opini

Saya Walikotanya!

Dalam sebuah talkshow baru-baru ini, saya berkesempatan berjumpa langsung dengan Penjabat Walikota Medan, Rahudman Harahap. Acara itu digelar di hotel berbintang dan disiarkan live oleh radio Prapanca. Panitia talkshow mengundang saya sebagai satu dari tiga komentator yang menilai kinerja beliau selama 100 hari menjabat.

Hmm…. seperti sepakbola saja, harus ada komentatornya, batin saya dalam hati. Tapi, tak apalah. Kebetulan saya memang punya bakat menjadi komentator sepakbola, dan kebetulan pula belum pernah bertatapan langsung dengan Pak Wali yang kontroversial itu.

by Dedy Ardiansyah on Thursday, October 29, 2009 at 11:59pm


Selain Rahudman Harahap, narasumber lain adalah Wakil Ketua DPRD Medan defenitif Sabar Syamsurya Sitepu dan pengamat perkotaan Rafriandi. Sebelum acara dimulai, hati saya sempat berseru jika talkshow akan berlangsung alot, layaknya pertandingan Liverpool vs Manchaster United (MU), akhir pekan lalu.

Saya menyerupakan Sabar Sitepu dan Rafriandi tombak kembar MU yang bertugas membuat gol ke gawang Liverpool, dalam hal ini Rahudman Harahap yang berlakon sebagai tuan rumah. Antara MU dan Liverpool selama ini dikenal musuh bebuyutan. Aroma dendam selalu membayangi setiap pertemuan mereka. Dalam laga tersebut, ternyata Liverpool berhasil memperdayai MU, sang jawara Liga Inggris itu. Liverpool menang, 2-0. Sangat telak!

Tapi drama di stadion Anfield itu tidak singgah di acara talkshow tersebut. Dua ujung tombak MU (Sabar Sitepu dan Rafriandi) tak berdaya, bahkan berkesan hilang gairah untuk beradu argumen ataupun mengkritik kebijakan Pak Wali, yang bagi sebagian masyarakat lainnya terkesan tidak manusiawi dan tidak berkeadilan.

Hmm… saya tersenyum dalam hati. Teringat laga Indonesia versus Thailand di ajang Tiger Cup 1998 lalu. Kala itu pemain Indonesia, Mursyid Effendi sengaja membuat gol bunuh diri demi mengamankan laju Timnas untuk maju ke final.

Apakah dalam talkshow tersebut juga ada aroma ”bermain sabun”? Saya tak berani menduga-duga. Tapi Sabar Sitepu mengaku sudah memberi penilain proporsional, sesuai peran dan fungsinya sebagai wakil rakyat. Pun demikian Rafiandi, yang mengatakan Pak Wali sudah melakukan tugasnya sebagai Walikota.

Tapi di mata saya, yang diplot sebagai komentator, tidak melihat begitu. Sebagai wakil rakyat dan seorang pengamat perkotaan, harusnya mereka bisa lebih kritis memberi penilaian atas kinerja Pak Wali. Bukan jusru memberi argumen lempang seperti jalan tol.

Lihat. Para pedagang kaki lima berulangkali berdemo ke DPRD dan kantor Walikota Medan karena lapak-lapak mereka digusur tanpa ampun. Mereka tidak terima, karena Pak Wali mematikan mata pencaharian yang telah berpuluh tahun lamanya dilakoni. Mereka digusur tanpa alternatif solusi.

Apalagi pengggusuran dilakukan saat mereka akan menuai rezeki tahunan, di bulan Ramadan dan jelang Idul Fitri. Kini sebagian mereka bingung mau berusaha apa. Di tengah kebingungan itu, maka jadilah mereka pengangguran. Ini menjadi problem baru lagi bagi kota Medan.

Dalam talkshow yang dibatasi oleh durasi itu, giliran saya yang berkomentar. Saya katakan begini; Pak Wali, kebijakan Anda sebenarnya baik dan di puja-puji. Tapi saya tidak habis pikir, kalau alasan penggusuran PKL itu hanya untuk membuat jalanan menjadi lancar, lalu bagaimana dengan mal atau sekolah-sekolah di tengah kota yang selama ini juga dikenal sebagai sumber kemacetan?

Pada bagian lain saya juga menyebut kebijakan Pak Wali tebang pilih, karena berani menggusur PKL, tapi tidak bangunan liar di Jalan Gagak Hitam? Bukankah saat itu tim Anda sudah komplit bahkan buldozer sudah berada di lapangan? Kenapa mundur?

