wisata

Laporan Adelin Lis 2006 (sebuah kilas balik)

adelin lis

JAM sudah menunjukkan pukul sembilam malam. Tapi suasana di Bandara Polonia Medan pada Sabtu 9 September 2006 tidak seperti biasanya. Ratusan orang terlihat berkumpul di terminal kedatangan domestik bandar udara kebanggaan masyarakat Sumatera Utara itu. Kira-kira siapa gerangan tamu yang dinanti-nanti itu?

Oleh. Dedy Ardiansyah

Puluhan petugas Brimob Poldasu bersenjata laras panjang dibantu personel dari TNI AU melakukan penjagaan ekstra ketat di dalam maupun luar terminal kedatangan. Radio panggil yang berada di tangan sejumlah petugas berpakaian sipil sahut menyahut berbunyi.

Malam itu, tak cuma petugas yang sibuk, belasan kru televisi dan awak media pun sudah stanby di lokasi itu sejak sore. Layaknya menanti seorang tamu agung, mereka gelisah, takut kehilangan sebuah momen penting.

Tamu yang dinanti-nanti itu tak lain bernama Adelin Lis. Buronan nomor wahid polisi. Sejak Januari 2006 lalu, lelaki berusia 49 tahun ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Mabes Polri dengan tuduhan terlibat illegal logging. Bos PT Inanta Timber (IT) dan PT Keang Nam Development Indonesia (KNDI), dituduh telah melakukan kegiatan penebangan liar di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Tak tanggung, akibat aktifitas perusahaan pengolah kayu tersebut, negara dirugikan ratusan triliun! Sejak ditetapkan sebagai DPO itu, Adelin Lis kemudian lari ke luar negeri.

Namun pelariannya tersebut terhenti ketika petugas Indonesia menangkap Adelin Lis di Beijing, China. Ia kemudian diterbangkan ke Indonesia dan diserahkan kepada pihak kejaksaan di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, pada Sabtu (9/9/2006). Saat yang sama, ia langsung diterbangkan ke Medan.

Di Bandara Polonia, malam pun kian bergerak. Tunggu punya tunggu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Namun Adelin Lis tak kunjung datang. Padahal menurut jadwal, 2 jam sebelumnya, tamu ‘kehormatan’ itu sudah harus tiba.

Namun suasana langsung berubah pikuk ketika waktu menujukkan pukul 22.30 WIB. Semua mata terkonsentrasi pada kedatangan sebuah pesawat GIA 186 yang baru saja mendarat mulus di landasan pacu bandara. Para kuli disket dan petugas kini sama-sama menjalankan fungsinya. Klimaksnya, Adelin Lis tak muncul dari pintu terminal kedatangan. Ia dilarikan polisi melalui pintu cargo bandara , yang berjarak sekitar 1 kilometer dari gerbang utama bandara. Wartawan pun terkecoh. Adelin diboyong dengan pengawalan ekstra ketat dan dibawa menuju kantor Polda Sumatera Utara.

Kini, tiga pekan sudah Adelin Lis menetap di sel tahanan Polisi Daerah Sumatera Utara . Ia ditempatkan di sebuah sel khusus berukuran tak kurang dari 4 x 4 meter. Untuk masuk ke ruang tahanan yang berada di lantai 1 markas besar Poldasu itu tak gampang karena harus melalui sejumlah pintu masuk yang tergembok. Tak hanya itu, pengawalan atas Adelin Lis pun ekstra ketat karena dijaga sejumlah personel Brimob bersenjata lengkap.

Sebelum digeret ke Medan, penangkapan Adelin Lis saat berada di Beijing sempat bikin heboh. Pasalnya setelah ditangkap petugas Indonesia, dia disebut-sebut berhasil kabur karena dibantu 20 orang tukang pukul untuk membebaskannya dari penjagaan petugas KBRI yang mengawalnya. Bahkan petugas itu diberitakan sempat dipukuli. Namun MD Sakti Hasibuan, pengacara Adelin Lis, membantah cerita versi polisi itu.

