wisata

Catatan Tiga Jam dari Bumi Teuku Umar

“Allahuakbar. Kiamat Tiba”

Kalimat ini tertulis di salah satu bangunan yang runtuh di Kota Meulaboh. Tulisan itu memang tak berlebihan bila melihat setiap inci kota Meulaboh luluhlantak akibat bencana gempa dan gelombang tsunami Minggu 26 Desember lalu.

Catatan: dedy ardiansyah, Meulaboh 2004

Tidak jauh dari bangunan tadi, kalimat lain tertulis “Sadarlah Manusia, Kiamat Sudah Tiba”. Kendati tidak jelas siapa yang menulis kalimat-kalimat tersebut dengan cat semprot berwarna oranye, namun tulisan itu mengingatkan saya betapa besarnya kekuasaan Tuhan. Betapa kecil kita dihadapan-Nya.

Meulaboh adalah tempat kelahiran pahlawan nasional,Teuku Umar. Kota yang sebelum bencana berpenduduk sekitar 60 ribu jiwa ini adalah tempat yang indah. Dikelilingi pantai, pohon nyiur melambai-lambai dengan angin semilir yang mengajak kita untuk sejenak melupakan kepenatan dan rutinitas hidup.

Tapi semua keindahan itu sirna. Sejauh mata memandang yang ada hanya onggokan puing-puing bangunan berserakan yang bertumpuk membentuk pagar panjang setinggi 2 meter.Keadaan ini bisa dilihat di pusat kota sepanjang Jl. Nasional dan Jl. Teuku Umar.Satu unit mobil seri terbaru tersangkut setinggi 5 meter diatas puing-puing reruntuhan bangunan. Bahkan sebuah kapal nelayan berukuran 12 meter terseret sampai 200 meter memasuki halaman parkir pertokoan.

Sesungguhnya pemandangan mengerikan sudah tampak dari atas Helikopter Chinoox ketika saya dan rombongan jurnalis lain mengikuti rombongan Perdana Menteri Singapura melakukan kunjungan ke Kota Meulaboh. Daratan di pesisir pantai ibukota Aceh Barat itu terlihat digenangi air yang sudah berwarna coklat. puluhan batang pohon kelapa yang mencium bumi adalah saksi betapa dahsyatnya gelombang tsunami.

Pemandangan luar biasa juga saya temui sesaat helikopter Chinoox mendarat di bandara udara Cut Nyak Dien. Landasan pacu retak-retak, terbelah selebar 10 centimeter. Landasan beraspal tebal itu juga sampai terangkat sekitar 20 cm. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana paniknya masyarakat yang dilanda gempa berkuatan 8,9 skala richter itu. Dahsyat!!

Selama tiga hari Kota Meulaboh terisolir. Tak ada informasi yang bisa diterima pemerintah. Harapan mulai terkuak tiga hari setelah bencana melanda Meulaboh. Rabu pagi, Presiden Susilo Bambang Yudoyono berhasil melakukan komunikasi udara dengan Danrem 012 Teuku Umar,Kol.Inf Gerhan Lantara di Posko Penanggulangan Bencana Alam Nasional,Pangkalan TNI AU Polonia, Medan.

Dari pembicaraan tersebut baru diketahui bahwa kondisi Kota Meulaboh sudah porak-poranda. Hanya 20 persen infrastruktur yang masih tersisa. ribuan jiwa melayang dihantam gelombang tsunami, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.

Saya teringat ucapan seorang personil TNI yang bertugas di Bandara Cut Nyak Dien ketika saya mencari tempat untuk buang air kecil ““ Hati-hati masih banyak mayat yang belum ditemukan.”

***

Sepekan pasca bencana gempa dan tsunami saya dan sejumlah jurnalis lain mengikuti rombongan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Long mengunjungi Meulaboh. Mungkin saya sedikit beruntung dibanding jurnalis lainnya yang berkeinginan kuat membuat reportase dari Meulaboh. Kedatangan saya ini adalah kali kedua setelah sehari sebelumnya bersama rombongan Edward Lee, Duta Besar Singapura.

Selama karir saya di jurnalistik, belum sekalipun menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekkah. Saya tak pernah membayangkan datang ke Aceh dalam suasana penuh duka,lantaran musibah gempa dan tsunami.

Siang itu saya bersama Mia Shanley, koresponden Reuters dari Singapura mencoba menyusuri kota Meulaboh. Berjalan diantara reruntuhan bangunan di Jalan Teuku Umar. Aroma mayat masih terasa menyengat. Sekelompok masyarakat mencoba mengangkat puing-puing kayu yang masih berserakan, mencoba mencari sumber bau tadi.

Di depan rumah dinas Danrem 012 Teuku Umar, kami mendapati seorang ibu bersama putranya tengah sibuk mengumpulkan piring, gelas, sendok, dan beberapa lembar pakaian yang sudah bercampur dengan lumpur. Cuma itu yang tersisa dari reruntuhan rumahnya.

Tak jauh dari mereka, empat orang anak-anak duduk di bawah pohon asam. Tak terlihat keceriaan. Tidak juga tersenyum. Mereka cuma diam, melihati serombongan pejabat negera asing yang berkunjung ke kotanya. Seorang anak yang berpakaian SMP malah menghindar untuk kami wawancarai.

Saya tidak sempat melakukan interviu dengan penduduk di sana karena keterbatasan waktu mengikuti rombongan PM Singapura. Tapi, mereka tak perlu cerita terlalu banyak, karena kondisi kota Meulaboh sudah menggambarkan semua cerita duka mereka. Kedukaan yang melahirkan sejuta kisah sedih. Yang tersisa hanya sedikit pengharapan dari pemerintah Singapura yang memfokuskan bantuan merehabilitasi Kota Meulaboh.

Jujur saja, dukungan total pemerintah Singapura untuk merehabilitasi Kota Meulaboh dengan peralatan berat di atas kapal Landing Ship Tank (LST) nya menyisakan sejuta tanya di hati saya. Mungkin sama dengan yang lain, saya mencoba berpikir positif terhadap dukungan dari negara-negara asing untuk membantu saudara-saudara di Aceh. Saya tepis ceritera soal pengerukan pasir yang mengakibat sejumlah kepulauan di Riau tenggelam. Semoga tidak ada misi tersembunyi dari bantuan itu, semoga semua itu benar demi misi kemanusiaan. Semoga..

2 thoughts on “Catatan Tiga Jam dari Bumi Teuku Umar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s