Oia satu lagi, penertiban iklan di bundaran Majestik juga jadi preseden buruk. Cekcok di lapangan berjam-jam sampai tengah malam, eeh esok paginya diklarifikasi karena terjadi miss koordinasi. Bagi saya itu aneh Pak. Kata saya, kebijakan-kebijakan itu berkesan untuk menaikkan rating Anda jelang Pilkada 2010. Ketiga masalah itu adalah catatan saya selama 100 hari Anda bekerja.

Pak Wali menarik nafas sejenak mendengar komentar saya. Dia lantas bilang begini; ”Saya hanya melakukan tugas sebagai walikota. Dengan keterbatas waktu tugas sebagai Pj Walikota yang hanya setahun, saya harap bisa memberi arti bagi Walikota Medan mendatang. Jadi tak ada pencitraan atau tebar pesona. Kalau memang saya ingin tebar pesona, saya cukup panggil artis, sponsornya bisa banyak.”

Giliran saya yang menarik nafas. Terutama saat beliau mengatakan; ”Saya walikotanya! Di Medan ini hanya ada satu walikota.” Ini jawaban Rahudman atas pertanyaan saya soal pergesekan antara dirinya dengan Sekda, yang disebut-sebut bakal bersaing dalam Pilkada mendatang. Apalagi menurut Sabar Sitepu, kebijakan walikota selama ini justru tidak didukung aparatur di bawahnya.

Saya tidak dalam posisi memberi closing statement dalam talkshow itu, tapi saya anggap pernyataan beliau sudah cukup. Saya lega, karena kegelisahan masyarakat Medan dapat saya sampaikan secara langsung.

Ketika acara berakhir, saya teringat pernyataan seorang teman di facebook. Menurutnya begini; “Harus jujur, di tangan Rahudman lah Medan seperti punya walikota. Saya yakin kalau dia diberi kesempatan 5 tahun lagi, Medan akan lebih baik sebagaimana yang kita harapkan. Dukung Rahudman, yuk!” ajaknya. Saya tidak membalas komentar itu. Terserah teman tadi menyimpulkan, apakah saya menyetujui atau tidak ajakannya itu……

Dedy Ardiansyah
291010
Harian Global
Pojok Kota | Medan Menuju 2010

komentar di facebook

LikeUnlike · · Share · Delete

    • Non Len PasaribuSaya siapa donk?

      October 30, 2009 at 12:22am · LikeUnlike
    • Hendra Mulya

      tidak abang samapaikan salam jari tengah ku ma rahudman… apa sudah difikirkannya relokasi untuk para PKL ini bang…apa dia memikirkan berapa jumlah orang yang celaka akibat jalan berlubang. tadi pagi awak liputan masalah penggusuran PKL …dikawasan pancing. ketika awak pulang melintasi jalan William Iskandar yang kebetulan banjir. awak pun mengurangi kecepatan sepeda motor. tepat di sebelah awak ada dua wanita mengendarai sepeda motor supra. tiba2 dia terjatuh dan bajunya basah. ternyata digenangan air itu terdapat lubang besar. karena tergenang air, lubang tersebut tidak keliatan. apakah itu yang disebutnya keindahan kota. apa itu yang dia sebut untuk memperlancar arus lalu lintas…
      October 30, 2009 at 12:37am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Non. bacalah. non akan tau siapa walikotanya. hehehe

      October 30, 2009 at 12:46am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Hendra. kalau PKL yang di pancing itu masuk ke wilayah kab. deliserdang. termasuk barangkali, dimana dua wanita jatuh ke dalam kubangan itu. memang agak membingungkan. perbatasan medan-deliserdang di sana cuma dipisah median jalan. mungkin karena itu pula, soal penggusuran PKL bisa cepat sampai ke tetangga. dah kayak penyakit menular dia.soal pesanmu itu, taklah seekstrim itu…hehehehe…

      October 30, 2009 at 12:53am · LikeUnlike
    • Hendra Mulyatapi 50 porsonil dari pemko medan juga turut serta dalam pengeksekusian itu bang… berarti ada kerjasama antara pemko medan, deli serdang dan pemprovsu… jadi bingung awak liat walkot yang cuma sementara nie…

      October 30, 2009 at 1:00am · LikeUnlike
    • Erika Yunifa

      hihihii…. keren bang…. napa pulang tak kau ajak aku bang…. pengen kali aku kenalan ma si Rahudman itu… pengen tau aja style dia bicara, karena dari situ pun mungkin aku bisa menebak “apa dia pas jadi pemimpin kota medan ini”… set…idaknya bisa ku pengaruhi org2 disekitarku… mau Rahudman atau si Polan… hihihi… Rahudman Rahudman… hebat kali dia yaa bisa manarik perhatian org2 di medan ini… jago marketingnya dia bang…
      October 30, 2009 at 1:08am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Ika. thanks kakak. tapi sebenarnya dah kuundang juganya kawan-kawan tuk hadir di acara itu. lihat postinganku di bawah ini. bahkan di status itu juga, panitia juga dah titip nomer telp yang bisa diajak tuk interaktif. hehehe…

