medan kita

medan, the real trully city of Asia

medan

the real trully city of Asia

Medan adalah satu-satunya kota di Indonesia yang keunikannya sangat populer sampai mancanegara. Peta demografis penduduknya yang beragam karena ada ras India, Arab, China atau pribumi yang dominan seperti Melayu, Batak dan Jawa, menjadi sebuah daya tarik tersendiri.

Merujuk pada keragaman ras penduduknya tadi, Medan itu sebenarnya sebuah cermin kota internasional. Jadi tak berlebihan kalau aku menjuluki Medan sebagai The Real Truly City of Asia.

Malaysia juga begitu. Di negara serumpun kita itu juga ada etnis Melayu, India, Arab dan China. Bedanya, Malaysia adalah sebuah negara. Sedangkan Kota Medan cuma sebuah perkampungan besar yang tersekat-sekat.

Namun itu sudah sangat cukup untuk mentahbiskan kalau kota berpenduduk 2.187.677 jiwa ini sangat mewakili wajah masyarakat benua Asia yang sebenarnya.

Mereka, warga keturunan India, Arab dan Tionghoa yang ada di Medan telah menetap turun-temurun selama ratusan tahun dan hidup berdampingan dengan suku-suku pribumi. Keberadaan mereka ini tak terlepas masuknya Belanda ke Tanah Deli sejak 1642.

Belanda yang kemudian menguasai seluruh perdagangan dan perusahaan perkapalan serta perhubungan untuk mengangkut hasil bumi terutama tembakau Deli, menjadikan Medan berkembang sangat pesat. Seketika itu Medan kemudian menjadi tujuan para saudagar dari berbagai negara terutama dari India, Arab, China yang pada akhirnya mempengaruhi gaya dan budaya di masyarakat Medan.

Dalam catatan Riwayat Hamparan Perak yang aslinya ditulis dalam bahasa Karo, Medan hanya sebuah perkampungan yang dibangun seorang tokoh masyarakat bernama Guru Patimpus, bermarga Karo Sembiring, pada tahun 1590-an. Letaknya di Tanah Deli, tepatnya di pertemuan antara Sungai Deli dan Sungai Babura, yakni dua sungai yang kini mengalir di tengah-tengah Kota Medan.

Sedangkan berdasarkan catatan Hikayat Deli, perkembangan Kota Medan tidak terlepas dari sejarah kejayaan Kesultanan Deli. Sejak tahun 1963, perekonomian Deli berkembang pesat terutama semenjak kedatangan pengusaha perkebunan tembakau Belanda dari Jawa Timur bernama Jacob Nienhuijs. Sultan Deli memperoleh royalti dari konsesi dan sewa tanah hingga dia kaya raya. Pada tahun 1872 tercacat sebanyak 44 perusahaan perkebunan asing di sekitar Deli. Belum lagi pertambangan minyak sejak tahun 1900.

Merujuk tanggal lahir Kota Medan yang ditetapkan tanggal 1 Juli 1590, berarti Kota Medan kini telah berusia 419 tahun. Dalam perkembangannya Medan menjadi kota terbesar di Sumatera atau ketiga terbesar di Indonesia setelah Jakarta dan

***

Sesungguhnya, aku bukan terlahir di sini. Jejak kakiku di kota ini bermula sejak 1999 lalu, ketika itu aku baru saja menamatkan pendidikan di sebuah sekolah menengah atas di kota Rantau Prapat (sekitar 250 km dari Kota Medan).

Kini, sepuluh tahun telah berlalu. Hampir seluruh inci kota pernah aku jalani. Bahkan sejumlah instansi pemerintahan pernah aku datangi. Termasuk gedung DPRD dan Walikota Medan yang sering aku jadikan tempat untuk buang hajat. Dan yang pasti, jejak kakiku di kota ini pun sudah tercatat di BPS Medan.

Mungkin tak hanya aku, tapi bagi mereka yang mengenal betul Medan, tentu akan sepakat kalau kota ini ibarat dara jelita yang sedang tertidur lelap. Ia akan indah dilihat dan sedap dipandang bila kemolekan yang dianugerahkan kepadanya dapat dimaksimalkan.

