documentary / Intermezzo / media

Alon Buluek (de Verschrikkelijke Zeegolf)

alon-buluek.jpg

SEDIANYA, buku Alon Buluek (Gelombang Laut yang Dahsyat) ditulis Ayi Jufridar untuk konsumsi remaja. Novel yang diangkat dari kisah nyata itu diikutsertakan ke dalam lomba penulisan novel remaja tahun 2005 silam yang dilaksanakan Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) dan Radio Nederland Seksi Indonesia (Ranesi). Novel itu meraih juara ketiga dari 600 lebih naskah yang masuk.

Namun, dalam perjalanannya, novel itu ternyata dikonsumsi berbagai kalangan usia. Begitulah yang terlihat dalam peluncuran (launching) Alon Buluek (Gelombang Laut yang Dahsyat) ke dalam bahasa Belanda yang berlangsung di Gedung Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta, 12 April 2007 malam. Peluncuran dilakukan dalam acara Aceh Evening yang dimeriahkan dengan tari Saman dari mahasiswi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Aceh Evening juga menggelar pameran foto tentang pembangunan Aceh selama dua tahun terakhir karya fotografer Belanda, Hilde Jansen, dan fotografer Indonesia, Muhammad Iqbal.

 Peluncuran buku Alon Buluek (de Verschrikkelijke Zeegolf) dibuka langsung Duta Besar Belanda untuk Indonesia Dr Nikolaos Van Dam. Dalam sambutannya yang disampaikan dalam bahasa Indonesia, Nikolaos mengaku sangat tertarik dengan Alon Buluek yang bercerita tentang perjuangan seorang perempuan muda Aceh untuk menyatukan keluarganya kembali yang tercerai-berai akibat bencana tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004 silam. “Saya ingin membaca dalam edisi Bahasa Belanda. Apakah penerjemahannya ini sudah benar,” kata Nikolaos setengah bercanda.

Dalam kesempatan itu, Dubes Belanda untuk Indonesia mengatakan pemerintahannya tetap menaruh perhatian kepada masyarakat Aceh meskipun bencana tsunami lebih dari dua tahun berlalu. “Sampai saat ini, lebih dari Rp 200 miliar sudah diberikan kepada masyarakat Aceh,” ungkapnya.

Han Harlan yang mewakili Radio Nederland mengaku ikut berbangga dengan peluncuran buku tentang Aceh dalam bahasa Belanda. Dengan penerjemahan ini, ia berharap lebih banyak warga internasional yang mengetahui tentang Aceh dari sisi yang berbeda.

“Dengan buku ini semoga masyarakat tidak segera melupakan Aceh. Masih banyak yang perlu kita lakukan untuk Aceh,” ujar Han dalam bahasa Inggris.

 Selain Dubes Nikolaos dan Han Harlan, Ayi Jufridar juga diberi kesempatan mempresentasikan bukunya selama 10 menit. Bahkan, sebelum acara dimulai Han mengatakan Aceh Evening memang acaranya Ayi Jufridar. “Kalau Ayi tak bisa hadir, Aceh Evening mungkin tak jadi. Jadi, Ayi yang jadi bintang utamanya,” ungkap Han ketika sehari sebelumnya melakukan briefing dengan Ayi di Plaza Indonesia.

www.flickr.comAyi mengatakan lebih dari 70 persen cerita dalam Alon Buluek merupakan kisah nyata baik yang dialami sendiri maupun rekan-rekannya. Dia membutuhkan waktu hampir tiga bulan untuk menyelesaikan novel setebal 119 halaman tersebut. Padahal, kalau dipadatkan, penyelesaian buku itu hanya makan waktu satu bulan. Persoalannya, seperti yang diakui Ayi, ia kerap harus meninggalkan penyelesaian novel karena terlalu sedih bila melanjutkan. Kalah kesedihannya hilang, novel itu digarap kembali. Tapi bila kesedihan datang, tulisan dibiarkan bahkan sampai berminggu-minggu.