      October 30, 2009 at 1:10am · LikeUnlike
    • Erika Yunifatau gitu datang awak bawa kan ombus ombus untuk si Rahudman…

      October 30, 2009 at 1:14am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyahombus-ombus? waaah…. enak juga itu… hehehe…

      October 30, 2009 at 1:19am · LikeUnlike
    • Erika Yunifa aku pun tak pernah makannya…. ded, ajarin gue nulis dunk…. gue tak pernah percaya diri untuk di publikaskan…
      ntar ada waktu kita ngobrol2 panjang yaaa…..

      October 30, 2009 at 1:21am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyahhehehe…. boleh..boleh…aku juga gak pede, tapi ya, harus di pede-pedekan. namanya juga aku masih belajar kak…

      October 30, 2009 at 1:27am · LikeUnlike
    • Efendy Naibahosayalah yg lebih pas jd walikota, krn sy sudah melihat medan sejak tahun 1955 yl, saya lahir di rsupp / pirngadi medan tahun itu. visi saya juga cuma lima saja: bebas macet, bebas banjir, bebas sampah, bebas jalan berlubang dan bebas pungli. hebat kan?

      October 30, 2009 at 6:45am · LikeUnlike
    • Billy Khaerudinseperti biasa, kalau ada kontes beginian, apalagi di Medan, semua merasa menjadi paling bisa

      October 30, 2009 at 7:04am · LikeUnlike
    • Avian Tumengkol

      Andaisaja talkshow ini digelar hari ini, tentu pertandingan Arsenal menaklukkan Liverpool 2-1 menjadi ilustrasi. Sebagai pendukung fanatik The Gunners, saya menyayangkan MU yang dijadikan ilustrasi :)Pemikiran bung Dedy diatas ini menarik dan menyejukkan, meski tidak membalas ajakan saya untuk ‘ngopi-ngopi’ di Sumut Expo sambil menggali bersama beberapa permasalahan yg terjadi di Medan kita ini, khususnya yg berkaitan dgn walikota kita, yang dimata saya, belum berbuat apa2.Namun meski bung Dedy tak respon, setidaknya saya bisa menikmati sore yang sejuk bersama bung Brilian Mokhtar di stand Waspada Online sambil beliau konsultasi lingkungan dengan pemerhati Waspada Online bidang lingkungan, yang juga Puteri Indonesia Lingkungan 2008, asal Bali.Dari saya, sangat sederhana. Harus ada yang bisa berbuat yang lebih ‘berani’ mengalahkan keberanian abangda Rahudman. Kadang ucap kata dan tulis tinta tak cukup, khususnya bagi mereka yang ‘tak punya malu’ dan tak punya kepedulian terhadap opini publik, seperti Rahudman, menurut saya.Siapa yang berani itu, akan menjadi pendorong kita semua untuk bsa bersama memajukan Kota Medan secara adil dan membangun. Forum publik ini tak cukup untuk itu. Sangat perlu kita bergabung, untuk menggelar suatu forum khusus membahas ini.

      Lagi-lagi, Waspada Online siap mendukung…

      PS: Kehadiran Bung Dedy masih kami tunggu di Stand 76 Sumut Expo😀

      October 30, 2009 at 7:41am · LikeUnlike
    • Choking Susilo Sakeh

      berapa persenkah masyarakat medan yang cerdas secara politik? yang memilih berdasarkan visi-misi & jejak rekam kandidat? jangan2 hanya 0,010?. cerdas secara politik tdk ada hubungannya dgn tingkat pendidikan dan tingkat kesejahteraan. sebah…agian besar adalah pemilih pragmatis : berapa kau bayar suaraku!.
      karenanya, jangan berharap banyak dari pilkadal-pilkadal pemiu di negeri ini sepanjang kecerdasan politik pemilih mash rendah, kecuali hanya menghasilkan kadal-kadal & badut2!
      October 30, 2009 at 8:02am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Bang fendy. Berminat juga ya bang…
      @8illi. Tapi tidak saya bung..hehehe..

