wisata

Penggalan Puisi Cut Nurfajria

Doa Kami

Ya Allah
Engkau maha pengasih dan maha penyayang
Kami selaku hamba yang lemah dan tak berdaya
Jangan engkau berikan cobaan ini lagi
Jangan engkau taburkan derita ini lagi
Karena kami tahu ini kesalahan kami

Ya Allah
Engkau memberi kami cobaan
Kami tak ingin lagi melihat tangisan saudara-saudara
kamiTangisan adik-adik kami

Ya Allah
Engkau mau memaafkan kesalahan kami
Hanya kepadamu kami memohon
Dan hanya kepada mu kami meminta
Amin Ya Rabbal Alamin

Puisi berjudul “Doa Kami” tersebut ditulis oleh Cut Nurfajria (13) , siswi kelas II SMP Negeri 3 Meulaboh. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, Cut, panggilan akrab Cut Nurfajria beserta 40 siswa kelas II diminta oleh guru mereka untuk menuangkan perasaan mereka saat tsunami menerjang kota Meulaboh.

Laporan dedy ardiansyah, saat bencana tsunami di Meulaboh tahun 2004*

Ketika Cut berdiri dan membaca puisi, temannya diam dan mendengarkan suara Cut yang terdengar pelan. Cut memang tidak sampai menangis. Tapi dia membawakan puisinya dengan perasaan. “ Saya kasihan, banyak teman-teman saya yang menjadi korban tsunami,” kata Cut usai membacakan puisinya itu.

Cut Nurfajria dan keluarganya memang bukan korban bencana tsunami. Rumahnya di kawasan Desa Lapang nyaris tak tersentuh gelombang tsunami. Meskipun begitu dia ikut merasakan kepedihan keluarga teman-temannya di sekolah yang menjadi korban. Puisi yang ditulisnya ini sekaligus doa kepada tuhan agar tsunami tak lagi terulang mungkin takcumadi Aceh tapi di belahan dunia lain.

Teman-teman Cut lainnya juga terlihat semangat menuliskan puisi. Seluruh puisi mereka bercerita tentang tsunami. Puisi Hendri Rizki ( 13) yang berjudul “Tangisan Sanak Saudara Ku” tak sempat diselesaikannya walaupun remaja berkulit hitam ini sudah berusaha merekam kejadian saat bencana tsunami terjadi dalam puisinya.

Hari itu, Kamis 27 Januari adalah hari kedua aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 3 Meulaboh,  Aceh Barat setelah sehari sebelumnya pemerintah mencanangkan hari bangkitnya pendidikan di wilayah Aceh dan Nias. Gedung SMP 3 merupakan salah satu sekolah di Kota Meulaboh yang terhindar dari bencana. Walau begitu, dalam sepekan ini mereka harus belajar di bawah pohon-pohon sekitar pekarangan sekolah karena sebagian gedung mereka masih dipinjam militer Francis sebagai posko.

Merekapun akhirnya terpaksa harus belajar di tengah alam terbuka dengan mengandalkan rindangnya pepohonan yang berada di pekarangan sekolah. Mereka membentuk lingkaran, dan ada juga duduk berbaris berhadap-hadapan. Sementara para guru berada di sisi mereka. “ Ayo, duduk di tempat yang dingin. Nanti kau sakit, ” kata guru pada siswa yang terkena sinar matahari.

Meskipun belajar seadanya, semangat para pelajar SMP 3 untuk mengikuti pelajaran cukup besar. Tak jarang gelak tawa terdengar dari mereka. Rata-rata mereka gembira setelah sebulan lamanya tak melakukan aktifitas belajar lagi. “ Saya senang bisa belajar dan berkumpul lagi dengan teman-teman di sini,” aku Furqon Muttaqin siswa kelas 1.

Awalnya SMP 3 juga akan menampung para pelajar dari SMP 1 dan SMP 2 yang gedungnya rata diterjang tsunami. Namun menurut Kasmuddin, Kepala Sekolah SMP 3, kapasitas ruang belajar yang berjumlah 16 kelas hanya cukup menampung siswa SMP 3 yang berjumlah 665 orang.

Bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh Barat telah menghancurkan 99 unit gedung sekolah, 48 diantaranya rusak total. Selain prasarana pendidikan,tsunami juga menewaskan 189 pegawai negeri sipil di lingkungan dinas pendidikan Aceh Barat. Sementara jumlah guru yang meninggal 12 orang. Itu pula alasannya kenapa Mendiknas Bambang Sudibyo menjadikan Kota Meulaboh sebagai tempat pencanangan hari bangkitnya pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias.

Cut dan sebagian besar siswa SMP 3 memang lebih beruntung. Mereka masih bisa berseragam saat ke sekolah. Cut, juga tidak tinggal di kamp pengungsian. Tapi tidak bagi T. Raji Akbar, pelajar kelas II di SMA Negeri 1 Meulaboh. Ponbid, begitu dia disapa teman-temannya, masih enggan masuk ke sekolah. Dia masih sedih karena harus kehilangan ayah, ibu dan adiknya. Bahkan dia juga tidak punya tempat untuk ditinggali. Untuk sementara dia menumpang di rumah Fadil, teman satu kelasnya. “Lagi malas bang. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Mungkin besoklah,”
kata Ponbid tanpa semangat.

Sehari sebelumnya, 26/1, kesedihan serupa juga dirasakan oleh Suparto (46), guru yang mengajar di tenda sekolah dasar (SD) darurat di lokasi pengungsian Alue Penyareng, Kecamatan Meureubo. Suparto tak kuasa menahan air mata ketika anak didiknya menyanyikan lagu berjudul “Desa Ku” menggema di tenda darurat itu.

Sesaat dia tertunduk di meja belajar siswanya, menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya. Salah seorang siswa yang disebelahnya ikut menangis. Tapi kemudian dia berdiri, menghapus air mata dengan bajunya. Kemudian dia mencoba kembali membangun suasana ceria. “ Bapak tadi kenapa? Ia Bapak memang menangis karena rindu kampung halaman. Ayo, siapa yang ingin pulang ke rumah,” kata Suparto menghibur anak didiknya.

Suparto memang tak kuasa menahan tangis, dia termasuk korban bencana tsunami. Saat tsunami menerjang kampungnya di kawasan Peulanteu, Kecamatan Bubung, Aceh Barat, empat anaknya hingga sekarang tidak ditemukan. Kesedihan memang belum hilang dari Meulaboh. Tapi semangat belajar harus kembali lahir diantara ribuan pelajar yang selamat dari bencana.

Penggalan puisi karya Cut Nurfajria kiranya bisa membangkitkan semangat Ponbid dan Pak Suparto. Semoga!

*tulisan ini pernah dipublikasikan di The Jakarta Post, Acehkita.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s