wisata

Surga Baru Pemburu Kayu

foto-4.jpg img_4951.jpg

 

Penebangan pohon durian menjadi trend baru di Kabupaten Langkat. Para pemburu kayu tergiur karena kualitasnya disebut-sebut setara dengan Meranti. Tak heran kalau kemudian Langkat dilirik sebagai surga baru para pemburu-pemburu kayu.

Motor yang kami kendarai melaju dalam kecepatan sedang menyusuri jalan tanah yang becek dan berlumpur. Tak jarang pula terperosok ke dalam kubangan lumpur sedalam betis kaki orang dewasa. Beruntung motor Suzuki TS 120 yang kami tunggangi cukup jantan melahap rute-rute menantang itu.

Berangkat dari sepotong informasi dari Sukiwi Tjong, anggota DPRD Binjai yang menyebut pohon-pohon durian di Langkat diburu demi memenuhi kebutuhan kayu yang belakangan semakin sulit ditemui di pasaran. Katanya, harga batangan durian terbilang mahal. Kami pun menyusuri Langkat mencari tahu kebenaran informasi ini.

Sukiwi begitu gelisah, andai saja batang-batang pohon durian terus ditebang, bukan mustahil aroma khas dan kelezatan buah berduri itu tak lama lagi bakalan punah. “Bahkan kita tak bisa mengelak kalau akhirnya ekosistem lingkungan akan rusak bila pohon durian habis ditebang,” ujar anggota legislative dari Partai Damai Sejahtera ini.

Setelah melalui perladangan warga, kami dan seorang pemandu lokal memasuki sebuah wilayah dimana berdiri tegak jejeran pohon-pohon durian di sebuah dusun bernama Nambitung, Kecamatan Selesei, Kabupaten Langkat. Di tengah kerimbunan pohon durian suara sayup-sayup terdengar suara mesin chainsaw memecah keheningan. “ Itu, kayaknya ada yang menebang pohon durian, “ ujar lelaki yang memandu kami. Namanya sengaja kami sembunyikan karena bisa membahayakan dirinya.

Dilalanya, sesaat sebelum kami mencari tahu aktifitas di bawah pohon durian itu, tiga lelaki bertampang kasar muncul dari balik batang pohon durian. Mereka menenteng golok dan mesin chainsaw. Kiranya suara motor yang kami kendarai cukup menyadarkan mereka untuk tidak meneruskan kegiatan penebangan pohon. “ Woi, mau apa kalian ke sini,” teriak seorang lelaki bertubuh kurus dari jarak 20 meter. Ia membawa golok dan setengah berlari ke arah kami.

Dalam situasi tak menentu itu, kami tak mau ambil resiko. Menyalakan motor dan berlalu dengan kecepatan tinggi sepertinya jalan terbaik dari pada berargumentasi di daerah yang jauh dari pemukiman warga itu. Beruntung , tak ada aksi kejar-kejaran.

Dari awal, pemandu kami sebenarnya juga sudah mengingatkan tidak mudah untuk mengabadikan aktifitas warga yang menebang pohon durian. Bahkan Rangkup Sitepu, Kepala Desa Nambiki berpesan untuk hati-hati. “ Rata-rata yang menebang itu ceka-ceka (centeng kampung),” ujar Rangkup.

Sejatinya, para penebang kayu durian tak perlu cemas dengan aktifitas mereka. Karena menebang pohon durian bukanlah hal yang melanggar hukum. Tapi menurut pemandu kami tadi, mereka takut karena latar belakang para penebang itu sebelumnya adalah perambah hutan. “ Mereka tak biasa diganggu. Apalagi ini, mau difoto-foto,” ujar pria berkulit hitam sedikit kesal.

Rupanya, penebangan pohon durian memang lagi marak di Kabupaten Langkat. Merebaknya fenomena ini sudah dilakoni warga sejak dua tahun terakhir. Situasi ini diperkuat sejak pemerintah menabuh genderang perang terhadap pembalak liar. Faktor pemicunya karena di pasaran harga kayu durian cukup mahal.

Begitu diminatinya pohon durian sampai-sampai sebatang pohon durian yang sudah mati disambar petir pun dihargai Rp. 12 juta. “ Padahal 2 tahun sebelumnya kami sudah menawarkan Rp. 8 juta pada pemiliknya untuk ditebang” ujar Lolok, 34 tahun, salah seorang warga Kuala yang berprofesi sebagai penebang kayu durian.