      October 30, 2009 at 9:27am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah

      ‎@Bung Avian. Waahh.. Pasti seru laga arsenal vs liverpool. Duh, kok rasanya lega ya, dendam terhadap liverpool dituntaskan meski oleh d’ gunner’s. Bravo MU….hehehe…Soal undangan ngopi di sumut expo, maaf saya tak langsung merespon. Tap…i memang saya tidak bisa bung, dgn alasan satu dan lain hal. Lagi pula koran saya, tak bisa mempersiapkan diri secara singkat tuk mejeng di jakarta. Kecuali dikabari dari awal, Hehehe….Saya tetap komit tuk membahas masalah medan 1 ini di lain kesempatan. yang saya bayangkan, medan butuh perubahan, dan itu diawali oleh kita2, awak media. Sekecil apapun itu, peran kita2 sangat membantu medan 5 tahun ke depan. tq bung dah memberi sumbang saran di sini…
      October 30, 2009 at 9:37am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@choking. Abang harus bisa merubah pameo itu. Kan dari awal aku dah minta abang tuk berjuang di medan satu. Ini serius lo bang…

      October 30, 2009 at 9:39am · LikeUnlike
    • Avian Tumengkol

      ‎@efendy: bung Naibaho, paten kali visi itu bah! kalau memang demikian, boleh lah pulak awak melamar jadi Medan-2? hahaha.. :p@choking: hebat saudara! saya sepakat. tapi yang lebih penting, bagaimana kita bisa dapatkan solusi? kalau hanya m…engeluh saja tanpa solusi, kurasa kita semua akan terikut juga ke dalam kondisi itu. kita sudah tau faktor2 esensial, skarang tinggal cari solusinya, boss.. cemana cocok?@dedy: boss, kalau mau pajang Harian Global di stan kami, silahkan kirimkan saja ke jakarta. saya tampung boss. biar pengunjung bisa menikmati juga beria2 paten Global. cocok?perihal Medan-1, tidak cukup hanya awak meddia. tapi yang terpenting integrasi media. kita2 di media harus integrasi dan bersatu, bukan bersaing.. dengan demikian, suara pers di Sumut akan ebih bepengaruh secara global. ini yang penting kita bangun bersama, bung dedy.. saling merangkul..
      October 30, 2009 at 9:46am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah

      ‎@Bung avian. Saya sepakat tentang integrasi media untuk medan-1. Sudah lama isu ini saya sampaikan ke teman2 pimpinan media. Mgkn karena waktu pilkada terlalu jauh, jadi hanya jadi wacana.Cita2 saya, integrasi di sini adalah integrasi id…ealisme, tidak berorientasi politik apalagi materi.
      kita lakukan fit and propertest thdp sejumlah calon. siapa yg punya visi dan misi yang kuat, kita dukung bersama-sama. Kita kenalkan ke publik. Ini dia calon walikota terbaik pilihan media. Duh, indahnya… Tapi bisa gak ya??Kirim koran ke stand sumut expo? segera saya diskusikan ke manajemen bung. Kalah jauh kami ama waspada online bah! Sukses terus bung…
      October 30, 2009 at 10:14am · LikeUnlike
    • Dewi Juita Purba

      Setelah diskusi panjang, keluhan dan pendapat, trus kemudian kita ditanya, “jadi siapa yang pantas menjadi walikota, yang bisa supply semua prioritas yang berbeda beda?” Apakah kita mampu memberi satu nama saja.
      Saya tak kenal satu walikota…-pun secara dekat di kotamadya ini, tetapi buat saya mereka tetap sajalah seorang manusia yang jauh dari sempurna, sama seperti kita.
      Dia juga bukan dewa yang bisa mengubah segala sesuatu dengan instant.
      Untuk Pj. Walikota yang sekarang, apapun yang dikerjakannya sangat jelas terlihat tujuan dan ambisi-nya apa. Walaupun agak norak, tapi ya manusiawi juga. Mau diapain…karena begitulah cara main yang berlaku.
      Pada akhirnya, peran media untuk lebih objektif dan berorientasi “meningkatkan kecerdasan masyarakat” saja yang bisa membantu secara perlahan. Biar tidak terpesona sama sinetron “antar pejabat daerah” yang sering dipertontonkan!
      he..he…he….!
      October 30, 2009 at 10:29am · LikeUnlike · 1 personLoading…
    • Dedy Ardiansyah