SOSOK ADELIN LIS

adelin lis

Adelin Lis selama ini dikenal sebagai pemilik Hotel dan Lapangan Golf Emerald. “Sahamnya 90 persen di Emerald,” kata penyidik Polda Sumut seperti dikutip dari Media. Menurut perwira di Polda Sumut itu, selain memiliki hotel dan lapangan golf Emerald, Adelin Lis juga developer rumah-rumah mewah.

“Dia yang membeli tanah hektaran di Polonia dari Angkatan Udara. Kemudian, dia bangun menjadi rumah mewah yang satu rumah seharga Rp1 miliar,” ujar penyidik yang enggan disebut namanya. Adelin juga memiliki uang banyak. Uangnya antara lain disimpannya di Bank Swiss dan Bank di Singapura.

***

Bila dirunut, kasus ini bermula dari komitmen Kapolri Jenderal Sutanto untuk memberantas illegal logging di Indonesia. PT IT dan PT KNDI sendiri sudah sejak lama dikenal sebagai perusahaan perambah hutan di Sumut. PT IT dan KNDI sudah beroperasi sejak 1970-an yang merupakan anak perusahaan PT Mujur Timber, sebuah perusahaan raksasa yang memproduksi plywodd dan sejenisnya. PT Mujur Timber ini didirikan dan dikuasai penuh oleh keluarga Lis sejak 1960-an. Pemilik saham PT Mujur Timber 100 persen dipegang oleh keluarga Lis.

PT Mujur Timber mendapatkan pasokan bahan baku dari anak-anak perusahannya, termasuk PT IT dan KNDI tersebut. Selain itu, masih ada sejumlah perusahaan IUPHHK yang merupakan anak persuhaan PT Mujur Timber. Misalnya, PT Gruti Lestari Pratama yang banyak beropersia di Pulau Nias dan PT Mitra Wana Lestari yang beroperasi di Kabupaten Labuhabatu. PT Mujur Timber juga punya perusahaan IUPHHK lainnya di NAD dan Riau.

Pada 23 Januari lalu, melalui operasi Hutan Lestari di perairan Sibolga, tim bentukan Polda Sumut, berhasil menangkap tongkang yang ditarik KM Mutim Express. Kapal itu memuat 552 batang kayu gelondongan tanpa dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) yang sah. Kayu-kayu itu diduga bersumber dari penebangan ilegal yang dilakukan PT KNDI dan PT IT. Saat dikembangkan, polisi kembali menemukan 840 batang kayu milik PT IT dan PT KNDI di sawmill PT Mujur Timber di Sibolga. Kayu-kayu itu pun disita oleh Polda Sumut yang direncanakan akan dilelang Oktober mendatang.

Terkait penangkapan itulah kemudian 3 pucuk pimpinann PT KNDI dan PT IT, Adelin Lis, Adenan Lis dan Lee Soek Man (Mr Lee) dinyatakan buron sejak Februari lalu. PT Mujur Timber sendiri, meski dikenal sebagai “induknya” mafia kayu di Sumut belum bisa dijerat Polda Sumut. Dari penangkapan KM Mutim Express itulah ditetapakan 5 tersangka tersebut di atas. Berkas perkara Kepala Seksi Legalitas Dinas Kehutanan Madina, Nirwan Rangkuti, manajer lapangan PT Keang Neam Development Indonesia (KNDI), Susilo Setiawan, dan nahkoda KM Mutim Express, Yosmel Purba, telah divonis PN Sibolga pada 7 Agustus lalu.

Hebatnya, hakim PN Sibolga menyatakan tidak terbukti adanya illegal logging. Makanya Yosel Purba divonis bebas dan kayu yang dibawanya dianggap sah. Sementara Nirwan Rangkuti divonis 10 bulan dan Susilo Setiawan divonis 8 bulan terkait pemalsuan dokumen SKSHH. Atas vonis tersebt, Kejari Sibolga telah pula menyatakan kasasi.

Sementara, perkara 2 tersangka lainnya, Kasubdis Bina Produksi Dinas Kehutanan Madina dan pejabat pos pengamanan laut Batang Gadis, Madina, Zainal Abidin, masih diproses.

Selain Adelin Lis, Polda Sumatra Utara dan pihak imigrasi juga terus melakukan perburuan terhadap abangnya, Adenan Lis. Ia sudah dinyatakan masuk DPO (daftar pencaharian orang) dan sudah dikeluarkan red notice oleh Interpol.

