navigasi

Catatan dari Balik Layar Kampanye SBY di Medan II

Bagian pertama catatanku di balik layar kampanye SBY di Medan adalah soal kenapa memilih Pardede Hall sebagai tempat kampanye. Aku menyimpulkan pemilihan lokasi itu untuk mendulang suara dari massa PDIP, lawan politiknya. Dan dari kampanye SBY ini, aku juga mencatat sisi lain lagi. Ini dia.

Politik Entertainment

Kampanye identik dengan politik. Tapi jika melulu politik, maka akan membosankan. Makanya beberapa tahun terakhir, pola ini di selingi dengan hiburan. Tapi tak jarang bobot hiburan itu justru menenggelamkan pesan politiknya.

Lalu bagaimana dengan kampanye SBY? Di sinilah kelebihan tim di belakang layar SBY. Fox Indonesia yang dipercaya untuk menset-up kampanye SBY mampu menerjemahkan sebuah suguhan politik yang menghibur. Mereka mampu mengolaborasikan dunia politik dan hiburan secara bersamaan. Sehingga pesan antara keduanya sampai.

Fox Indonesia, pimpinan Rizal Malarangeng memang punya kemampuan mendongkrak citra. Partai Amanat Nasional (PAN) pernah memakai jasa Fox untuk mengatrol popularitas sang ketua umum, Sutrisno Bahir. Pun Fox Indonesia yang mencatatkan diri dalam sejarah periklanan surat kabar Indonesia yang menampilkan wajah SBY dalam harian umum Kompas (Edisi Selasa 19 Agustus 2008).

Pada halaman muka, Kompas menyediakan khusus setengah halaman tambahan untuk iklan PD tersebut. Jenis iklan yang biasa disebut dengan istilah flap-ads jarang digunakan oleh media yang lain dalam beriklan. Konon kabarnya iklan ini dibayar hampir setengah miliar.

Jadi, tidak heran jika dalam kampanye SBY di Medan Minggu 22 Juni 2009, mereka mampu menonjolkan performa sang kandidat. Tim ini juga mengatur secara ditail setiap moment kampanye SBY. Bahkan SBY bisa diarahkan oleh seorang kru yang memintanya memeragakan tarian manortor, dengan mengacung dua jari ( simbol nomor dua) saat lagu Anak Medan berkumandang.

Nilai plus lainnya dari tim ini adalah merubah kampanye politik yang tadinya kaku dan monolog lebih hidup dan berwarna. Mereka memasukkan unsur-unsur entertanimen dalam kampanye politik itu.

Citra itu diawali dengan menset-up ruangan bergaya moderen. Pardede Hall yang jamak dipakai sebagai ajang olahraga dan konser musik berubah menjadi sebuah ruangan yang sama sekali berbeda. Dua layar monitor besar berada di sisi kiri kanan gedung berlantai dua tersebut. Atribut dan baleho SBY-Boediono memenuhi ruangan yang dihiasi warna merah putih, bendera kebesaran Indonesia.

Pengunjung seolah sedang menyaksikan sebuah pertandingan olahraga, yang tanpa sadar emosinya terlibat. Anda pernah menyaksikan pertandingan bulutangkis dimana semua mata tanpa berkedip mengikuti kemana arah bola?

Begitulah. Setidaknya dalam 40 menit berorasi, SBY mendapat aplaus 38 kali dan 3 kali standing aplaus. Alamiah, tidak ada kesan paksaan. Yang memaksa mereka adalah atmosfir yang diciptakan tim-tim kampanye itu. Saya sendiri bergidik, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang dahsyat di ruangan itu.

Tentu siang itu, bukan SBY seorang yang tampil di atas panggung. Saya mengajak anda untuk mengenal sosok-sosok pengisi acara di kampanye itu. Ada jawara Indonesian Idol, Joy Tobing dan Mike Mohede dan Jawara Kontes Dangdut TPI, Gita. Serta penyanyi solo, Rio Febrian. Lalu sebagai MC adalah Ferdy Hasan.

Melihat profil kelimanya, saya yakin, tim dibelakang layar SBY tidak sembarang memilih. Kualitas suara dan kemampuan alumnus Indonesia Idol/KDI tentu sudah teruji. Demikian pula Rio Febrian.

