opini

Luna Maya vs Infotainment

Saya tertarik mengikuti perseteruan artis Luna Maya dan pekerja infotainment. Kejadian ini mengembalikan memori saya untuk mundur lima tahun ke belakang.

Sesungguhnya, perseteruan antara pekerja infotainment terhadap selebriti pernah terjadi di tahun 1995.  Ketika itu sederet kasus yang melibatkan artis dan pekerja selebriti mencuat. Ingat bagaimana seorang komedian Parto yang mengacungkan pistol ketika terdesak oleh pertanyaan para pekerja infotainment, atau artis Bella Shapira yang pernah marah-marah ketika ditanyai, apakah ia seorang wanita panggilan?  Demikian juga Sarah Ashari melempar asbak setelah berkonflik dengan pekerja infotainment.

by Dedy Ardiansyah on Friday, December 18, 2009 at 5:25pm

Persoalan ini kemudian bergulir bukan lagi antara selebriti vs pekerja infotainment. Tetapi pada sebuah pertanyaan, apakah pekerja infotainment adalah juga seorang jurnalis (wartawan). Ini dilandasi oleh cara-cara yang dilakukan para pekerja infotainment untuk mewawancarai narasumbernya yang cenderung tidak mengikuti etika sebagai seorang jurnalis.

Menurut Ketua Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PARSI), Anwar Fuadi dalam buku Potret Pers Indonesia (yang diterbitkan Dewan Pers-2005), para pekerja infotainment sering memaksa, mencaci maki, menggedor pintu dan bahkan lebih parah menerobos masuk pekarangan rumah narasumbernya untuk melakukan wawancara.

Ingat, peliputan kasus di kalangan artis tidak sama dengan peliputan skandal yang dilakukan oleh pejabat negara. Meski sama-sama publik figur, tapi profesi artis berbeda dengan pejabat negara yang disumpah dan digaji oleh negara. Wajar, jika kemudian metode peliputan terhadap pejabat yang terlibat kasus korupsi atau kriminal, bisa dilakukan dengan cara-cara tak biasa.

Ignatius Haryanto, Peneliti di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta dalam tulisannya berjudul ”Selebritas dan Jurnalisme Infotainment” (Potret Pers Indonesia-diterbitkan Dewan Pers) mencoba mengurai apakah pekerja infotainment itu masuk dalam kategori wartawan atau bukan.

Dalam tulisannya itu, Ignatius memang tidak secara konkret menolak pekerja infotainment disetarakan dengan profesi wartawan. Namun dia membandingkan bagaimana metode kerja yang dilakoni jurnalis dengan pekerja infotainment tersebut.

Jurnalis bekerja untuk mencari dan menyiarkan berita demi kepentingan publik, untuk memenuhi rasa keadilan dan ketidakadilan masyarakat yang lebih luas. Seorang jurnalis juga bekerja berdasarkan standar profesi yang tinggi dengan rules dan regulasi yang mengikutinya dalam hal ini Kode Etik Jurnalis Indonesia (KEJI).

Sementara para pekerja infotainment berkutat pada wilayah personal/privat si artis. Domain yang digarap adalah hiburan yang melulu bicara soal kehidupan pribadi artis, kawin, cerai, selingkuh, meninggal, melahirkan, pindah agama, merayakan hari besar dan bahkan profil dari benda-benda pribadi yang dimiliki si artis.

Jika pekerja infotainment mau dilihat sebagai jurnalis yang meliput dunia hiburan, maka dunia hiburan tak melulu soal pribadi si artis saja, tapi bisa diperluas dari struktur ekonomi-politik-hukum dari dunia hiburan tersebut. Dan ini luput ditulis oleh banyak para pekerja dunia hiburan.

Contoh kasus. Saya pernah melihat tayangan infotainment yang meliput pasangan selebriti beserta kedua anaknya melakukan perjalanan ke lokasi hiburan keluarga. Tayangan tersebut menggambarkan bagaimana happy-nya pasangan tersebut.

Anda tahu, selebriti yang ditayangkan tersebut ternyata adalah pasangan kumpul kebo. Anak-anak mereka lahir tanpa ikatan pernikahan yang disahkan oleh agama ataupun negara. Sesuatu yang tabu bagi budaya masyarakat timur.

Tapi pekerja infotainment sepertinya mengabaikan dampak dari tayangan tersebut. Karena pesan yang muncul di masyarakat adalah, hidup tanpa hubungan pernikahan ternyata bisa dilakukan di Indonesia.