Apalagi, Medan adalah pintu gerbang menyusuri potensi-potensi wisata di Sumatera Utara. Bayangkan, posisinya yang strategis karena berdekatan dengan Singapura, Thailand dan Malaysia, adalah jaminan kalau Kota Medan sebenarnya menyimpan potensi besar dalam menyedot turis-turis mancanegara.

Aku masih sangat yakin, bahwa Medan dapat diandalkan tak hanya di pentas nasional saja tapi juga berkelas internasional. Ketertinggalan yang dirasakan selama ini terkait dengan minimnya sarana, prasarana pendukung dan sumber daya manusianya masih bisa dibenahi. Karena begitu banyak potensi yang dapat diandalkan dari kota ini.

LikeUnlike · · Share · Delete

    • Toga Nainggolan setuju pak. medan semestinya lebih besar dari jakarta, apalagi kota besar lainnya di indonesia, krna posisinya yg lebih dekat dengan s’pura, yg kini menjadi “jantung” dunia.

      June 30, 2009 at 4:07pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Toga. setuja pak toga. maka dukunglah aku menjadi walikota medan berikutnya. hehehe…

      June 30, 2009 at 6:01pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah seorang teman dari malaysia baru titip pesan. katanya medan kota yang bagus dan sangat potensial. sayang banyak penepu. selama dua hari tiga malam di medan, dia banyak dipungli, mulai dari pintu bandara sampai ke sopir taxi. duh…medanku yang malang.

      June 30, 2009 at 6:04pm · LikeUnlike
    • Donna Kartika kayaknya medanku sama aja dulu ama sekarang
      masih diposisi sumut ded..
      semua urusan mesti uang tunai..
      hihi…..
      tak ada yg mantap yg ada pun disikat…hajaaaaaaaaaaaaar

      June 30, 2009 at 6:09pm · LikeUnlike
    • Ivan Kuswandi Silaban udah dimulai buat tulisan ditambah foto2nya. lumayan lengkap sebagai pembuka, tinggal ngomong sama bainfokom aja lagi bos biar kita buat buku ‘Medan, the truly city of Asia’

      June 30, 2009 at 6:19pm · LikeUnlike
    • Tikwan Raya Siregar Pak Ded, aku juga pendatang dari Rantauprapat. Sekadar saran Pak, kita telah ditipu dengan penetapan tanggal dan tahun HUT Kota Medan yang mengada-ada itu…hehehehe…bikinan anggota DPRD Medan masa lalu itu…Bidan Kota Medan ini sebenarnya orang Belanda dan keturunan Cina sekitar abad-19. Anti kolonialisme telah membuat kita membohongi diri sendiri. Sukses denganmu. Kapan-kapan, kita mandi lagi di Aek Buru.

      June 30, 2009 at 6:23pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Dona. hehehe. nanti kalo aku jadi walikota medan, dirimu akan aku jadikan konsultan pariwisata. makanya, belajarlah banyak-banyak soal wisata di bali itu ya. jangan sia-siakan biaya bulanan yang aku kirim itu…hohoho…. inaaaaaang…

      June 30, 2009 at 6:55pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Ivan. mantaf bro. aku tunggulah ide-ide segar lainnya…

      June 30, 2009 at 6:56pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah

      ‎@Tikwan. kok aku belum pernah baca kisah kota medan versi yang ini wan? wah, ternyata dirimu lebih tahu banyak yah. share-kanlah info itu ke FB. atau kirim artikelnya untuk rubrik GAGASAN di Harian Global. cemana, cocok?Soal aek buru, kay…aknya sudah gak diburu lagi. sudah kering airnya dibante kebon-kebon sawit itu. aku ada rilis foto terbaru objek wisata di ranto prapat. lumayan menarik untuk diterbitkan di inside sumatra. pengelolanya PT Torganda. ehemm…cocok??See More

      June 30, 2009 at 6:59pm · LikeUnlike
    • Cahyo Tj Pramono he he he…
      he he he…
      … he he he