Mereka adalah entertainer yang diidolakan anak muda. Sama halnya dengan Ferdy Hasan, yang mungkin dipilih untuk menginfluens ibu-ibu yang selama ini mengidolakannya. Maklum, pada masa itu, nama  Ferdy Hasan terdongkrak setelah menjadi presenter untuk sebuah program televisi swasta

Yang lainnya lagi, selain mungkin kontraknya murah (dibanding artis sekelas tiga diva), Joy Tobing, Mike Mohede dan Gita KDI memiliki massa yang militan.

Merekalah juara di masing-masing ajang. Okelah, SMS pemirsa itu tak menjadi ukuran, tapi keduanya tentu memiliki keluarga besar, yang sama militannya dengan pengikut partai. Kantong suara ini teramat sayang untuk diambil capres lain.

Di sisi lain, penonjolan Joy Tobing, Mike Idol dan Rio Febrian juga sebuah penegasan kalau SBY juga menjaga massanya yang beragama kristen. Terkesan SBY selama ini hanya mengandalkan suara muslim karena sejumlah partai yang berbasiskan islam berada di belakangnya.

Jadi tim ini mencoba meredam isu dengan menampilkan warna lain. Mike Mohede, Joy Tobing dan Rio Febrian adalah representasinya.

SBY Masih Sangat Kaku
Tentu saja tak ada gading yang tak retak. Begitu pula kampanye SBY di Medan. Aku masih menilai SBY masih sangat kaku dalam berpidato. Tidak ada senyum sumringah, atau joke-joke segar pemecah suasana.

Bandingkan dengan JK yang cara berbicaranya sangat enak. JK berhasil menarik simpati masyarakat melalui intonasi, mimik wajah dan style yang sederhana namun membumi. Yang paling memukau adalah saat dia melepas sepatu di Forum Kadin. Wajah egaliter seorang pemimpin

Artinya, Fox Indonesia belum dapat merubah citra SBY yang selama ini terkesan jaim. Aku kemudian coba membandingkannya dengan cawapres Boediono. Saat pengukuhan pasangan ini di Bandung, Boediono membalikkan semua prediksi orang yang menilainya tak bisa bicara. Dan aku yakin, ini adalah bagian kerja dari tim tersebut.

Namun ini berbanding terbalik saat SBY berpidato. SBY belum setangguh Bung Karno yang bisa membakar semangat audiens dengan orasinya yang berapi-api. Atau minimal bisa menyamai JK dengan kesederhanaannya. SBY yah SBY, seperti yang sering kita lihat di televisi. Formal, kaku dan sedikit membosankan.

Kelemahan lain adalah setting pidato SBY yang sama sekali tidak menonjolkan sisi kedaerahan. Tidak ada isu lokal yang coba ditawarkan. Harusnya, tim memasukkan satu sesi yang membahas isu-isu yang berkembang di daerah.

komentar di facebook

UnlikeLike · · Share · Delete

  • You and Darmaila Wati like this.
    • Yuda Panjaitan Analisa yg menarik bung.. Terutama soal kemungkinan kesengajaan pemilihan trio mike-joy-rio, trik sederhana yg manis! Wajar saja bila rumor bhw Fox Indonesia mendapat budget ber T rupiah utk sluruh kerja pencitraan, komunikasi politik, campaign organizer, membungkus wacana, dll menjadi sangat masuk akal kan..
      Tapi knapa kok gak membahas fenomena bhw di medan ornamen warna biru+simbol2 bintang dikurangi??
      June 22, 2009 at 4:07am · LikeUnlike
    • Rozi Roziajamantrap..!

      June 22, 2009 at 4:53am · LikeUnlike
    • Dewi Susanty Bagus nich artikelnya sodara….
      Aq ndk ngorti ttg politik, tp gw pendukung fanatik SBY nich, setelah dulu Soeharto. Moga pilihanku ntar menang.
      June 22, 2009 at 10:02am · LikeUnlike
    • Mamik RoesdiatmoGOOD INVESTIGATION ..!

