wisata

Menanti Punahnya Durian Bahorok

hal_19_reportase-1b.jpg

Langkat sudah lama terkenal sebagai pemasok buah durian ke sejumlah daerah di Sumatera Utara. Bagi penikmat buah berduri ini, durian Bahorok konon memiliki kelas tersendiri karena lemak dan mengandung cita rasa berbeda dibanding buah durian daerah lain. Sayang hal ini tak akan berlangsung lama karena kini kita tinggal menanti kepunahnya saja.

Tak salah memang kalau Langkat dijuluki Kota Durian. Sepanjang perjalanan, pohon-pohon durian akan jamak ditemui. Pohon-pohon itu tumbuh di halaman rumah warga-warga khususnya di empat kecamatan di Kabupaten Langkat di antaranya Kecamatan Langkat Hulu, Selesei, Kuala, Selapian dan Kecamatan Bahorok sendiri.

Dua bulan ke depan, dapat dipastikan warga desa di kawasan ini akan menikmati musim durian. Saat ini saja, batang-batang pohon durian sudah mulai berbuah. Ratusan buah durian sudah terlihat bergantungan di ranting-ranting pohonyang menjulang tinggi.

Sejatinya, keberadaan pohon-pohon durian di kawasan Langkat dan sekitarnya sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Tak aneh bila, kalau batang-batang pohon durian ada yang telah berusia ratusan tahun. Yang pasti, kata Dede Alamsyah Sinuraya, Sekretaris Desa Nambiki, keberadaan pohon durian itu merupakan simbol dan identitas warga Langkat.. “ Pemilik pohon durian adalah orang Karo, penduduk asli di Langkat.Karena umumnya pohon durian merupakan warisan dari leluhur kami,” terang Dede.

Kata Dede, bagi masyarakat Karo di Langkat, keberadaan pohon-pohon durian itu masih diikat oleh adat istiadat yang kuat. Apabila ada warga yang ingin menjual ladangnya, berikut pohon durian di dalamnya yang pertama kali ditawari adalah keluarga terdekat. “ Ini tradisi yang masih kami pegang sampai sekarang,” ungkapnya.

Karena itu, Dede tidak terlalu gusar bila ada warga yang menebang pohon durian untuk dijual. “ Tak perlu khawatir, durian di sini tak akan pernah punah. Kalaupun ada yang dijual, bukan semata untuk bisnis,” terangnya.

Menurut Dede, selama ini faktor utama warga yang melakukan penebangan pohon durian lebih disebabkan karena kondisi durian itu sendirikarena sudah tua atau mati. Tapi dia juga tidak membantah kalau ada sebagian warga yang berniat memotong duriannya karena alasan ekonomi.

“Rata-rata pohon durian yang ditebang usianya sudah ratusan tahun. Daripada mati, kan lebih baik dijual. Lagi pula itu tidak jadi masalah karena warga juga tak lupa menanam penggantinya,” ujar Dede lagi.

Optimisme Dede itu tidak sepenuhnya diamini warga lainnya. Menurut Lolok, seorang warga Desa Kuala warga masih menunggu waktu yang tepat untuk menebang pohon-pohon milik mereka. “Mereka masih menunggu karena tak lama lagi kan musim durian,” ujarnya.

Disamping itu, masih ada warga yang belum cocok dengan harga pasaran kayu durian sekarang. Menurut lelaki berkulit hitam ini, harga kayu durian setiap bulannya mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

Harga dari pohon durian masih bergantung dari usia dan kualitas kayunya. Semakin tua usianya, maka harganya akan melambung. Untuk sekarang saja harga per ton kayu durian berkisar antara Rp 1,2 juta hingga 1,5 juta. Hitung saja berapa keuntungan warga bila untuk sebatang pohon durian yang rata-rata beratnya mencapai 5 sampai 7 ton. Malah untuk pohon durian yang berusia ratusan tahun, beratnya bisa mencapai 12 ton lebih.

“Harganya pasti terus naik. Warga masih menunggu momen yang tepat saja,” ujarnya.

Di sisi lain perburuan “kayu kampung” adalah alternatif industri kayu memenuhi ketersediaan kayu yang terus menurun akibat pemberantasan illegal loging. Salah satu yang menjadi pavorit ya kayu durian itu.

Tak aneh kalau dalam dua tahun terakhir bermunculan kilang-kilang kayu dan sawmill di sejumlah wilayah Langkat Hulu. Konon pula, karena terdesak kebutuhan kayu, seorang pengusaha asal Taiwan ikut membuka kilang baru di kawasan Langkat Hulu.

