navigasi

Bola Panas Menuju Eksekutif (bagian I)

“ Ini di luar skenario. Masa ada orang yang berniat membunuh seseorang. Saya pikir secara manusiawi itu tidak ada”

Syamsul Arifin | Gubernur Sumatera Utara

Lapangan Serba Guna, Tarutung, Tapanuli Utara 2 April 2008 dipenuhi lautan manusia. Tak kurang tujuh ribu massa berkumpul. Massa yang datang dari berbagai pelosok Bona Pasogit itu menyambut antusias kedatangan Syamsul Arifin, calon Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013.

Sembari menunggu kedatangan Syamsul, masyarakat dihibursejumlah artis ibukota, seperti Imam S Arifin dan Nana Mardiana.

Syamsul Arifin ketika itu masih menjabat sebagai Bupati Langkat. Saat maju sebagai calon Gubernur 2008 lalu, ia berpasangan dengan Gatot Pudjonugroho, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Sumatera Utara. Pasangan ini mendapat nomor urut 5, paling bontot. Sesuai jadwal, hari itu Syamsul menggelar kampanye putaran kedua.

Syamsul Arifin punya alasan tersendiri memilih kota yang jaraknya sekitar 283 kilometer dari Medan sebagai tempat kampanye perdana di putaran keduanya. Karena di Bumi Bertuah itulah, saat usianya 22 tahun, orangtua angkatnya memberi marga Silaban.

“Saya harus memulai langkah dari tanah kelahiran leluhur saya dengan harapan sukses sebagai Gubsu,” kata Syamsul Arifin dalam pidato poliknya.

Di hadapan masa pendukungnya itu, mantan Ketua KNPI Sumut ini menyampaikan niatnya menjadi Gubsu untuk melakukan perubahan.

“Bagaimana rakyat tidak lapar, tidak bodoh, tidak sakit, dan punya masa depan. Inilah modal utama saya untuk membangun Sumut.

Di bagian orasi politiknya, Syamsul Arifin juga mendukung terbentuknya provinsi Tapanuli.

“Doakan saya berhasil memimpin Sumatera Utara. Karena ke depan kita akan dukung Tapanuli menjadi provinsi dengan tujuan agar daerah Tapanuli semakin maju. Dari awal pembentukan Provinsi Tapanuli kita tidak merasa keberatan,” ujar Syamsul.

***
Empat bulan pasca dilantik sebagai Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin memenuhi janjinya. Ia kemudian meneken surat rekomendasi pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap).
Dukungan tersebut tertuang dalam surat keputusan bernomor 130/3422.K tertanggal 26 September 2008.

Poin-poin penting dalam SK Gubsu, di antaranya menyetujui pembentukan Protap, menegaskan lokasi ibukota Protap dan menyetujui wilayah cakupan serta menyetujui pemberian hibah dan dukungan dana.

Persoalan muncul pada 3 Februari 2009. Saat itu 2 ribuan massa pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) mestinya secara damai menyampaikan tuntutan di Gedung DPRD Sumatera Utara Jalan Imam Bonjol Medan. Tapi kita tahu, hari itu semua menjadi lain. Para pendemo bertindak anarki.

Media massa menjadi saksi sejarah kebrutalan pendemo. Mereka merobohkan pagar gedung, merusak fasilitas wakil rakyat itu, melempari petugas, mengejar dan memukul Abdul Aziz Angkat, sang Ketua DPRD hingga akhirnya meregang nyawa.

Kini dua pekan sudah berlalu. Meski telah menahan 67 orang tersangka, polisi belum berani menyimpulkan tentang siapa orang di balik tragedi itu.

Kerabat Abdul Aziz Angkat di DPRD Sumut, yang membentuk tim investigasi sendiri, juga masih meraba-raba. Bagi mereka, Tragedi 3 Februari itu tak cuma “membunuh” pimpinan mereka, tapi juga menciptakan teka-teki yang ruwet. Adakah kaitan antara aksi demo anarki dengan terbitnya rekomendasi Gubernur Sumatera Utara yang mendukung Protap? Babak baru penyelidikan Tragedi Protap segera dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s