wisata

Mencoba Melawan Kembalinya Bau

Trauma masyarakat di seputar pabrik Indorayon yang kini bernama Toba Pulp membuat mereka menolak keras dioperasikannya kembali pabrik itu.

Mengubah nama tak menghilangkan ketakutan. Tahun lalu (2003), PT Inti Indorayon Utama diubah menjadi PT Toba Pulp Lestari, setelah berhenti berproduksi sekitar empat tahun. Mulai awal Maret ini pabrik bubur kayu ini akan dioperasikan lagi. Dan sejak awal tahun, warga pun kembali unjuk rasa, memprotes akan dioperasikannya lagi pabrik di Kecamatan Porsea, Toba Samosir (dulu termasuk Kabupaten Tapanuli Utara) itu. Trauma masa silam tak cukup dihapus dengan nama dan janji baru.

Benar, kesibukan menjelang pabrik beroperasi tak lagi seramai dulu. Menurut liputan wartawan TRUST, dibandingkan di pertengahan 1990-an misalnya, ketika puluhan truk raksasa kebut-kebutan dengan arogan mengangkut seratusan ton kayu menuju lokasi pabrik di Kecamatan Porsea, sekitar 250 kilometer dari Medan, bisa dikatakan aktivitas yang sekarang cukup rendah hati. Akhir Februari lalu hanya terlihat delapan hingga 10 truk melaju lambat beriringan, masing-masing mengangkut 100-150 ton kayu dari hutan Aek Nauli atau Habinsaran untuk dibawa ke pabrik. Kayu-kayu pun tak tampak mencolok: diselimuti terpal biru. Memang, masih ada sisa-sisa arogansi masa lalu: kawalan dari satuan brigade mobil polisi.

Persiapan dilakukan setelah Jakarta memberikan izin (diwakili empat menteri: Rini Suwandi, Jacob Nuwa Wea, Nabiel Makarim, M. Prakosa), dengan catatan: Toba Pulp harus menjalankan teknologi ramah lingkungan. Pihak pabrik pun terlebih dahulu melakukan permintaan maaf secara formal kepada masyarakat, alam, serta Tuhan karena kerusakan lingkungan yang diakibatkan, dan sikap arogan yang dipamerkannya di masa lalu.

Tapi, hujan sehari di Porsea tak menghapuskan panas setahun. Mereka belum lupa sungai keruh, kulit gatal-gatal, panen menurun, dan atap-atap seng keropos. Mereka juga masih ingat, betapa kekuasaan berpihak pada Indorayon. Tahun 1990, misalnya, 10 wanita tua dihukum enam bulan penjara, dituduh merusakkan tanaman pabrik—padahal, pohon ekaliptus itu ditanam di tanah adat milik keluarga wanita-wanita tersebut.

INTEL-INTEL BERKELIARAN

Itulah; suatu hari, ratusan warga memblokade persimpangan di dusun Sirait Uruk, persimpangan yang niscaya dilalui truk-truk pabrik, karena inilah ”gerbang” masuk Porsea. Mereka membakar ban agar konvoi truk tak bisa lewat. Lalu, tulisan ”Tutup Indorayon” dalam ukuran besar dicatkan pada dua rumah yang tadinya menjadi sekretariat Suara Rakyat Bersama, kelompok penentang Toba Pulp yang dibentuk pada 1998 lalu. Sebelumnya, tiga spanduk raksasa dipasang di lingkungan Porsea—dan segera, polisi menurunkannya.

Di Balige, ibu kota Toba Samosir, warga dengan dukungan sejumlah lembaga swadaya masyarakat mendesak Sahala Tampubolon, Bupati Toba Samosir, untuk menutup pabrik pulp di Porsea ”apa pun namanya”. Selain Kecamatan Porsea dan Balige, masyarakat Lumban Julu, Silaen, dan Uluan pun menentang dioperasikannya Toba Pulp demi kelestarian lingkungan, termasuk Danau Toba.

Di malam hari, warga Porsea mencurigai orang-orang asing yang singgah. ”Kami tak percaya pada orang tak dikenal. Mereka harus diwaspadai,” kata Butarbutar, salah satu yang aktif memprotes Toba Pulp. Ia curiga, katanya, karena belakangan ini intel-intel berkeliaran, terutama di hari-hari truk-truk dengan muatan kayu hendak masuk ke lokasi pabrik.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi, Longgena Ginting, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa pekan silam, 16 warga masih ditahan polisi karena ikut aksi menentang pembukaan kembali Toba Pulp pada 21 November tahun lalu. Di antara mereka adalah tokoh Suara Rakyat Bersama, Musa Gurning, peraih Walhi Award di tahun 2000. Lalu, menurut Ketua Dewan Adat Batak Binsar Simangunsong, menjelang Toba Pulp beroperasi kembali aparat kepolisian menyisir desa-desa, membubarkan warga yang memprotes pembukaan itu. Bahkan, katanya, beberapa rumah penduduk diobrak-abrik aparat.

Mereka yang memprotes Toba Pulp umumnya orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan—sektor yang terkena dampak langsung kerusakan lingkungan hidup. Menurut Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Utara Herwin Nasution, dulu, limbah Indorayon yang berupa gas dan cairan mengakibatkan terjadinya hujan asam, penyakit kulit, gangguan saluran pernapasan, dan gangguan syaraf. Hasil penelitian Firman Manurung, ahli kimia lulusan Universitas New South Wales, Australia, menunjukkan air hujan di Porsea di atas ambang bahaya: tingkat keasaman sudah 4,5—derajat keasaman air normal 7,0.

Hujan asam itu merusak pertumbuhan tanaman, terutama ketika memasuki proses perkecambahan dan pembungaan. Hewan ternak yang membutuhkan tanaman sebagai sumber makanannya tentu ikut terpengaruh. Bahkan, atap seng rumah-rumah sekitar pabrik cepat keropos.

(TRUST/Dedy Ardiansyah link: http://www.majalahtrust.com/danlainlain/kesehatan/156.php – 20k – Supplemental Result

One thought on “Mencoba Melawan Kembalinya Bau

  1. Klo nurut aq sih..maunya ada perubahan Sistem di Manajemen PT.TPL..dimana Semua kembali kepada : Tidak adanya dampak positif yang lebih kepada masyarakat kecil, dibandingkan dengan dampak negatif yang ditimbulkan ! coz Sistem kemitraan TPL hanya milik Pengusaha Dan yang berkuasa“

    DAn klo emang ini tidak bisa diubah ……Sebaiknya PT.TPL di tutup saja. Dan satu yang terpenting PT.TPL sektor TELE sering kali melakukan tindakan curang di didalam pemakaian izin !

    Terimakasih atas komentarnya. Ini tulisan saya sekitar tahun 2004, ketika masih menjadi buruh untuk Majalah TRUST. Saya sependapat dengan kawanku Johan, kalo memang lebih banyak modharatnya, ngapain dipertahankan? Sayangnya ya itu, ketika “penguasa sudah dikuasai”, maka tak ada kekuasan lain yang bisa menguasainya, terkecuali Yang Maha Kuasa…

    salam kenal…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s