wisata

PMI Tersandung Darah Segar

kantong darah

Reportase: Dedy Ardiansyah

Praktik percaloan darah sudah lama terjadi. Di Medan, dua orang tukang becak bertahun-tahun bebas melakukan praktik pengambilan darah pasien di kantor Palang merah Indonesia (PMI) .

Ini kabar buruk bagi masyarakat Medan yang rutin mendonorkan darahnya di kantor Palang Merah Iindonesia (PMI) cabang Medan. Tengok saja kelakuan Ramlan Satria, 40 tahun, dan Abdul Rahman Lubis (35). Setelah sekian tahun ‘bertugas’ di PMI Medan, awal pekan lalu aib keduanya terbongkar. Mereka tak punya latar belakang pendidikan apapun untuk melakukan transfusi darah. Profesi mereka sesungguhya hanya sebagai penarik becak.
Ramlan Satria merupakan warga Jalan Famili Dusun IX Desa Bandar Khalifah, Tembung. Sedangkan Abdul Rahman Lubis beralamat di Jalan Tangkul Blok X Indrakasih Medan. Perjalanan ’dinas’ mereka di PMI Medan terhenti setelah diadukan ke polisi karena telah melakukan praktik percaloan darah terhadap anak-anak di bawah umur atas Frengki Girsang, 16 tahun, Lukman Hakim (14), Jonathan Hutabarat, (17), dan Daniel Ginting, (17). Sabtu (2/9) dinihari lalu, mereka ditangkap polisi saat tengah menikmati makan malam di Jalan HM Yamin Medan.

Pertanyaan besar yang muncul, kok praktik transfusi darah yang dilakukan Ramlan dan Rahman bisa berjalan mulus? Cerita ini berawal ketika keduanya rutin berkunjung ke PMI Medan. Terkadang, ketika sepi penumpang, mereka menyambangi PMI untuk menjual darahnya. Sejumput rupiah kiranya cukuplah untuk menutupi kantong mereka sebagai penarik becak. Kebiasaan ini kiranya sudah menjadi tradisi. Darah mereka ditukar dengan selembar Rp 50 ribu-an. Tak aneh bila kemudian, wajah mereka pun tak lagi asing bagi sejumlah pegawai di sana.

“Pengalaman menjadi pendonor membuat mereka memahami kerja-kerja tim medis. Bahkan Ramlan sudah bisa mengambil darah si pendonor,” ujar Kompol Murniaty, yang pekan lalu masih menjabat sebagai Kanit Ruang Pemeriksaan Khusus (RPK) Reskrim Poldasu.

Dalam tahapan introgasi di polisi, mereka mengaku sudah menjadi calo darah sejak tiga tahun silam. Bisa dibayangkan, berapa banyak darah korban yang sudah ‘dihisap’ oleh keduanya. Dan untuk satu korban, biasanya mereka bisa mendapat untung Rp 15 ribu.

Di Rumah Sakit juga Terjadi
Sejatinya, kasus percaloan darah bukanlah cerita baru lagi. Praktik seperti ini juga sering terdengar di sejumlah rumah sakit di Medan. Dan pelakunya tak lain pihak rumah sakit atau paramedik itu sendiri. Rata-rata pendonornya adalah para abang becak yang sering ngetem di sekitar rumah sakit. Makanya, ketika kasus percaloan ini mencuat di PMI Medan, sejumlah syak wasangka pun muncul. Sudah demikian bobroknyakah managemen di PMI?

Polisi bukannya tak mengendus sejumlah kejanggalan dalam kasus ini. Misalnya, mengapa keduanya begitu leluasa melakukan aksi ‘penghisapan darah” di PMI Medan. Polisi tak yakin, kalau aksi ‘percaloan darah” itu dilakukan saat petugas medis sedang istirahat makan siang atau saat suasana kantor sedang kosong.

“ Keduanya mengaku beraksi tanpa diketahui pihak PMI Medan. Namun kita akan telusuri kebenaran pengakuan mereka,” ujar Murni.

Kata Murni, kesalahan terberat yang dilakukan keduanya karena mereka tidak punya kewenangan untuk mengambil darah korbannya. “ Sesuai peraturan, yang melakukan transfusi harus tim medis, dan minimal delapan minggu untuk setiap pengambilan,” jelas Murni. “ Kita pasti akan memeriksa pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini, termasuk juga kepala cabang PMI Medan terkait kasus jual beli darah dan pencaloan darah ini, apalagi korbannya anak dibawah umur, tentu kita akan memeriksa secara tuntas kasus ini,” imbuhnya lagi

Atas perbuatan tersebut, kedua tersangka terancam dikenai UU No 23 Tahun 2002 Pasal 85 tentang perlindungan anak dengan ancaman 10 tahun kurungan. UU 232 Tahun 1992 Pasal 80 Ayat 3, Pasal 82 ayat 1b serta juplak dari Menteri Kesehatan No 148/Menkes/PRI/1990 tentang transfusi darah

Menjadi Bola Panas
Tak bisa dielakkan, kasus ini pun menggelinding bak bola panas. Kepala Unit Transfusi Darah (UTD), PMI Medan, dr. Aisah Yatim gelisah karenanya. Ketika dikonfirmasi, Aisah mencoba mengelak. “Sekarang saya mau dipanggil ke DPRD, saya tidak mau berkomentar. Andakan sudah tahu kasusnya, kenapa Anda datang ke sini,” ungkapnya dengan nada tinggi di kantornya pekan lalu.