Kehadiran industri-industri kayu itu tentu akan mempercepat proses kepunahan durian-durian di daerah tersebut. Husni Handoko salah seorang pemilik kilang di Desa Suka Tani, Kecamatan Kuala memperkirakan punahnya pohon-pohon durian di Langkat tak perlu menunggu waktu lama. “ Melihat persaingan bisnis kayu sekarang, saya yakin dua atau tiga tahun lagi pokok-pokok durian di sini akan habis. Apalagi kualitas kayu duriansetara dengan kayu meranti. ” ujarnya.

Bila kondisi ini dibiarkan terus, dalam waktu dekat buah durian Bahorok yang terkenal itu mungkin akan tinggal kenangan.

Sayembara ala Pak Menteri

Jauh di Jakarta, Malem Sambat Kaban sudah mencium kegemaran warga menebangi pohon durian. Kayaknya ia punya kewajiban moral mengingatkan warga di Desa Nambiki, Kecamatan Selesei Kabupaten Langkat yang tak lain kampung kelahiran Menteri Kehutanan ini.

Di desa ini, ratusan batang pohon durian berusia ratusan tahun tumbuh dengan subur. Buah durian daerah ini tak kalah kelas dibanding durian lain di daerah Langkat sekitarnya. Bahkan sejumlah warga meyakini, durian mereka jauh lebih nikmatdibanding durian asal Bahorok.

April lalu, saat kembali ke kampungnya, MS Kaban menyebutkan bahwa aktifitas penebangan pohon durian bisa berdampak buruk bagi lingkungan hidup. “ Sebatang pohon durian yang ditebang sama artinya kita kehilangan 1000 liter air,” katanya di hadapan ratusan warga Nambiki.

Menurut Kepala Desa Nambiki, Rangkup Sitepu, perhatian MS Kaban terhadap desa kelahirannya itu sudah ditunjukkan ketika ia masih menjabat sebagai anggota DPR RI. Saat itu ia pernah menyumbangkan 10 ribu bibit pohon mahoni dan jati putih untuk ditanami warga di desa itu.

Saat berada di desa itu, MS Kaban menawarkan semacam sayembara pada warga Nambiki. “ Pak Menteri menawarkan warga untuk menanam bibit pohon apa saja. Ia berjanji akan mengganti biaya pembibitan itu,” sebut Sitepu.

Cara itu ternyata cukup jitu mengajak warga menjaga lingkungan. Sejumlah warga saat ini berlomba-lomba mengikuti sayembara Pak Menteri. Pak Lolom misalnya tengah sibuk mengurus pembibitan pohon durian. Di atas tanah yang tak begitu luas, saban pagi ia mengurusi 200 bibit duriannya. “ Saya akan menunjukkan tanaman ini pada Pak Menteri. Kabarnya bulan depan— Juli, Pak Kaban mau datang,” sebut Pak Lolom yang merupakan warga pendatang di desa itu antusias. (dedy ardiansyah)

4 thoughts on “Menanti Punahnya Durian Bahorok

  1. ASS, Kepada abang Dedy terus berjuang buat Langkat semakin sejahtera khususnya dari sektor makanannya….
    Saya adalah orang Langkat asli tepatnya di Desa Teluk, Balai Gajah. Saya juga pada dasarnya sama seperti abang, ingin mempromosikan Langkat supaya kesejahteraan masyarakatnya terjamin.
    Sebagai bukti, beberapa minggu yang lalu saya promosikan pariwisata yang ada di Langkat sama teman-teman saya di sini (Unimed) dan ternyata mereka responsip dan ingin tahu lebih tentang Langkat. Oleh karena itu, mari bang sama-sama kita promosikan Langkat supaya lebih baik lagi. Kalau bisa jangan hanya kritikan saja Bang, tapi kita juga harus bisa mengatakan pada mereka akan kelebihan Langkat kita yang tercinta ini.

  2. Bagaimana caranya agar setiap bibit yang ditanam ada kompensasi sesuai omongan pak Menteri. Dan berapa besaran yang terakreditasi/terbayar per batang bibit yang ditanam.
    Juga bagaimana cara memperoleh bibit stek/okulasi dari durian yang terbaik dari durian-durian Bohorok yang ada?
    Kebetulan saya sudah sering makan durian bohorok yang memang rasanya the best.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s