Padahal dalam diri seorang jurnalis, dia harus memiliki semangat kontrol sosial atas ketidakadilan/ketidakwajaran yang terjadi di sekitarnya. Jika memang tidak berani mengkritik pasangan tersebut, harusnya infotainment tidak memberi ruang yang bebas bagi pasangan tadi. Sebab, pemberian porsi yang bebas di dunia infotainment itulah, karier dan pendapatan kedua pasangan tersebut terus meroket.

Ancam Kebebasan Pers

Kita kembali ke kasus Luna Maya. Saya menilai Luna Maya tentu punya alasan mengapa harus mengeluarkan umpatan di twitternya. Mencermati pemberitaan di infotainment, kronologi kasus ini bermula ketika Luna Maya menghadiri pemutaran film Sang Pemimpi bersama orangtua dan Alleia, putri Ariel (sang kekasih), Selasa (15/12) malam.

Usai acara, Luna Maya menggendong sang putri kecil tersebut yang tengah tertidur. Mendapat angel yang menarik, para pekerja infotainment kemudian mengejar Luna Maya untuk dimintai keterangan.

Luna Maya bukan menolak untuk diwawancarai, tapi dia harus membawa Alleia masuk ke mobil dan memberinya ruang yang nyaman untuk tidur di sana. Tapi para pekerja infotainment seakan tak memedulikan permintaan itu. Mereka ngotot mengejar hingga kemudian Luna Maya terdesak, dan kepalanya terbentur kamera salah satu infotainment.

Di sinilah amarah Luna memuncak. Alleia ia serahkan kepada ibunya Ariel dan meladeni kemauan infotainment untuk diwawancarai. Dalam wawancara tersebut, Luna tidak sedikitpun mengeluarkan makian atau umpatan. Dia hanya menyampaikan kekesalannya atas perlakukan para pekerja infotainment tersebut.

Usai wawancara itulah, kemudian di twitternya Luna menulis : “Infotaiment derajatnya lebih HINA dari pada PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!

Jika pekerja infotainment tersebut seorang jurnalis, maka mereka tentu menghargai privasi si artis. Memberi ruang bagi Luna Maya untuk membawa anak kecil yang sedang tertidur dalam pelukannya itu lalu kemudian memenuhi janjinya untuk diwawancarai di lobby. Jika komunikasi berjalan, makiannya di twitter tersebut jelas tidak akan pernah ada.

Menurut saya, umpatan Luna Maya di Twitter tersebut adalah hal yang wajar. Itu ekspresi dirinya yang kesal terhadap perlakuan para pekerja infotainment. Sama halnya komentar yang kita sampaikan karena kecewa terhadap ketidakadilan di negara ini.

Lagi pula, di situs jejaringannya itu, dia tidak menyebutkan lembaga atau individu infotainment tertentu. Lalu kenapa pula para pekerja infotainment tersebut harus marah? Apakah pekerja infotainment tak boleh dikritik? Apa mereka lebih hebat dari polisi, jaksa, hakim atau bahkan presiden yangg belakangan ini sering dihujat di situs jejaringan sosial?

Jika kasus ini kemudian bergulir ke polisi, saya khawatir di kemudian hari kasus yang sama akan jadi bola panas bagi siapapun yg mengkritik kinerja institusi negara di jejaringan sosial termasuk FB. Lalu apa gunanya publik membela perlakukan semena-mena RS Omni terhadap Prita Mulyasari?

Bahkan bukan tidak mungkin, sejuta facebooker yang mendukung pembebasan Bibit- Candra terancam dilaporkan dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena di komunitas jejaringan sosial tersebut berisi jutaan makian dan hujatan terhadap pihak-pihak yang dilawan. Atau RS OMNI akan mempidanakan orang-orang yang tergabung dalam komunitas yang mendukung Prita Mulyasari.

Karena itu saya sangat menyayangkan dan menyesalkan sikap PWI Jaya dan pekerja infotainment yang terburu-buru melaporkan Luna Maya ke polisi. Delik yang dijeratkanpun tak main-main, pasal 27 ayat (3) UU No. 11 tahun 2008 ITE.

Menurut pasal 27 ayat (3) UU ITE, setiap orang yang mencemarkan nama baik melalui media elektronik diancam hukuman penjara maksimal 6 tahun. Jelas, pasal ini sangat kejam dan berpotensi memberangus kebebasan berekspresi.

Seharusnya, pernyataan Luna Maya dipahami sebagai ekspresi kejengkelan masyarakat terhadap pekerja infotainment yang gemar melanggar hak privasi orang dan tidak mengindahkan etika. Mungkin saja kata-kata Luna Maya tersebut terlalu kasar dan tidak pantas. Tapi kata-kata tak akan berdampak buruk, apalagi jika dibanding dengan liputan-liputan infotainment yang kerap mengupas kehidupan pribadi para artis.

