16am · LikeUnlike
  • Erika Yunifaluar biasa tulisan mu dedy….. aku terharu dan terkesan bacanya….. terkadang kehidupan “mereka yang tergusur” inilah yang menahan kita tidak jadi manusia Egois… menahan kita untuk hidup kucar kacir mengejar materi yang akhirnya membuat hidup jadi Naif…Tak ada yang salah dari “tergusurnya mereka”, hanya saja Walikota bertindak terlalu cepat hanya untuk meraih Plakat, berburu waktu dengan jabatan dan pangkat!

    October 22, 2009 at 4:11pm · LikeUnlike
  • Pandapotan Silalahimantap boz. edisi bersambung?

    October 22, 2009 at 7:36pm · Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s