documentary / media / wisata / wisata

Pak Tuntung, Membungkus Senyum, Merengkuh Untung

Karakter Pak Tuntung dari Harian Analisa Medan.

PANTAU Edisi September 2002, No. 029

JALAN Kesawan adalah kawasan penting kota Medan. Ruas jalan itu satu arah, lebarnya tak lebih dari delapan meter dan tak bisa menampung puluhan kendaraan yang tiap menit melintas. Di kawasan ini pula berdiri kantor redaksi harian Analisa, sebuah suratkabar terbesar sirkulasinya di Sumatra Utara.

Oleh. Dedy Ardiansyah

Suatu sore Juli lalu, ketika sebagian karyawan berbenah hendak pulang, saya datang ke sana. Suhu di dalam ruang lantai dasar cukup dingin. Puluhan meja terletak tak beraturan. Ada satu meja yang paling semrawut. Macam manalah tak dibilang centang-perenang, ratusan kertas bertumpuk, berserak dari satu meja ke meja sebelahnya. Beberapa lembar tercecer di lantai.

Inilah meja Basuki, kreator karakter Pak Tuntung, serial kartun yang tiap hari menghiasi Analisa. Pak Tuntung adalah Analisa. Rubrik tiga kolom ini hadir tiap hari, kecuali Minggu, di sudut kiri bawah halaman lima—halaman olah raga. Agak janggal memang karena sebagian besar suratkabar dunia, menempatkan kartun mereka di halaman editorial.

Tapi Pak Tuntung memang beda. Tokoh Pak Tuntung digambarkan sebagai pria Indonesia keturunan Tionghoa, berbusana ala 1970-an. Dia berkemeja putih yang lengannya selalu digulung plus celana cut brai bergaris hitam putih. Pak Tuntung berpasangan dengan wanita gendut berambut keriting yang tak lain istrinya. Mereka dikaruniai sepasang anak. Ada enam tokoh lain yang muncul selang-seling. Tak ada nama untuk istri, anak ataupun pendamping Pak Tuntung. Pembaca Analisa mengenal sosok-sosok itu hanya sebagai Bu Tuntung, anak-anak Pak Tuntung, Pak Tua, dan sebagainya. Pak Tuntung pertama kali muncul di Analisa pada 1973. Saat itu hidung Pak Tuntung panjang, mencuat ke atas, gabungan antara bentuk hidung boneka Pinokio dan Petruk, tokoh pewayangan. Telinganya seperti angka enam. Rambutnya sedikit bergelombang, berjambul, menyerupai penyanyi legendaris Elvis Presley asal Amerika.

Pak Tuntung dalam penampilan perdana tengah berpesta kostum. Pak Tuntung berkostum gorila, berdansa dengan seseorang yang bertopeng wanita cantik. Selesai dansa, Pak Tuntung membuka topengnya. Teman dansanya melakukan hal sama. Alangkah kagetnya. Pasangannya ternyata seekor gorila! Wajah kagetnya itulah yang mengundang senyum. Tema kartun Basuki kebanyakan seputar masalah social atau lingkungan, jarang mengusung tema politik. Karakter Pak Tuntung juga diciptakan sangat santun. Humornya jauh dari isu peka macam agama dan ras. Pak Tuntung anti-kejahatan, suka mengkritik, memperhatikan lingkungan hidup tapi takut istri. Tak jarang Pak Tuntung diomeli, dicueki bahkan digebuki dengan pemukul kasur oleh Bu Tuntung yang cerewet, galak,

pencemburu, tapi cinta suami. Pak Tuntung juga ikut demam Piala Dunia maupun gejala populer lain. Ketika ramai dibicarakan film Spiderman dan serial Meteor Garden dari Taiwan, Basuki pun menggambar Pak Tuntung ala Spiderman dan Meteor Garden. Semuanya segar, umum dan jauh dari primordialisme.

“Saya kurang suka politik,” kata Basuki kepada saya, seakan-akan mengacu pada sempitnya ruang gerak orang Indonesia keturunan Tionghoa selama 30 tahun diskriminasi anti-Cina oleh rezim militer Orde Baru. uang gerak terbatas, Basuki harus bekerja keras untuk melucu. Ia merenung, melihat sekeliling, dan membaca.

Intinya, kartun yang dicoret-coretnya bisa mengajak pembaca masuk ke alam ilusi sambil tersenyum-senyum. Nama Pak Tuntung menurut sekretaris redaksi Analisa War Djamil diilhami dari Tuntungan, daerah di pinggiran Medan. Daerah ini pada 1970-an dikenal sebagai arena pacuan kuda yang selalu ramai pada akhir pekan. Tuntungan dirasa cukup berarti untuk nama kartun koran itu. Akhiran “an” dibuang, kemudian ditambah kata “Pak” jadilah Pak Tuntung. Dalam bahasa Mandarin, “Tung-tung” artinya anak-anak. Pak Tuntung memang dekat dengan masyarakat Cina di Medan karena Analisa, meski secara sosial bukan pembagian yang tepat, dianggap sebagai suratkabar masyarakat Cina-Medan. Iklan kematian orang Tionghoa kebanyakan dimuat oleh Analisa.

Andi Kurniawan Lubis, redaktur foto Analisa, berpendapat Basuki memiliki kekuatan imajinasi. Basuki bisa menangkap persoalan dari segala tempat, orang dan peristiwa. Lalu menuangkannya dalam sebuah gambar yang bergerak dari satu adegan ke adegan lainnya. (Bersambung ke hal 2)

DEDY ARDIANSYAH (Kartun h. ) reporter tabloid Komatkamit di Medan, menetap di Medan sejak 1995, dan menjadikan Analisa salah satu media referensinya.

2 thoughts on “Pak Tuntung, Membungkus Senyum, Merengkuh Untung

  1. Saya salah satu penggemar pak Tuntung. Saya di Medan dari tahun 1983-85. Meskipun saat itu saya masih kelas 3-5 SD, tapi gaya2 pak Tuntung yg lucu dan segar selalu saya nanti2kan setiap kali papa pulang membawa harian Analisa. Bahkan saat itu saya pernah mengkliping beberapa edisi pak Tuntung. Sangat menyejukkan mendengar komik strip ini masih menghibur pembaca sampai sekarang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s