      June 22, 2009 at 10:54am · LikeUnlike
    • Efendy Naibahotulisannya jgn di fb saja bos, kirim juga ya ke formatnews.com. emailnya: redaksi@formatnews.com. thanks atau buat kolom sendiri ya, nyontoh gunawan mohammad. aku tunggu ya….

      June 22, 2009 at 11:59am · LikeUnlike
    • Ekmal Muhammad IndraprasthaTrilunan Rupiah untuk sebuah CITRA. Kayaknya SBY memang seorang pesolek politik kelas kakap! heheheheheh

      June 22, 2009 at 12:27pm · LikeUnlike
    • Mohammad Reza AliTak bisa dpungkiri bahwa SBY memang ganteng! Dia jg mampu menyatukan dua bdang entertaint dan mampu menjual pencitraan y!

      June 22, 2009 at 12:28pm · LikeUnlike
    • Anneke Priskilakenapa si reza membahas kegantengan Pak SBY? apa dia merasa tersaingi?

      June 22, 2009 at 1:17pm · LikeUnlike
    • Mohammad Reza AliIy kak aq mrasa tersaingi Kak!

      June 22, 2009 at 1:39pm · LikeUnlike
    • Tikwan Raya SiregarMakin banyak upacara dan pencitraan, makin sempit waktu untuk bekerja. Makin tinggi Istana Pasir. Makin bertumpuk kebohongan politik dan ekonomi. Good job Ded. Andaikan kita juga bisa mengungkapkan bahwa pencitraan bernilai triliunan itu adalah istilah baru dari “pengibulan”. Sama dengan istilah “korupsi” yg sesungguhnya sama dengan “nyolong”, biar rakyat tahu yg sesungguhnya.

      June 22, 2009 at 2:01pm · LikeUnlike
    • Ekmal Muhammad IndraprasthaAku setuju dengan Tikwan. Makin sering pemimpin kita ngurusin pencitraan dirinya maka makin lamban dia mbuat keputusan menyangkut kerakyatan.SBY akan lebih sering repot ngurusin cara tersenyum, cara berjalan, cara menatap kamera, bahkan mungkin caranya berpakaian saat bekerja.

      June 22, 2009 at 3:50pm · LikeUnlike
    • Anneke Priskilakenapa tiba2 si reza jadi tak percaya diri gitu? apa udah tak ampuh lagi ilmu peletnya?

      June 22, 2009 at 4:16pm · LikeUnlike
    • Dadong Abhiseka Azzareenpaspamres yang sok wibawa dan kaku sama dengan capresnya

      June 22, 2009 at 4:25pm · LikeUnlike
    • Putri Bakri

      stuju sama Bg Dadong… Paspampresdi lokasi kampanye sama membosankan dengan Sby, kaku banget.
      Cuma minjem payung bentar aja ga boleh, ga lihat apa ada ibu2 hamil yang mau nyebrang tapi ga ada payungnya.SBY memang bruntung punya tim sukses y…ang punya selera bagus saat kampanye. Tapi kalo dipikir2 lagi, SBY kayanaya belum menyatu dengan massanya. smuanya serba diatur. kaku banget.Panitia kampanyenya aja kurang bersahabat, dengan berbagai aturan mereka, seolah2 SBY datang sebagai RI 1.
      Pengamanannya ketat banget bagi beberapa orang, tapi ada juga orang lain yang bisa keluar masuk dengan enaknya tapa mikirin pake ID, gima kalo orang itu bawa bom ya???
      June 22, 2009 at 5:30pm · LikeUnlike
    • Putri Bakri

      Tambahan, saya dah bosan dengan berbagai keluahan SBY yang selalu merasa terzalimi. Pliz deh, ngakunya mantan militer, Jendral, tapi kok sikapnya kaya pemain sinetron.
      Politik memang kejam Pak SBY, take it or leave it..kalo memang perjuangka…n nasip rakyat, kenapa BLT yang menurut saya membodohi masyarakat dijadikan program andelan. bukannya dah banyak kasus orang pingsan sampe meninggal gara2 ngantri BLT, dan BLT juga yg bikin rakyat jadi males.
      SBY bilang pendidikan sekarang murah, sepertinya harus diralat deh, anak sekolah sekarang yang SD negeri aja harus ngeluarin uang jutaan rupiah apalagi Universitas yang bisa habisin biaya sampe ratusan juta, dan sekolah rusak dimana2. Kapan mau maju nih.
      June 22, 2009 at 5:33pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Bang Fendi. Bukan aku tak mau bang. Tapi aku masih punya perahu di Harian Global. Hehehe……

      June 22, 2009 at 5:49pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Tikwan-Ekmal. Aku menunggu tulisan-tulisan bernas kalian di angel tersebut.

