navigasi

Enigmatic Malaysia (Perang Artikel antara Khairul Ikhwan & Aulia Andri

Saya tertarik mengikuti pergulatan ilmiah antara Sdr. Khairul Ikhwan Damanik dengan Sdr. Aulia Andri di rubrik gagasan (opini) Harian Global.  Dua tokoh muda Kota Medan ini berbeda pendapat soal klaim Malaysia atas Tari Pendet di iklan Enigmatic Malaysia. Dengan disiplin ilmu yang dimiliki, keduanya lantas beradu pandang soal kebijakan Malaysia atas Indonesia.

oleh: dedy ardiansyah

Barangkali, jika tulisan ini dimanusiakan, perang urat saraf dan adu jotos akan terjadi, meski kemudian

saya yakin, setelah itu mereka akan tertawa  terpingkal-pingkal di warkop Bang Kumis sambil minum kopi.

Dalam artikel yang dilansir Jumat 28 Agustus 2009, Khairul Ikhwan menilai pencaplokan budaya Indonesia atas tari Pendet adalah satu sekian rangkaian tindak kriminal Malaysia atas Indonesia.

Menurutnya, Malaysia sudah mengklaim beberapa kebudayaan asli Indonesia, seperti reog, tari barong, keris, angklung, batik, serta ada lagu “Rasa Sayange” dan “Es Lilin”. Bahkan dalam sebuah tayangan eksebisi di Kuala Lumpur para penarinya menggunakan ulos, tenunan tradisional Batak. Selain itu banyak manuskrip tentang Melayu dari Sumatera Barat yang sudah berpindah tangan, dibawa peneliti Malaysia ke negaranya.

Klaim atas tari pendet tersebut kemudian memperbesar bola api kebencian atas Malaysia. Bola api itu siap meluncur tanpa arah jika pemicunya menyalak dalam waktu yang tepat. Apalagi api-api kecil yang sudah terkumpul sebelumnya bersumber dari kasus-kasus penganiayaan TKI dan masalah pencurian kayu di kawasan perbatasan Indonesia di Kalimantan.

Inti dari artikel tersebut, Khairul Ikhwan menyatakan ketidaksukaannya atas kebijakan semena-mena pemerintah Malaysia. “Tetangga seperti apa Malaysia yang begitu suka mengklaim sesuatu yang bukan miliknya?” urainya dalam tulisan itu.

Saking geramnya, dia mengajak pemerintah Indonesia untuk tak berdiplomasi dalam menghadapi Malaysia. “ Politik luar negeri adalah apa yang kita mau, sementara diplomasi adalah apa yang kita dapat,” tulis Khairul Ikhwan mengutip pernyataan H. Agus Salim.

Bahkan, nasionalisme Khairul Ikhwan kian bergelora mengingat Malaysia hanya mengaku khilaf atas kasus tari pendet. Meski tak secara langsung menyatakan perang atas Malaysia, tapi slogan “Ganyang Malaysia” yang didengungkan Bung Karno pada masa konfrontasi tak lupa diuraikannya dalam artikel tersebut.

Dua hari berselang, artikel berjudul “Enigmatic Malaysia” itu lantas ditanggapi Aulia Andri. Menurutnya, Khairul Ikhwan mencoba memprovokasi masyarakat Indonesia, (khususnya dirinya sendiri-red) untuk segera membenci Malaysia.

Dia tak menyalahkan nasionalisme reaktif Khairul Ikhwan tersebut. Namun Andri mengajak masyarakat pembaca tak buru-buru melakukan apa yang disarankan Khairul dalam tulisannya itu.

