puisi

Apa Kata Dunia!

Sepenggal Kisah Anak Manusia

Sepenggal kisah dari hidup seorang anak manusia dalam melalui hidup. Baginya, hidup bukan sesuatu yang gampang diraih. Tidak juga dalam mimpinya. Baginya, ada dunia lain yang harus dilalui dengan liku-liku teramat berat.

Satu sisi, dirinya menginginkan mengulang lagi kehidupan masa lalu yang teramat sulit untuk dilupakan. Hidup yang dipenuhi CINTA, KASIH SAYANG hingga CINTA yang tidak berujung. Tapi manusia sadar, dia tidak mungkin merajut kembali mimpi-mimpi itu.

Manusia juga sadar, bahwa hidupnya tidak lagi berarti buat DIA. Karena sepenggal kisah yang dilaluinya saat ini bukan lagi miliknya seorang. Tidak bisa berbagi KASIH, karena KASIH sejati harus di “PAKSA” untuk hidup yang berbeda. BERAT dan teramat sangat, BEBAN itu harus di panggul walau dengan sebelah jalan.

Baginya, maaf tak juga cukup untuk menyirami tanah yang terlanjur menguning. Padahal dia masih berharap, pada tanah itu, untuk selalu setia bersama,membopongnya untuk melangkah, menjadi tempat berpijak. Tempat bersimpuh, tempat menampung semua penderitaan. Karena DULU, sebenih CINTA pernah tertanam dalam sebuah kerinduan yang mungkin hanya dia sendiri yang tahu.

Tapi dia, masih yakin, hidup akan terus berlalu bersama mimpi hitam yang sebenarnya tak ingin dia mimpikan. SEMOGA masih ada hidup lain yang bisa membawanya ke dalam kebahagian. Tersandung, tersangkut hingga tubuhnya tercabik-cabik, terperangkap dalam sebuah mimpi. Mimpi yang tak pernah berakhir….sampai jasadnya terbujur, dingin, membiru dan terperosok ke dalam lubang yang takkan pernah bisa digali.

Medan, 14 April 2002

————-

“Jalan Kita Tak Lagi Panjang”

Adalah sebuah kenyataan
Sampai hari ini bahwa yang aku rasa
Tidak pernah berubah

Sesungguhnya aku masih utuh
Utuh memiliki perasaan yang sama
Seutuh kenangan yang terpendam indah
Dengan segala cerita dan kisah itu

Enam tahun sudah aku berjalan
Mencoba menanggalkan keutuhan itu
Mencampakkan semua yang aku rasa
Mencoba menghapus segala impian lalu

Hanya aku tak begitu kuasa
Memupuskan dan menguburkannya.
Seolah semua sudah terpatri kuat, sangat indah
Kenangan sisi kehidupanku itu
Teramat manis untuk dicampakkan

Jujur,
Atmosfir kehidupanku masih memujamu

Menyeretku untuk menghadirkanmu kembali

Tapi kedewasaan alur berpikirku berontak
Keutuhan itu menghantarkan aku untuk menyadari
Jalan kita tak lagi panjang………..

———–

‘2’

merupakan angka favorit ku
angka 2 seakan begitu membekas dalam kehidupan ku
ntah kebetulan atau tidak, angka 2 benar-benar perduli dengan ku
masalahnya aku terlahir sebagai anak ke 2
dan hebatnya lagi, aku dilahirkan tepat pada tanggal 2 (meski tidak di bulan 2)
so, wajar donk kalo aku mendewakan angka 2

orang-orang filsafat bilang
penyuka angka 2, berkarakter low profil (katanya sih)
sosok yang tidak emosional (?), rasional (?) dan
tenang dalam mengambil keputusan (masa’sih ???)
2, juga akan membuat hidup lebih hidup…
seolah hidup tidak lebih sempurna kalau:
kaki dan tangan tidak diciptakan ber-dua
Indahnya dunia dan seksinya Tamara Blezinski
tidak dengan sempurna terlihat bila sebelah mata anda kelilipan batu bata.

Hidup juga akan tersiksa,
kalau sebelah lubang hidung anda ditempelin softex
ekstrimnya lagi kalau buah pelir dan payudara anda
cuma ada sebelah..wah…wah…
intinya aku mau menyampaikan
bahwa 2 juga berarti berpasangan
dalam arti menyatukan persamaan dalam sebuah kehidupan
menyamakan pemahaman tentang cinta, perasaan dan perbedaan.
juga 2, dalam pemahaman ku tidak berarti gemar men-dua-kan
yah..misalnya, men-dua-kan rasa, men-dua-kan Tuhan (insyaallah tidak)
konon lagi men-dua-kan cinta (sejauh ini sih… BELUM ??!.)
—————-
kisah ‘2’ ini akan dilanjutkan kembali pada episode ke-2

———-

bukan cinta biasa

Gurat wajah mu indah tercipta. Lembut menyentuh mendung semusim
Melekat dalam mimpi sadar ku. Menciptakan satu kidung mesra
Sekejap nun bermakna. Melahirkan asa yang tersisa.

Syair mu bergulir perlahan.
Menyusupi jiwa-jiwa yang bimbang. Menusuk kebekuan jiwa
Menjemput asa (yang) nyaris tak kembali

Menjaga norma yang kuat dibelit kilau dunia.
Keserdahanaan (yang kamu miliki) seperti umpama.
(tetapi) Berpendar abadi dalam cita rasa murni.
Saat norma peradaban terhantam

Pesona senyum mu (merupakan) ujian pada waktu dunia yang sedikit tersisa
Melenakan (nya) dan menjaga agar tetap sejiwa.
Izinkan (lah) aku selami samudera hati mu.
Menyeruakan duri jiwa mu, menghangatkan dengan cinta.
Membentuknya utuh, mengukir prasasti (akan) sebuah keyakinan
Meski aku sadar Bahwa kita : bukan cinta biasa.

Medan, 29 Agustus 2005

Terinspirasi dari jelang konser Siti Nurhaliza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s