wisata

Mayor Mohammad Iqbal | Dari Malaysia dengan Misi Kemanusian

Bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi pesisir pantai barat Sumatera mengundang simpati dari belahan dunia lain. Dunia mencatat peristiwa kelabu 26 Desember itu, membangkitkan solidaritas antar bangsa. Semua hadir dengan satu semangat yaitu untuk misi kemanusian. Sebuah misi kemanusian terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah antar bangsa.

Salah satu dari ratusan pilot yang datang untuk membantu misi kemanusia di Aceh dan Nias adalah Mayor Mohammad Iqbal.

laporan: dedy ardiansyah

saat tsunami terjadi di Aceh dan Nias, Desember 2004

Mayor Iqbal beserta 5 pilot Malaysia lainnya tiba di Bandara Polonia, Medan pada 29 Desember. Dalam misi kali ini, Malaysia mengirimkan 1 pesawat CN 235 dan 1 helikopter Super Puma. Mereka bahu membahu  membantu mengirimkan logistik ke daerah-daerah yang terkena bencana di Aceh dan Nias.

Misi pertama mereka adalah mengevakuasi 25 mahasiswa Malaysia yang kuliah di Universitas Unsyiah, Banda Aceh. Beruntung mereka semua terhindar dari ancaman tsunami.

Mayor Iqbal bukan sekali ini terlibat dalam misi kemanusian. Dia sudah berpengalaman terbang dengan misi serupa ke berbagai negara seperti Thailand, Myanmar, Kambodja bahkan pula ke berbagai wilayah lain di Indonesia, Balikpapan, Solo, Jogjakarta dan Bali.

Tapi menurutnya, misi kemanusiaan kali ini jauh berbeda.

“ Luar biasa. Ini merupakan misi kemanusian terbesar yang pernah saya jalani. Dan saya senang ikut serta dalam misi ini,” kata Mayor Iqbal yang merupakan fligth leader Malaysia dalam misi kemanusian di Aceh dan Nias.

Mayor Iqbal tidak pernah membayangkan betapa dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan gelombang tsunami di Aceh. Dari tayangan televisi di Malaysia, awalnya dia mengira bencana tsunami itu hanya terjadi di negaranya, kawasan Pulau Pinang Malaysia.

Tapi saat terbang menuju Bandar Udara Iskandar Muda, Banda Aceh, Mayor Iqbal melihat  ratusan rumah penduduk yang berada di kawasan pantai barat sumatera itu rata dengan tanah.

“ Yang paling menyedihkan saat saya terbang di atas salah satu sungai di Kota Banda Aceh.  Ratusan mayat bercampur dengan sampah. Sangat mengharukan. Saya sampai tak bisa berkata apa-apa menyaksikannya,” ujar Iqbal.

Pemandangan itu menyentuh perasaan Mayor Iqbal untuk berbuat lebih banyak membantu korban-korban bencana tsunami. “ Negara saya juga terkena bencana tsunami. Tapi dibandingkan Indonesia, korban kami jauh lebih kecil. Wajar kalau perhatian dunia terfokus ke Aceh,” sebut Iqbal yang ditugaskan di Indonesia hingga Juli mendatang.

Misi kemanusiaan Mayor Iqbal pertama kali adalah mengirimkan logistik ke Nias. Saat itu bertepatan dengan hari ke tiga tsunami. Para korban tsunami di Nias sangat membutuhkan pertolongan logistik. Tapi logistik hanya bisa diangkut lewat helikopter.

Mayor Iqbal sempat bingung. Karena pesawat CN 235 yang dibawanya tak direkomendasikan untuk melakukan pendaratan. Ketika banyak pihak yang meragukan pendaratan pesawat tipe CN 235 di bandara itu, Mayor Iqbal mengambil keputusan berani. Tak ada jalan lain, ia harus secepatnya mengirimkan bantuan untuk korban yang sudah kelaparan. AKhirnya ia sukses mendarat dengan mulus.