Dalam artikelnya yang berjudul “Mencuri Kebudayaan?” (Harian Global Senin, 31 Agustus 2009), Aulia Andri menilai, dalam kasus “Enigmatic Malaysia” itu, Malaysia tidak melakukan pencurian budaya atau pemerkosaan budaya Indonesia. Baginya, masalah kebudayaan bukanlah ranah rasional, hukum ataupun ekonomi. Kebudayaan adalah habit (kebiasaan) manusia dalam menjalankan fungsi otaknya. (Koentjaraningrat (1990:180)

Atas dasar itu, Andri melemparkan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan. Apakah salah, jika setiap manusia memiliki kebudayaan yang sama, dalam hal ini Indonesia dan Malaysia.

Dosen Ilmu Komunikasi di Fakultas Bahasa dan Seni Unimed ini lantas mencontohkan budaya bunuh diri Jepang (Harikiri) yang ternyata juga ada di India. Bedanya, di India dilakukan oleh seorang istri yang kehilangan suaminya. “Apakah kemudian bisa bilang bahwa India mencontek kebudayaan Jepang?” paparnya.

Yang tersurat dari artikel Aulia Andre tersebut adalah apresiasi positif dirinya atas kebijakan Malaysia yang justru banyak mengadopsi budaya-budaya yang ada di Indonesia.

Sebagai bangsa, Indonesia mesti bersyukur. Malaysia telah mengingatkan kita agar tidak lupa akan akar budayanya sendiri. Jadikan klaim Tari Pendet sebagai cambuk peringatan karena lemahnya pemerintah dalam melindungi kebudayaan Indonesia.

Karena bagi saya, Indonesia, yang konon katanya bangsa yang besar, sudah terlalu lama melupakan budaya sendiri. Rasa nasionalisme bangsa ini hilang karena lahirnya sebuah budaya lain, yang justru menghancurkan Indonesia. Yah, budaya KORUPSI!

Mari kita rekap satu persatu wajah para pelaku korupsi yang mendekam dalam bui. Mereka adalah para menteri, gubernur, walikota, camat, lurah hingga kepala lingkungan (kebetulan kasus ini terjadi di Medan). Belum lagi lihainya aparat TNI dan Polri yang coba bermain-main menjual pasir laut (kepulauan Riau), kayu hutan (Kalimantan), BBM dan permainan culas lainnya.

Dari dua seri tulisan tersebut, saya mengunci sebuah pertanyaan yang mungkin bisa mengetuk hati nurani kita sebagai anak bangsa. Apakah sebagai negara kita sudah berbudaya? Nasionalisme seperti apakah yang saat ini patut kita banggakan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri.

 

komentar di facebook

UnlikeLike · · Share · Delete

  • You, Sheis Mac, Sutana Hasby and 2 others like this.
    • Mohammad Reza Ali Senang rasanya bisa mengenal 3 orang sahabat ini! Sebagai seorang jurnalis muda, sepertinya saya harus sering berguru kepada 3 orang ini….

      September 1, 2009 at 4:43am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah dua jempol tuk aulia dan khairul ikhwan. Kita perlu penulis muda sprti mreka. Sama seperti pak shohibul.

      September 1, 2009 at 5:16am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@reza. hehehe…. Kelewat memuji tuh za. Yuk, sama-sama belajar kita….

      September 1, 2009 at 5:19am · LikeUnlike
    • Andi Lubis Jika ada 1oo orang bernama Aulia, mungkin tak dapat kita tuding 99 orang lain nya mencuri/meniru nama itu.

      Begitu pula, jika ada 100 orang bernama/berbentuk Aulia Andre. Bisa jadi itu hanya kebetulan saja.

      Berbeda halnya ketika ada 100 AuliaAndre bin Jumiran Abdi. Tentu satu sama lain saling bertanya: maaf, apakah anda mencuri nama saya ?

      September 1, 2009 at 7:08am · LikeUnlike
    • Andi Lubis ‎@ Micel : kapan kita bukber menu Bubur Ganyang ? Sebelum diclaim “cik gu”, maka kita harus bayar royalti dalam tiap suapan nya…hehehehe

      September 1, 2009 at 7:15am · LikeUnlike
    • Ekmal Muhammad Indraprastha Nasionalisme yang dinjak-injak dan dicuri dapat menjadi bahan bakar yang sangat efektif untuk membangunkan bangsa yang lama tertidur.

