sport

Di Balik Air Mata Pia


Indonesia Ketemu China di Final

Diakhiri dengan pukulan silang setelah pengembalian bola dari lawannya, Karin Schnaase, tunggal ketiga Indonesia Pia Zebadiah, memastikan tim Piala Uber Indonesia melangkah ke final untuk menghadapi juara bertahan China.

www. inilah.com

Pekik sorak-sorai penonton pun meledak bersamaan dengan pecahnya tangis Pia. Lambaian tangan ia arahkan kepada ibunya, Yul Asteria Zakaria, yang duduk di barisan kursi penonton. Air matanya masih terus mengalir, meski sudah berulang kali ia seka.

Pia mendapat ucapan selamat dari penonton yang tidak berhenti bersorak merayakan kemenangan tim putri Indonesia itu. Susi Susanti pun menghampiri Pia dan mereka saling berpelukan. Manajer Tim Piala Uber Indonesia itupun tak kuasa membendung air matanya.

“Pia itu cerdik dan lincah dalam permainannya. Dia mirip Mia (Audina),” kata Susi. Pia menentukan kemenangan Indonesia 3-1 atas Jerman, setelah dia menghentikan perlawanan Karin Schnaase dengan 21-7 dan 21-16.

Tangis Pia yang tak juga berhenti hingga saat berada di ruang ganti, mengundang rasa penasaran. Apa mungkin, kemenangan itu yang membuatnya begitu sangat terharu, jika Sabtu (17/5) masih harus menghadapi lawan paling tangguh, juara bertahan China.

Tangis haru sedramatis itu rasanya hanya pantas tumpah jika nanti Indonesia berhasil mengalahkan China di final, sekaligus berarti merebut kembali Piala Uber yang sudah lepas sejak 10 tahun lalu.

Setelah ditanyakan langsung pada gadis kelahiran Medan pada 22 Januari 1989 itu, tangisnya kembali pecah. Ia berusaha sekuatnya menahan tangis, yang kali ini tampak jelas memancarkan kesedihan di dalam hatinya.

Setelah ia mampu menguasai perasaan dan menghentikan tangisnya, Pia dengan suara terbata-bata berucap, “Entah kenapa, hari ini saya sangat kangen sama bapak yang belum lama meninggal dunia. Tadi malam saya tak bisa tidur, karena terbayang-bayang terus wajah bapak.”

Terungkaplah, apa yang menyebabkan Pia begitu haru. Dia tak hanya haru akhirnya mampu menyelesaikan tugas sebagai penentu kemenangan Indonesia. Air matanya berderai karena dia masih bersedih atas meninggalnya sang bapak, Djumharbey Anwar, 1 April lalu.

Adik kandung pemain ganda putra Markis Kido yang juga memperkuat Tim Piala Thomas Indonesia ini, bermain dengan tekad kuat untuk mempersembahkan kemenangan buat almarhum bapaknya, yang telah terbaring dalam damai selamanya di Pemakaman Kebon Nanas, Jakarta Timur.

“Belum lama 40 hari meninggalnya bapak. Saya kangen banget. Saya merasa sulit konsentrasi dan tidak yakin bisa meraih kemenangan hari ini. Saya juga tidak menduga kemenangan yang saya raih justru menjadi penentu langkah Indonesia ke final,” ujarnya dengan suara parau.

Pia memang sangat dekat dengan bapaknya. Ia mengaku, sangat menganggumi bapaknya yang selalu memberikan dukungan besar terhadap setiap cita-cita anaknya. “Dia sangat mendukung saya dan Kak Markis menjadi atlet bulutangkis,” tutur Pia.

Selain Markis dan Pia, anak Djumharbey yang menjadi pebulutangkis dan menghuni Pelatnas Cipayung adalah Bona Septano. Saat ayahnya berpulang, Bona sedang berada di India mengikuti kejuaraan India Terbuka. Sedangkan Markis dan Pia sedang mempersiapkan diri menghadapi Piala Thomas dan Uber.

Pia mengakui, persiapannya tidak baik menghadapi Piala Uber yang untuk pertama kalinya ia ikuti. Karena itu pula, dia tidak mengira selalu mampu menyumbangkan kemenangan bagi Tim Uber Indonesia. Apalagi, ia sendiri merasa prestasinya selama ini belum terlihat.

Dalam berbagai kejuaraan individu yang diikuti, dia masih sering terhenti di babak pertama. Di All England, misalnya, ia langsung tersingkir di babak awal, setelah dikalahkan Cheng Shao-Cheh dari China Taipeh. Di Swiss Super Series, malah sudah tersingkir di babak kualifikasi ketika kalah dari Salkajit Ponsana dari Thailand.

Bicara prestasi pada turnamen individu, Pia memang belum ada apa-apanya. Tetapi, di Piala Uber ia menjelma menjadi pemain yang agresif menyerang dan tangguh bertahan. Dia bermain bagai singa lapar yang mengejar kemanapun bola dan mematikan lawan dengan terjangan smesnya.

Sangat jelas terlihat, Pia memang bermain dengan teknik yang biasa-biasa saja. Strategi permainannya pun tidak seistimewa Susi Susanti, yang menyebutnya mirip dengan gaya bermain Mia Audina.

Tapi, yang membuat Pia menjadi luar biasa di lapangan adalah semangat juang, ambisi menang, dan motivasi yang terinspirasi untuk memberikan kemenangan kepada almarhum bapaknya. Entah, Pia merupakan atlet keberapa yang menjadi bukti bahwa motivasi tak pernah mati ataupun dibawa mati. [I4]

5 thoughts on “Di Balik Air Mata Pia

  1. hai ka pia……
    skrg permainan ka pia sudah bagus ko and gx kalah ma pemain” yg lain…..and ka pia sabar ja so kita hidup pasti da cobaan and jg ad jln keluarna….and aku tw ka pia ru ja ditinggal ma ayahna tp ka pia kan msh puna ka markis yg syg bgt ma ka pia….kalo gt ka pia jgn sedih terus ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s