wisata

Kursi Panas Sang Ketua (II)

Ia punya alasan kuat kenapa Walikota Medan itu harus ikut mempertanggungjawabkan kebobrokan pengurus. “ Seluruh komposisi kepengurusan PSMS periode 2004-2008 disusun sendiri oleh Abdillah yang ketika itu formatur tunggal, Malah saya yang mendorongnya sebagai formatur tunggal,” ujar Martius sedikit menyesal.

Berangkat dari situ, Martius meminta Walikota Medan untuk bertangungjawab atas kemerosotan prestasi Ayam Kinantan itu. “ Abdillah sudah dua periode memimpin PSMS. Ia harus bertanggungjawab termasuk mempertanggungjawabkan penggunaan dana puluhan miliar uang rakyat. Kalau tidak mampu, mundur sajalah,” kecamnya.

Sebenarnya cukup aneh juga, lelaki berkulit hitam ini menohok Walikota Medan. Bukan lagi rahasia, kalau ia tadinya cukup akrab dengan Abdillah. Pada masa pemilihan Walikota 2004 lalu, pria berdarah Maluku ini cukup berperan memuluskan langkah Abdillah untuk bertahan di singgasana Walikota Medan untuk kali ke dua. “ Bung, sekarang kita bukan bicara pertemanan. Tapi soal sepakbola. Tolong dibedakan,” ungkapnya.

Sepotong pertanyaan kemudian meluncur. Apakah bukan karena sakit hati karena terdepak dari kepengurusan PSMS sekarang? “ Saya tidak perduli apa kata orang. Kalau saya tidak dimasukan di kepengurusan, tidak masalah. Tapi maunya orang-orang yang duduk di PSMS itu betul-betul righ man on the right place lah. Jangan asal comot saja,” ujarnya enteng.

Lelaki yang Agustus nanti genap berusia 58 tahun terlihat menguasai betul permasalahan yang terjadi di tubuh PSMS. Setelah meneguk Capucino, ia kemudian membeberkan panjang lebar bagaimana oknum tertentu menjadikan PSMS sebagai sapi perahan. Namun inti dari yang dibicarakannya: “ Kalau sudah bohong dalam hal pembangunan pisik, jangan lagilah berbohong untuk hal yang sifatnya kepentingan masyarakat banyak. Itukan namanya rakus,” sebutnya menyentil seseorang.

Sejatinya, sejumlah kebijakan pengurus yang dinilai kontroversi sudah mulai terlihat sejak Liga Indonesia ke XII akan diputar Januari lalu. Semua berhulu sejak dipindahkannya pemusatan latihan PSMS dari Stadion Kebun Bunga ke kompleks stadion TD Pardede di Jalan Binjai.

Alasan manajemen memindahkannya karena Stadion Kebun Bunga dianggap tak lagi refresentatif sebagai kawah candra dimuka tim sebesar PSMS Medan. Karena itu perlu direnovasi dengan menambah sejumlah fasilitas yang dapat mendukung pencapaian prestasi.

Seiring dengan perjalanan waktu, memasuki bulan ke tujuh, tanda-tanda untuk melakukan renovasi tak kunjung terlihat. Kondisinya dibiarkan terlantar tak terurus seperti rumah hantu. Bahkan banyak asset didalamnya raib entah kemana, “ Di sinilah roh sebenarnya PSMS. Dulu kebun bunga adalah tempat yang paling sakral. Tak pantas manajemen memindahkannya tampa alasan kuat,” ujar mantan wartawan senior Kompas, Syamin Pardede.

Malah, sumber Global lain yang berprofesi sebagai pejabat di lingkungan Pemko Medan lebih berani lagi . Menurutnya, pemindahan home best itu merupakan salah satu bentuk arogansi pengurus. “Alasan pemindahan itu hanyalah akal-akalan pengurus yang merasa tidak nyaman karena tak mau menerima kritik,” ujarnya. Ia menengarai pemindahan home best PSMS itu untuk memuluskan sejumlah oknum pengurus untuk meraih keuntungan pribadi.

“Mereka melihat di sini — stadion kebun bunga, banyak mantan pemain PSMS yang miskin. Mereka takut kalau mantan pemain ini merampas rezeki mereka,” ujar pria berpostur tinggi dan berkulit putih itu.

Caruk maruk di tubuh PSMS ini memang harus segera diselesaikan. Bila dibiarkan, bukan tidak mungkin masalah ini akan kian meruncing. Persoalan PSMS pun akan menjadi sebuah kursi panas bagi sang ketua umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s