      September 1, 2009 at 8:24am · LikeUnlike
    • Denny Sitohang Koreksi Ded. Bukan Aulia Andre, tapi Aulia Andri. Mungkin karena salah tulis namanya dia jadi ngga nanggapin tulisanmu ini. Hehehehe…

      September 1, 2009 at 6:59pm · LikeUnlike
    • Avian Tumengkol Hubungan RI-Malaysia memang menjadi isu yang atraktif. Hanyalah pengetahuan sejarah yang bisa mengartikulasi yang sebenarnya.

      Tapi mungkin, kalausaja Indonesia mulai mengirim SDM setaraf konsultan ke Malaysia dan mereduksi pengiriman TKI, isu bilateral akan mengalami dinamika yang berbeda dengan sekarang ini.

      Sangat difahami mengapa, terkadang, Malaysia memandang Indonesia hanya dengan sebelah mata..

      September 1, 2009 at 7:45pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Denny. thanks atas koreksinya. judulnya aku edit lagi. hehehe… tapi aku yakin, tulisan micel edisi selasa, bakal ditanggapinya lagi..hehehe….

      September 1, 2009 at 8:34pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Andi..hehehe..faktor jumiran abdinya yang kental. jadi tak mungkin dicaplok orang lain.

      September 1, 2009 at 8:40pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Andi..hehehe..faktor jumiran abdinya yang kental. jadi tak mungkin dicaplok orang lain. Soal Micel, alias Khairul Ikhwan, sudah menutup diri dari facebook. jadi, undangan buber itu gak nyampe ke dia.

      September 1, 2009 at 8:41pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@bung Avian. aku rasa malaysia bukan memandang indonesia sebelah mata. mereka hanya mencari celah untuk keuntungannya. apapun itu caranya. tanpa kita sadari mereka telah menjadi parasit ditengah inkonsistensinya negara ini.

      September 1, 2009 at 8:52pm · LikeUnlike
    • Avian Tumengkol

      ‎@bung Dedy: Saya sepakat. Tapi celah itu bisa diambil karena Indonesia membiarkannya, atau mungkin kurang sigap dalam mempertahankan national dignity kita, sehingga celah itu dijadikan kesempatan dan keuntungan.

      Saya tetap menganalis bahwa …Malaysia memandang Indonesia dengan sebelah mata, baik G to G, P to P ataupun dalam second track diplomacy.

      Yang lebih menyedihkan itu adalah para pejabat Indonesia yang gampang sekali membiarkan konflik ini terulang terus menerus. Belum lagi kita bicara counter pitch Malaysia terhadap Indonesia, yang menurut saya juga, telah menjadi kekuatan Malaysia dalam memandang sebelah mata itu..See More

      September 1, 2009 at 9:00pm · LikeUnlike
    • Brilian Moktar Pandangan secara ilmiah perlu juga kita coba, ada betul juga yg dibilang Bung Aulia, kadang kala kita hrs tanggapi dgn proaktif, reaktif hanya membuat emosional sekejab. tdk ada solusi akhir yg bijaksana. kita hrs cari solusi agar kedepan bgmn malaysia tdk akan mencuri apapun dari
      Indonesia ini. maka kita harus melihat sebabnya bukan akibatnya.
      September 1, 2009 at 9:25pm · LikeUnlike
    • Rudianto Nurdin Berterimakaishlah pada Malaysia, mereka telah menjadi cermin bagi kita. …….masak sih buruk muka cermin ditembaki……

      September 2, 2009 at 4:08pm · LikeUnlike
    • Wahyu Boboyo selama kita tak pernah menghargai apa yang kita punya, jangan harap orang menghargai kita..

      September 5, 2009 at 4:00pm · Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s