Sementara itu pihak PMI juga enggan untuk menyampaikan informasi mengenai kasus pencaloan darah ini. Sejumlah pegawai di sana pelit berkomentar. “Kita masih menunggu laporan dari kepala Unit Transfusi Darah (UTD), maka kami belum bisa memberikan informasi,” ungkap Darma Effend, Humas PMI Medan dikantornya.

Sesungguhnya, percaloan darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Medan diindikasikan sudah berlangsung lama. Setidaknya pengakuan itu disampaikan dr Muhajar, mantan Kepala Laboratorium Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Cabang Medan periode 2001-2005.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi B DPRD Medan, Senin (4/9), dr Muhajar membeberkan praktik percaloan di UTD PMI Cabang Medan telah menjadi tradisi. Bahkan, ia pernah membongkar praktik percaloan yang dilakukan di PMI Cabang Medan. “Saya langsung dipecat setelah melaporkan kasus dugaan percaloan itu ke pengurus PMI di Jakarta,” bebernya.

Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Komisi B itu dihadiri Ketua PMI Cabang Medan Sri Hartati Tani Maulana, dr Aisyah Yatin, utusan Dinas Kesehatan Medan dan orangtua dan para korban percaloan darah.

Ketika itu, dr Aisyah Yatin tak menyangkal adanya praktik percaloan di lembaganya itu. Namun, ia membantah kalau kasus yang dialami keempat anak yang baru saja terjadi merupakan bagian dari percaloan. ”Kami tidak percaya kalau keempat anak ini merupakan korban percaloan darah,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Medan Dhiyaul Hayati meminta agar PMI memperbaiki menajemennya. Sebab, hal ini menyangkut perbaikan nama organisasi ini di masa yang akan datang.

“Dinas Kesehatan Kota Medan hendaknya memberikan bantuan pemulihan kesehatan pada keempat anak yang menjadi korban penjualan darah. Sedangkan proses hukum terhadap para pelaku kejahatan jenis ini hendaknya tetap dijalankan sebagaimana mestinya. Sedangkan keluhan untuk mengatasi persoalan kekurangan yang saat ini dialami PMI Medan, perlu diadakan pertemuan dan diskusi lebih lanjut,” katanya.

Sementara anggota DPRD Medan lainnya, Jusmar Efendi menyarankan agar PMI mengeluarkan sejumlah dana sebagai pengganti puding bagi keempat anak yang menjadi korban “penghisapan” darah oleh para pelaku percaloan di lingkungan UTD PMI Cabang Medan.

Sayang, kasus ini masih belum menunjukkan titik terang. Saat Aisyah Yatim dipanggil ke Polda, polisi terkesan berusaha menutup-nutupinya. Kanit RPK Reskrim Polda yang baru dijabat AKP Verina menolak memberi keterangan. Tak hanya itu, pemeriksaan terhadap pejabat penyedia darah di Medan juga tak lazim karena dilakukan di luar jam dinas. “ Kami tidak bisa memberi keterangan,” kata Verina buru-buru mengamankan sejumlah saksi yang diperiksa.

Pemeriksaan yang terkesan ganjil ini memunculkan pertanyaan baru, sejauh mana keseriusan polisi untuk mengungkapnya. Padahal sebelumnya Direktur Reskrim Poldasu Drs. Ronny F Sompie, SH. MH sudah berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini. “ Kita akan meminta keterangan dari kepala PMI. Seharusnya hal seperti ini ada petunjuk teknis pelaksanaan, jadi tidak bisa main asal saja, dan dari hasil pemeriksaan sementara oknum PMI yang terkait kasus ini, sudah tidak lagi melihat dan memperhatikan sisi kesehatan pasien.”sebutnya.

Kasus ini hendaknya akhir dari praktik percaloan darah di Medan. Polisi tak cukup menjerat kedua tersangkanya dengan ancaman hukuman 10 tahun kurungan, tapi juga harus bisa menguak tabir gelap jual beli darah di PMI. Sudah saatnya para pelaku menerima ganjaran setimpal supaya praktik illegal tersebut tidak lagi terulang.

dedy ardiansyah| REPORTASE-Hr. GLOBAL| September 2006.

2 thoughts on “PMI Tersandung Darah Segar

  1. yth pemilik situs Dedypunya
    bolehkah saya mendapat informasi bgm pengelolaan darah di UTD PMI Medan,apakah pengelolaan darah menggunakan metode GSH (grouping screnning holding) selain metode permintaan darah pada umumnya
    thanks atas bantuannya
    raymond

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s