Sebab itu, saya menolak siapapun, baik institusi atau pun individu yang mencoba menjerat komentar-komentar pengguna situs jejaringan sosial ke jalur hukum. Bagi saya ini adalah bentuk kriminalisasi berekspresi, yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Sebaiknya, balas kata-kata dengan kata-kata, jangan dipenjarakan.

Hal yang sungguh lebih berbahaya lagi adalah, laporan PWI Jaya tersebut akan menjadi preseden buruk bagi pers Indonesia yang selama ini mengagungkan hak jawab bagi narasumber yang merasa keberatan atas pemberitaan media.

Di samping itu pula, jika memang pekerja infotainment adalah bagian dari jurnalis, harusnya mereka juga mengikuti mekanisme sengketa pers yang di atur dalam UU Pers 1999. Atau meminta klarifikasi ke Luna Maya terhadap pernyataannya tersebut. Jika tidak bisa juga, lakukan mediasi ke Dewan Pers. Saya kok khawatir, laporan PWI Jaya tersebut akan menjadi alat justifikasi bagi narasumber lain untuk tak menggunakan hak jawab atas pemberitaan yang merugikannya.

Karena itu saya tidak habis pikir, kenapa PWI Jaya membawa masalah ini melalui jalur pidana. Bukankah reaksi pekerja infotainment ini semakin memperlebar perdebatan jika pekerja infotainment bukan bagian dari profesi jurnalis.

Jika memang begitu kesimpulannya, tolong dong jangan Anda mengaku-ngaku sebagai jurnalis. Saya dan bahkan mungkin sejumlah orang lainnya yang berprofesi sebagai jurnalis justru bisa melaporkan balik, karena Anda-Anda telah mempermalukan profesi kami, sebagai jurnalis!

*penulis adalah jurnalis, berdomisili di Medan

tulisan ini juga bisa dibaca di:
http://ekspresikan.blogspot.com/2009/12/luna-maya-vs-infotainment.html

http://www.facebook.com/note.php?note_id=240977516674

komentar di facebook

LikeUnlike · · Share · Delete

    • Rudianto NurdinSebagai masyarakat, kita terganggu dengan tuntutan organisasi pekerja media ini, sama saja mengkhianati ibu kandung sendiri..kriminalisasi ternyata juga dilakukan pekerja media kepada publiknya. Itu poin yang kita tangkap

      December 18, 2009 at 7:50pm · LikeUnlike
    • Khairil Hanan Lubis

      Menurut saya infotainment tidak layak disebut bagian dari kegiatan jurnalistik, karena kinerja mereka tidak mengikuti KEJ dan unsur-unsur jurnalistik yang benar dalam penyajiannya.
      Bukankah jurnalistik tidak mengenal gosip? apalagi memberi i…nformasi yg tidak mendidik bagi masyarakat.Walaupun begitu, di satu sisi Luna Maya juga tidak pantas mengucapkan kata-kata yang merendahkan profesi orang lain. Apalagi perannya sebagai seorang public figure di negeri ini. See More
      December 18, 2009 at 7:51pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Rudianto. setuju. kegilisahanku juga ada pada posisi itu.

      December 18, 2009 at 7:53pm · LikeUnlike
    • Iman D NugrohoBagus Dedy. Boleh aku taruh di blog?

      December 18, 2009 at 7:55pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah

      ‎@Khairil. manusia tak luput dari kesalahan. luna maya sebelum menutup akun twitternya sudah meminta maaf. nah, poin penting di sini sebenarnya, PWI atau pekerja infotainment tersebut menjadikan kasus ini sebagai pembelajaran bagi publik, b…agaimana seharusnya menyelesaikan masalah yang terjadi di dunia maya.berangkat dari situ kemudian, kita, para facebooker atau pengguna jejaringan sosial lain bisa mengambil hikmah. bukan justru buru-buru melaporkan ke polisi. itu bagi saya, pembelajaran yang tidak sehat.See More
      December 18, 2009 at 7:56pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Iman. oke bung. dipersilahlan seperlunya.

      December 18, 2009 at 7:56pm · LikeUnlike
    • Iman D Nugroho Sip,..aku pasang di www.iddaily.net. Rekeningmu berapa? biar ditranfer Luna Maya,..hahahahaha

      December 18, 2009 at 8:23pm · LikeUnlike
    • Khairil Hanan Lubis

      ‎@bg dedy: ya, saya setuju kalau kasus ini nantinya menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Seharusnya pekerja infotainment tidak terjebak pada ikatan ‘solidaritas’ dalam penyajian informasinya sehingga keputusan yang diambil hanya didasarkan… emosi, tanpa pikir panjang.Kalau sudah begini, kita tinggal menunggu saja, akan banyak kasus seputar peryataan2 di dunia OL atau situs jejaring yg diperkarakan. Dan semakin aneh saja kasus hukum di negeri ini.
      See More
      December 18, 2009 at 8:27pm · LikeUnlike
    • Ezki Suyantosayangnya banyak artis yang ikut mblejetin LM..bego deh..