Kapoldasu Irjen Pol Bambang Hendarso Danuri sendiri tidak bersedia menyebutkan di mana kemungkinan Adenan berada. Namun, dia tidak juga membantah bahwa kemungkinan Adenan jugamasih berada di Beijing, seperti Adelin saat ditangkap.

Kerugian negara

Pertanyaan selanjutnya adalah darimana perhitungan kerugian negara didapatkan polisi sehingga muncul angka ratusan triliun tersebut. Rupanya ada dua model perhitungan yang digunakan polisi yakni melalui hasil audit BPKP dan audit tim ahli Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).

Dari BPKP diketahui jika perusahaan Adelin, PT Inanta Timber, selama 2000 hingga 2005 tidak pernah membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) senilai Rp 256 miliar lebih. Mereka juga tidak membayar Iuran Dana Reboisasi (IDR) senilai 2,3 juta US dolar lebih di lahan seluas 40600 hektar.

Sedangkan untuk perusahaan Adelin yang lain, PT Keang Nam Development Indonesia (KNDP), kerugian negara mencapai Rp 309 miliar lebih untuk PSDH dan 2,9 juta US dolar untuk IDR di lahan seluas 58590 hektar.

Ini masih ditambah dengan audit tim ahli KLH yang turun ke lapangan. Dari aspek kerugian lingkungan hidup, yang di dalamnya ada komponen ekonomi, ekologi, dan rehabilitasi, PT Inanta menyebabkan negara kehilangan Rp 225 triliun dan PT Keang Nam Rp 202 triliun.

Kerugian negara bisa lebih banyak lagi karena ada satu lokasi di areal Sumut— yang masih dalam pengawasan Adelin— yang langsung menuju laut bebas sehingga berapa banyak kayu yang dijarah tidak bisa dikontrol. Kayu-kayu itu dijual ke Singapura, Tiongkok dan negara lain.

Dengan kerugian sebesar itu, Adelin pun langsung dijerat dengan empat UU sekaligus. Yaitu UU 41/99 tentang kehutanan, UU No 31 tahun 1999 juncto UU No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, UU 23/97 tentang Lingkungan Hidup, dan UU 15/2002 tentang Money londering. Ancaman maksimal pidana seumur hidup.

Kapolri Jenderal Pol Sutanto mengatakan jika hukum tak mengenal pandang bulu dan tebang pilih. Hukum harus ditegakkan secara konsisten, profesional, dan terbuka. Apalagi di sektor illegal logging yang menjadi perhatian serius pemerintah.

***

Berbeda halnya dengan Adelin Lis yang harus diuber-uber polisi sampai ke luar negeri, Hadi Ismanto alias Aseng Petani punya cara lain. Setelah dibronan dalam ksus illegal logging hutan lindung register 1,2 dan 18 kawasan Simalungun ini, dengan elok ia menyerahkan diri ke Kedutaan Besar RI di Malaysia, Rabu (27/9) kemarin. Sehari kemudian Aseng digelandang petugas ke Mapoldasu.

Menurut Kapoldasu, tersangka Aseng diduga telah melakukan perambahan hutan di register 1, 2 dan 18 kawasan Simalungun. Berdasarkan data yang diperoleh, dari sekitar 6 ribu hektar lahan hutan, 2.060,25 hektar di antaranya telah mengalami kerusakan. Tersangka juga telah melakukan peralihan fungsi kawasan hutan produksi dan lindung menjadi kebun kelapa sawit, coklat, mahoni dan jenis pohon lainnya yang telah berusia 5 hingga 20 tahun.

Tulisan ini adalah laporan ketika kasus Adelin Lis tertangkap pada September 2006 lalu. Data dan sumber aku sunting dari berbagai media.

One thought on “Laporan Adelin Lis 2006 (sebuah kilas balik)

  1. Apabila semua yang disebut sebagai kerugian negara akibat perbuatan seluruh pejabat negara (yg dijadikan tersangka, terdakwa, terpidana korupsi) dari sabang s/d merauke, talaud hingga rote, maka jumlah itu masih kalah dengan jumlah kerugian oleh seorang Adelin Lis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s