Demikian menggiurkannya bisnis kayu durian ini sehingga sejumlah warga merelakan pohon durian mereka dijual. Karena menjual sebatang pohon durian jauh lebih menguntungkan bila sekadar berharap dari hasil penjualan buah durian yang hanya bisa dinikmati setahun sekali atau saat musim durian tiba. “ Kalau musim durian datang, paling-paling keuntungannya Rp 500 ribu – Rp 1 Juta. Itu tidak sebanding dengan penantian kami setahun lamanya,” ujar J Sembiring, warga yang pernah menikmati hasil penebangan kayu duriannya.

Beberapa warga yang ditemui Global sejauh ini menolak anggapan kalau pohon durian menjadi bisnis mereka. Pengakuan Sembiring, ada dua faktor utama warga menebang pohon-pohon durian mereka. Bila tidak karena kondisi pohon yang sudah mati, alasan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sebagai pemicunya.

Apalagi tidak ada hukum yang melarang warga untuk menebangi pohon-pohon milik mereka. Malah Pemda Langkat sudah mengatur penebangan pohon-pohon kampung dalam Perda No 4 tahun 2004.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Langkat (Hutbun) Ir Azwar Pane mengurai sejumlah persyaratan bagi masyarakat yang ingin menebang berbagai pohon yang ada di areal kebunnya.

Syaratnya juga tergolong mudah. Cukup mengajukan surat permohonan pemanfaatan hasil hutan rakyat, lalu Hutbun akan melakukan pengukuran terhadap areal hutan yang diusulkan warga tadi.” Ini untuk mengetahui apakah hutan yang akan ditebang itu tidak masuk ke daerah hutan lindung atau hutan yang dilindungi lainnya,” ujar Pane.

Jika memang hutan itu telah “streril” dan benar tidak masuk dalam wilayah hutan yang dilindungi, warga tinggal mengajukan surat keterangan asal usul kayu kepada kepala desa setempat. Setelah proses ini dilalui, kayu pun sah untuk dilego.

Berangkat prosedur ini tak aneh maka setiap hari ada saja pohon durian yang ditebang warga.

Selain menguntungkan sang pemilik durian, belakangan ini banyak warga yang melakoni pekerjaan baru sebagai agen sekaligus pemotong kayu durian. Warga yang memilih profesi ini utamanya mereka yang tinggal di empat kecamatan di kawasan Langkat Hulu yakni, Kecamatan Selesei, Kuala, Salapian dan Bahorok. Daerah di mana ribuan batang pohon durian tumbuh di halaman rumah warga.

Memang sejauh ini belum ada data resmi berapa jumlah warga yang telah menjual batang durian atau berprofesi sebagai agen ataupun pemotong durian. Namun hasil pengamatan tim Global di lapangan, setiap hari, apalagi menjelang sore, sedikitnya 20 truck cold diesel bermuatan 4 hingga 5 ton kayu durian berseliweran di jalan. Belum lagi kehadiran sawmill atau kilang-kilang kayu yang kian marak dijumpai di sepanjang jalan kawasan Langkat Hulu.

Mengapa kayu durian demikian dicari? “ Kualitas kayu durian setara dengan meranti,” ungkap Husni Handoko, pengusaha kilang kayu di Desa Suka Tani, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat.

Menurut Husni, tingginya permintaan kayu khususnya durian sudah terjadi satu tahun silam sejak pemerintah menyatakan genderang perang terhadap pelaku illegal loging. Seiring banyak pelaku illegal logging yang ‘tobat’, maka tak bisa dihindari volume kebutuhan kayu di masyakat kian meningkat.

Kata Husni lagi, industri-industri kayu yang kewalahan mencari bahan baku pada akhirnya beralih mencari kayu-kayu sembarang yang berasal dari kampung. Tak hanya kayu durian saja yang diburu, berbagai jenis pohon seperti pohon rambung (karet), cempedak hingga pohon jengkol. Malahan pohon kemiri, yang selama ini tak memiliki nilai ekonomis karena kandungan airnya tinggi tak luput dari sasaran.

Tak cuma mengkhawatirkan kepunahan pohon durian, Malem Sambat Kaban, Menteri Kehutanan yang juga putra kelahiran Langkat turut prihatin karena aktifitas warga ini akan berdampak pada lingkungan sekitar. “ Sebatang pohon durian setara dengan 1000 liter air. Tak bisa dibayangkan bagaimana kalau akhirnya kayu-kayu kampung sudah habis ditebangi. ,” ujarnya dihadapan warga Desa Maniki pertengahan April lalu

3 thoughts on “Surga Baru Pemburu Kayu

  1. Pingback: Ucok Durian, Durian Medan | dedy ardiansyah

  2. saya punya pohon duren,daun nya udah mulai berguguran karna udah tua.pohon nya lurus tinggi gede nya saya kurang tau,tapi kalau ada yg minat nanti sya kasih photo nya.saya di sukabumi jawa barat silahkan sms ke.0819 1191 4438.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s