Ia kemudian menjadi perintis bagi pesawat sejenis untuk mengirimkan logistik via Bandara Binaka, Nias.

“Bandara Binaka awalnya tidak direkomendasikan untuk didarati CN 235. Tapi saya berhasil mendarat dengan mulus. Itu membuat saya bangga. Apalagi saya membawa 3 ton bantuan makanan dan obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat di sana,” ujar lelaki berkulit hitam manis ini.

Pengalaman menarik lainnya bagi Mayor Iqbal adalah ketika puncak trafick fligth pada 30 Desember. Saat melintas di atas udara Polonia Medan, Mayor Iqbal merasakan  ketakutan saat menyaksikan demikian banyaknya pesawat lain yang mengantri untuk mendaratdi bandara Polonia.

“ Suasana ketika itu sangat berbahaya dan menyebabkan tabrakan di udara. Belasan pesawat hanya bisa berputar-putar menunggu antrian untuk mendarat. Selama saya terbang, belum pernah saya berada dalam situasi itu,” jelasnya.

Mayor Iqbal menjadi Tentara Angkatan Udara Malaysia sejak tahun 1992. Dua tahun kemudian dia sudah mendapat izin terbang dengan jenis pesawat Pilatus. Kemudian dilanjutkan dengan tipe pesawat Karebo sebelum menerbangkan CN 235. Sampai kini, jam terbang Mayor Iqbal bersama CN 235 sebanyak 1700 kali jam terbang.

Ayah dari 3 anak ini adalah tipe pria yang supel, dan penuh canda. Dalam perjalanan dua pekan lalu saat mensurvai kelaikan landasan pacu bandara Cut Nyak Dien , Aceh Barat, Mayor Iqbal bersama Panglima Komando Udara Sektor Wilayah Barat (Pangkosek) Marsekal Pertama Irwan Supomo dan Komandan Angkatan Udara Polonia Medan, Sudipo Handoyo terlihat selalu melemparkan canda.

Indonesia bagi lelaki kelahiran Keddah, Malaysia 36 tahun lalu merupakan rumah ke dua baginya. Awal 2004 lalu, Mayor Iqbal pernah tinggal di Bandung selama 3 bulan untuk sekolah pendidikan khusus penerbangan CN 235.

Satu hal yang menjadi catatan bagi Mayor Iqbal, menurut dia, dari sejumlah jenis pesawat sejenis yang pernah diawakinya (Pilatus dan Karibo), CN 235 buatan Indonesia cukup membanggakan. Banyak negara yang tertarik membeli tipe pesawat hasil pengembangan tehnologi dari mantan presiden BJ Habibie. Malaysia sendiri telah memiliki 6 unit CN 235 dan saat ini tengah memesan 1 unit lagi type CN 235 VVIP.

Serupa halnya Brunai Darussalam dan Spayol yang masing-masing mengirimkan 1 CN 235 dan 3 CN 235 untuk membantu distribusi logistik.

Mayor Iqbal mengaku ia mengetahui banyak sejarah CN 235 (Cassa Nurtaniu), sebuah nama yang diabadikan untuk mengenang Nurtaniu, orang pertama di Indonesia yang berhasil merakit pesawat Sikumbang.

Menurut Mayor Iqbal, kelebihan yang dimiliki CN 235 karena bisa digunakan dalam segala operasi (multiple plus) ditunjang dengan instrumen yang canggih dengan kapasitas penumpang 35 orang dan daya angkut lebih dari 3 ton. Dengan perawatan yang baik, massa life time CN 235 mencapai 20 tahun.

Yah, Indonesia sepatutnya bangga. Diantara puluhan pesawat canggih dari negara lain yang terbang di udara Indonesia pasca tsunami , CN 235 ternyata ikut memberikan andil yang cukup besar dalam mendistribusikan logistik di daerah terpencil sekalipun memiliki landasan pacu pendek.

Dengan kata lain, dalam sebuah misi kemanusian, CN 235 kembali ke rumahnya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s