      ‎@Dewi. Pendapat kakak itu masukan yang berarti untuk kami, para awak media. Semoga cita2 kita di forum diskusi ini dapat membuahkan hasil yang diharapkan. Tq.
      Tapi kuncinya memang ada di tangan kita bersama. Pilkada medan, mei 2010 momen te…pat bagi warga kota untuk membuat sebuah perubahan, setidaknya sebuah revolusi politik berbasis masyarakat. Jangan biarkan hak kita dikuasai parpol atau segelintir pejabat yang berpikir pragmatis.
      October 30, 2009 at 10:46am · LikeUnlike
    • Taufik Ramadhan

      Sejak dulu bangsa Indonesia dijajah oleh mitologi tentang sabda Raja-Raja. Mulai zaman Singosari dengan Ken Arok yang bajingan itu sampai pada Amangkurat II yang menjijikkan tak satu pun dari mereka yang membuat undang-undang tentang hak …konstitusional rakyat. Sabda Raja adalah undang-undang itu sendiri. Sabda Raja adalah segala-galanya. Kemudian kita dijajah oleh serbuan tentara kolonialisme. Berikutnya dijajah ekonomi dan pasar. Pikiran dan perasaan menanggung akibatnya dan paling tersiksa.PKL harus digusur dengan terlebih dulu dicarikan “ayatnya” agar sah menggusur. Oh, Kota Medan berantakan, tak tertib lagi lantaran banyak jemuran-jemuran liar di jalan-jalan protokoler. Kota Medan bau, karena ban mobil ku menggilas tomat-tomat busuk. Mereka bau dan busuk pengganggu ketertiban! Untuk itu, mereka mesti digusur agar Medan kembali harum.Jangan bicara hak konstitusional rakyat. Ini adalah Sabda Walikota. “Saya adalah Wali penjaga ketertiban rakyat” Kerjakan!Tapi agaknya Rahudman lupa. Untuk menyembuhkan flu bukan hidung yang harus disembuhkan. Flu adalah kondisi menyeluruh dari tubuh. Jadi untuk menyembuhkan flu bukan hidung yang jadi pusat perhatian. Dan yang penting, tidak mesti berperilaku garang! Tak mesti hidung dipencet-pencet sampai memerah dan luka! Sistem anatomi seluruh tubuh yang mesti disembuhkan.Demikian juga kalau menilai soal PKL. Bukan pedagang-pedagang miskin dan lapak-lapak dagangnya itu yang mesti diamankan. Melainkan seluruh Kota Medan. Jangan beralasan, soal baru atau lamanya menjabat. Perkara ini bisa dicicil dengan konsisistensi-konsistensi yang jelas.Rafriandi dan Sabar Sitepu disini diharapkan berperan sebagai macan. Tapi nyatanya macan-macan itu tak mencakar, mengaum juga tidak. Tapi aku juga tak yakin mereka itu orang yang lembek hati. Soalnya mungkin jiwa domba mereka belum hilang.

      Maka tak aneh, talkshow yang menghadirkan seorang inovator garang dan dua pengembik itu terasa hambar, seperti jalan tol yang lempang, kata anda.

      October 30, 2009 at 12:24pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@bung taufiq. no comment. saya terlalu terpana dengan argumentasi anda. luar biasa! tq dah berbagi di tema ini. salam kenal.

      October 30, 2009 at 1:42pm · LikeUnlike
    • Novie Wulandarijd teringat abdillah….

      October 30, 2009 at 1:43pm · LikeUnlike
    • Arif Rifian

      Kl Rahudman memiliki msi terselubung dibalik aksi-aksinya, tentu itu haknya.. yg penting kita udah harus mlek ngliat perubahan kota Medan kedepan, khususnya ogr-org yg akan tampil di Pilkada nanti. aku lebih menaruh harapan dgn kemampuan me…dia saat ini, yang kuharapkan mampu menjadi ‘wasit’ pembangunan kota, apalagi setelah kekuatan lembaga penyeimbang dan kelompok penekan tidak dapat berbuat byk untk berpihak pd rakyat.. tks
      October 30, 2009 at 2:04pm · LikeUnlike
    • Kennorton Hutasoitmedia massa saat ini juga terjerembab di jurang komersialisme hehehe

      October 30, 2009 at 7:04pm · LikeUnlike
    • Jayamuddin BarusWalikota itu dah gila, ga punya perasaan. aku pikir dia tidak akan berniat maju dalam pilkada 2010. sudah jelas suara banyak di masyarakat kelas bawah yang dia sakiti. di gusur pedagang kaki lima, tapi nembak konglomerat yang punya bisnis dikaki lima banyak tuch, seperti dijalan nibung

      October 30, 2009 at 7:26pm · LikeUnlike
    • Arifin Saleh SiregarHidup Rahudman, Sekali Barca tetap barca hahahahhahah

      November 6, 2009 at 9:42am · Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s