      December 18, 2009 at 8:28pm · LikeUnlike
    • Dedy ArdiansyahIman. hahaha… nomer rekeningku lewat sms aja ya… kwkwkwk… tq bro. koreksi, Anwar Fuadi masih ketua PARSI. di catatanku tertulis mantan..

      December 18, 2009 at 8:31pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@mba ezki. iya mba. aku liat yang kasih komen umumnya artis2 yang populer karena sensasi. artis yang amat bergantung ama infotainmnet, termasuk salah satunya pasangan kumpul kebo itu.

      December 18, 2009 at 8:44pm · LikeUnlike
    • Ulin Ni’am YusronSewaktu kami menjadi sepasang kekasih, Luna sangat bisa mengontrol emosinya. Secara tidak langsung saya selalu kasih saran bagaimana berhubungan dengan media massa. Tapi semenjak dia memilih ariel, Luna jadi gampang sensitif. Sedih aja, pasal karet yang ditolak sekumpulan jurnalis, justru kini dipakai sekumpulan wartawan.

      December 18, 2009 at 9:36pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Iin. saya tidak bisa menyimpulkan pekerja infotainment itu harus digolongkan ke profesi yang mana…. :)

      December 18, 2009 at 9:39pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Ulin. wah, saya baru tahu kalau bung ulin pernah merajut kisah kasih dengan luna… :)

      December 18, 2009 at 9:40pm · LikeUnlike
    • Ulin Ni’am Yusron‎@dedy: baca baik2 ya, kami itu antara aku dengan dia, yang belum tentu luna. Saran juga selalu saya sampai secara tidak langsung, misalnya melalui batin, sebab utk ketemu saja Luna sangat sibuk wakakakak…

      December 18, 2009 at 9:44pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Ullin. hahahaha…. luna maya sampai tersenyum simpul membaca komen bung ullin…

      December 18, 2009 at 9:47pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Iin. tulisan ini pribadi dedy sendiri, tidak mewakili lembaga. barangkali para sesepuh aji di sini, bisa memberi sedikit pencerahan untuk kita-kita di sini. :)

      December 18, 2009 at 10:23pm · LikeUnlike
    • Andri SoebandrioKayaknya org2 AJI Luna Maya mania..kenapa artis2 lain yang “dizalimi” infotainment kok gak dibela…

      December 18, 2009 at 10:32pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Andri. misalnya siapa bang?

      December 18, 2009 at 10:35pm · LikeUnlike
    • Heru HendratmokoAshadi Siregar pernah menjelaskan dengan sangat baik: infotainment bukan jurnalisme karena pertama-tama ia berangkat dari masalah privat, diangkat ke ranah publik, dan hasil akhirnya adalah (maunya) hiburan (entertainment) — yang celakanya, sering tidak menghibur. Luna Maya adalah korban ke sekian dari praktek infotainment. Dan saya yakin, ia bukan korban yang terakhir.

      December 18, 2009 at 11:04pm · LikeUnlike
    • Hendra Mulyabagus tulisannya bang… campur tegang juga membacanya… jadi kesimpulannya pekerja infotaiment lah yang salah ya bang…

      December 18, 2009 at 11:07pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@mas Heru. publik menunggu sikap AJI. mungkin mas, bisa bantu komunikasikan dengan yang lain. tq

      December 18, 2009 at 11:22pm · LikeUnlike
    • Dedy Ardiansyah‎@Hendra. seperti katamu juga, biar publik yang menyimpulkannya sendiri…

      December 18, 2009 at 11:22pm · LikeUnlike
    • Ekmal Muhammad Indraprastha dari dulu aku nggak suka infotainment yang ngaku-ngaku Jurnalis. Kita memang sama-sama pegang kamera dan pulpen, tapi JELAS PRINSIP KERJA KITA BEDA. Kita kerja berdasarkan fakta, mereka kerja atas dasar desas desus, dan fitnah.
      Sekali lagi Infotaiment bukan JURNALIS.

      December 21, 2009 at 11:15am · LikeUnlike
    • Arfan Lubismantap bang, ada hikmah dari kejadian ini, infotainment bukan wartawan. pekerja infotainment kalau dari sudut agama lebih banyak ghibah nya dan diharamkan. Jangan nodai profesi wartawan.

      December 26, 2009 at 12:01am · Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s