“Banyak yang bilang bahwa menulis bisa menjadi terapi bagi kesembuhan luka. Tapi yang saya rasakan ketika itu, menulis berarti membuka kembali luka yang ingin saya lupakan. Sering saya dihadapi pada dilema ketika itu,” tutur Ayi di hadapan ratusan hadirin yang malam itu memadati gedung Erasmus Huis.

Kalangan yang hadir sebagian besar warga negara asing. Tapi banyak juga tokoh nasional, juga yang berasal dari Aceh seperti Adnan Ganto. Juga hadir wartawan senior Rosihan Anwar dan istrinya, bos Femina Group Pia Alisjahbana, serta sejumlah penulis dari Jakarta.

Seorang penerjemah buku-buku berbahasa Inggris, Tjancra Permadi, mengatakan siap menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Inggris karena komunitas yang membaca akan lebih banyak.

Alon Buluek (de Verschrikkelijke Zeegolf) diterjemahkan Maya Liem dan Lioe Hasseling. Selama penerjemahan, Maya Liem yang bermukim di Belanda gencar melakukan kontak dengan Ayi melalui email. Bahkan, profil Ayi yang dimuat dalam majalah berbahasa Belanda, Archiple Magazine, dilakukan melalui wawancara via surat elektronik. Sayangnya, saat peluncuran di Jakarta hanya Lioe Hasseling saja yang hadir.

Alon Buluek edisi Belanda itu diterbitkan hasil kerjasama beberapa pihak. Selain Radio Nederland Weredomroep, juga ada Grasindo, ICCO Parner van Ondermende Mensen, dan Kerk In Actie Giro 456.

 Bagi Ayi, ini adalah buku pertama yang diterbitkan yang ditulis seoarang diri. Tapi sebelumnya,dalam berbagai antologi cerpen dan puisi bukunya sudah banyak beredar. Di antaranya, cerpen dalam Antologi Sastra Putroe Phang (2002), puisi dalam Antologi Aceh dalam Puisi (2003), puisi dalam Antologi Puisi Maha Duka Aceh (2005), puisi dalam Antologi Puisi Lagu Kelu (2005), dan cerpen dalam Kumpulan Cerpen, Bayang Bulan di Pucuk Manggrove (Dewan Kesenian Banda Aceh, 2006). Selain itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe ini sudah mempublikasikan lebih dari 200 cerpennya di berbagai majalah remaja di Jakarta.

Di sela kesibukannya sebagai jurnalis, Ayi masih menyempatkan diri menulis novel yang sebagian besar diangkat dari kisah nyata selama meliput di Aceh yang dikenal sebagai daerah konflik dan bencana. “Meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma, ketika pers dibungkam, sastra yang bicara. Banyak kejadian di Aceh yang tak bisa ditulis dalam bentuk berita di tengah kondisi seperti sekarang. Saya memilih menulis dalam bentuk fiksi,” ujar Ayi yang mengagumi karya Pramoedya Ananta Toer dan juga karya penulis Aceh, Azhari.

Ayi mengaku akan menjadikan profesi sebagai penulis sebagai gantungan hidup meskipun sempat menjadi anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP Kabupaten Aceh Utara. Ditanya tentang impiannya saat ini, Ayi mengaku ingin menulis tentang jurnalis di Aceh. “Setiap wartawan seharusnya mempunyai impian untuk menulis buku. Berita-berita yang ditulis akan segera dilupakan orang. Tapi dengan buku sebuah isu bisa bertahan lebih lama,” ujar Ayi.***

2 thoughts on “Alon Buluek (de Verschrikkelijke Zeegolf)

  1. Assalamu alaikum,
    Bolehkah saya tahu emailnya Ayi, teman saya yang bersama Nasir Age dan Nurdin Supi (ketiganya penulis produktif alumnus Poltek Unsyiah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s