      July 1, 2009 at 1:39pm · LikeUnlike
    • Tikwan Raya Siregar

      Mantaf tuh Ded. Kita barteran, tulisanmu untuk Insum, dan tulisanku untuk Global. Mengenai ultah Kota Medan ini, bila kita harus merujuk Riwayat Hamparan Perak, sesungguhnya sangat banyak silang sengkarut dalam hikayat itu. Tanggal dan peri…odenya meragukan dari segi sejarah, dan tidak ada satu pun penyebutan kata “Medan” di situ. Memang ada beberapa kampung kecil pada masa kehidupan Guru Patimpus (tokoh kontroversial yang diklaim tiga klan) di kawasan Tanah Deli.Tapi Medan sekarang benar-benar adalah pemukiman rintisan yang baru bila mengikuti tanda-tanda yang dikisahkan Hikayat Hamparan Perak sendiri. Medan sebagai pemukiman dirintis oleh Deli Maatschappij yang diikuti pedagang-pedagang Tionghoa. Bahkan Raja Deli pun mengekor kemudian dari Belawan.Kalau mau lebih jelas, baca Riwayat Hamparan Perak sekali lagi, atau baca Insum (tulisan Pak Ichwan Azhari), yang menelanjangi para rekayator sejarah kita. HUT Kota Medan sekarang adalah produk politik, bukan produk sejarah.See More

      July 1, 2009 at 4:05pm · LikeUnlike
    • Tikwan Raya Siregar Soal Aek Buru, wah sayang sekali ya Ded. Itu tempat yang memorable buatku. Masak sih bisa kering? Bisa jadi padang pasir kampung kita tuh.

      July 1, 2009 at 4:07pm · LikeUnlike
    • Andi Lubis brrrrrrr.. mantaaaf lae….

      July 1, 2009 at 8:42pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@Cahyo. Hehehe…kenape mas, tulisanku salah yah?

      July 1, 2009 at 9:17pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah

      ‎@Tikwan. Untuk air terjun lingga hara aku nyerah wan. tak ada waktu maen-maen ke sana lagi. hehehe…Tapi soal hikayat Medan itu, aku tertarik. Bisa gak minta nomer telepon Pak Icwan Azhari itu. Kayaknya mantaf kalo diterbitkan di Global. …Artinya Ultah Kota Medan 1 Juli itu perlu “digugat” .Soal Aek Buru, memang belum kering betul. tapi kondisinya sudah tak seperti dulu lagi. debit airnya sudah turun, dan tak seindah zaman kita itu.See More

      July 1, 2009 at 9:22pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah ‎@ Andi. hehehe….makasih bro..

      July 1, 2009 at 9:23pm · LikeUnlike
    • Mamik Roesdiatmo Inilah kolomnis tulen.trima kasih aku jadi tahu .

      July 1, 2009 at 9:38pm · LikeUnlike
    • Tikwan Raya Siregar Ichwan Azhari: 081396822xxx

      July 2, 2009 at 1:42pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah tengki wan..

      July 3, 2009 at 3:09am · Like

One thought on “medan, the real trully city of Asia

  1. saya rasa bukan hanya Medan yg the real truly City of Asia.
    Beberapa kota Melayu lainnya di Indonesia juga pantas untuk disebut the real truly City of Asia.

    sebut saja misalkan Kota Pontianak.

    dan sepertinya sudah menjadi ciri khas kota-kota Melayu yg biasanya berada di pesisir, bahwa di kota tsb menetap berabgai suku bangsa, bahkan sudah semenjak berabad-abad yg lalu.

    oh ya, jgn lupa ke blogku ya,

    mo baca Cerpen-Cerpenku,
    silakan akses di: http://hanafimohan.blogspot.com/

    mo baca Puisi-Puisiku,
    silakan akses di: http://navyxbart.multiply.com/

    mo baca cerita mengenai Kota Pontianak dan cerita2 lainnya, juga ceramah2 agama, baca di:
    http://thenafi.wordpress.com/

    Hanafi Mohan

    E-Mail:
    aan_melayu@yahoo.co.id
    anak_ptk@plasa.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s