my story

Surat Cinta Anak Kelas Dua SD

Ada-ada saja kelakuan Reza, anakku. Entah ketularan sinetron remaja sekarang atau memang anak-anak sekolah zaman saiki yang terlalu maju, yang pasti, saat bersih-bersih untuk persiapan masuk sekolah kemarin, aku menemukan dua surat‘cinta’ di lemari bukunya.

Surat cinta itu semacam curhat anakku terhadap salah seorang temannya sekelas yang bernama Ira. Antara kaget, geli, dan cemas aku membaca surat cintanya itu. Surat itu sendiri aku yakin ia tulis sudah cukup lama. Mungkin 3 atau 4 bulan yang lalu, ketika ia masih duduk di kelas dua SD.

Bayangkan saja coy, di salah satu suratnya, anakku ini bercerita kalau ia menyukai teman sekelasnya yang bernama Ira. Isi suratnya pun seperti puisi. Bunyinya begini:

Ira kamu jangan sama Sandi
Aku suka sama kamu
Ira aku cinta dan lopeh (maksudnya Love) deh ..

Tapi di suratnya yang lain, ia menuliskan kalau ia membenci si Ira karena dekat dengan teman temannya sekelas. Mau tau ancamannya? Selain putus, anakku juga mengancam tak mau lagi memberi si Ira minum …Huahahaha…..

Ira Ira ..
Kau jangan sama Sandi
Kalau kau suka sama Sandi kita putus
Kita tidak berteman selamanya
Ingat itu Ira, kau jangan mintak minum lag
Ira semalem aku sudah dihina dan diejek
Aku tidak mau kasih kau minum selamanya
Ira selamat tinggal
Ira…Ira…kita putus………..

Oia, si Ira temannya itu berkulit hitam manis dengan rambut sebahu dan selalu dikepang ala Zaenab Si “Doel Anak Betawi. Si Ira ini juga rangking satu di kelasnya. Konon menurut cerita anakku, ternyata dikelasnya, banyak yang suka sama si Ira ini…..

Cuma coy, apa ini tak salah? Masak anak yang baru berusia 7 tahun sudah pintar menulis surat cinta. Aku saja, baru menulis surat cinta sewaktu kuliah di semester 3. Itu pun langsung ku buang ke tong sampah karena cewek yang mau kutembak sudah keburu jadian ama temanku…

Nah ini, bagaimana mungkin anakku yang masih ingusan sudah bisa berkirim-kirim
surat cinta ke temannya. Aku yakin, ini bukan surat pertama Anakku. Pasti sebelumnya mereka pernah surat-suratan. Darimana pulak anakku dapat inspirasi menyusun kalimat demi kalimat cintanya itu…

Nah lucunya lagi, sewaktu aku konfirmasi soal surat cintanya itu, dengan wajah innocent anakku cuma bisa cengar..cengir, membantah manja..

“Yeee….Mana Ada Eza nulis itu,” katanya tersipu-sipu…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s