      June 22, 2009 at 5:50pm · LikeUnlike
    • Dadong Abhiseka Azzareenkasian putri tidak ditanggapi

      June 22, 2009 at 5:54pm · LikeUnlike
    • Ekmal Muhammad IndraprasthaNtar kupinjemin payung Put……

      June 22, 2009 at 6:07pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Dadong-Putri. Soal paspamres aku tak mengamatinya put. Sori. Mungkin kalian ditolak karena lebih famous, menenteng kamera plus kostum kebesaran. Nah aku, lebih bebas mau ambil posisi mana aja. hehehe…

      June 22, 2009 at 6:07pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@ mamik. tanks pak mamik. itu belum masuk kategori investigasi..hehehe..hanya deskripsi dan analisa sederhanaku saja kok..

      June 22, 2009 at 6:12pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyahuntuk putri bakrie, putrinya abu rizal bakrie bukan?

      June 22, 2009 at 6:20pm · LikeUnlike
    • Safwan Khayatluar biasa ternyata, apa yang dedy katakan semuanya benar adanya, JK alamiah, sby ciptaan team…untuk iti team dalam menciptakan kondisi harus juga bisa membaca situasi lawan….jadi dalam hal ini saya perlu banyak belajar dari dedy….!

      June 23, 2009 at 12:26am · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Safwan. hehehe….sama-sama belajar kita bang. Kunci di SBY itu adalah team work.

      June 23, 2009 at 12:33am · LikeUnlike
    • Safwan Khayatkalau begutu abang jadi team saya la.

      June 23, 2009 at 12:46am · LikeUnlike
    • Rahmad Nur Lubis

      Aq pikir pencitraan dalam dunia politik adalah hal yang wajar. Itu berarti masih ada hal yang bisa didesign untuk mencitrakan seseorang. Menjadi tidak wajar apabila pencitraan menjadi satu-2 nya modal. Aq tidak sepakat jika kita lebih menyo…roti kekakuan SBY dalam berpidato atau tetek bengek formalitasnya. Toh, kita dah punya pengalaman memiliki pemimpin yang meretas dinding-2 kekakuan itu dengan gayanya yang pasaran dan humoris. Tapi apa hasilnya? Cukuplah kita punya gubernur pelawak, dan kini kita tidak butuh presiden lawak-2…
      June 23, 2009 at 4:03am · LikeUnlike
    • Anneke Priskila‎@bang rahmad: berarti kita tak boleh dong punya presiden mirip charlie caplin?

      June 23, 2009 at 1:55pm · LikeUnlike
    • Rahmad Nur LubisAq ga bilang lucu dari sisi tampang.. Jangankan mirip charlie caplin, mirip Budi Anduk pun ga masalah..

      June 23, 2009 at 2:31pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah

      bagaimana kalo kita punya pemimpin yang egaliter, humoris dan membumi. Tetapi kemudian karya-karyanya cukup diapresiasi masyarakat.Catatanku ini coba membaca cara komunikasi politik SBY. Jikalah SBY bisa lebih cair dalam berorasi, dalam be…rkampanyenya, dan dalam kesehariannya, mungkin hasilnyabisa lebih dahsyat. Apalagi, seperti bung bilang, dia sudah punya modal selama 5 tahun kepemimpinannya.Mari kita bandingkan dengan cara berkomunikasi presiden obama yang dengan gaya yang sederhana itu bisa merubah imej amerika dengan seketika.

      Hal serupa juga berlaku bagi gubernur pelawak itu…
      btw, emangnya siapa yah yang dimaksud gubernur pelawak itu?

      June 23, 2009 at 5:48pm ·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s