Orang Medan memiliki bahasa yang unik. Tapi jangan salah sangka, bahasa
yang dimaksud di sini bukan bahasa daerah (seperti bahasa Batak). Penduduk Medan itu sangat heterogen, terdiri dari beragam suku/etnis. Jadi, ketika kita menyebut “bahasa Medan”, yang dimaksud adalah “bahasa Indonesia ala Medan”, bukan bahasa daerah. (Jonriah Ukur Ginting)
oleh: dedy ardiansyah
Gaul, dong! Pede aja lagi! Kasihan deh, lo! Nyantai aja, Coy! Begitulah antara lain “bahasa gaul” yang seringkali kita dengar di kalangan remaja Medan. ‘Bahasa gaul” para generasi MTV itu seakan telah menjadi bahasa resmi mereka.
Memang tak sepenuhnya salah kalau pun para remaja Medan menggunakan bahasa gaul itu. Namun janganlah pulak gara-gara menggunakan bahasa Medan justru seolah terdengar aneh dan dianggap norak. Ingat, bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya. Bahasa Medan itu adalah identitas diri sebagai orang Medan. Kalau kemudian anak-anak Medan enggan menggunakan bahasanya sendiri dalam pergaulan, wah, hilanglah sudah kebanggan kita sebagai orang Medan. Botul gak?
Tapi apa mau dikata, disadari atau tidak, justru hal itu pulak yang terjadi. Kebanggan sebagai anak Medan kian redup. Dengan kata lain, istilah-istilah dalam bahasa gaul yang beredar saat ini, justru mengadopsi bahasa pergaulan ala anak-anak generasi MTV tadi.
Padahal, menggunakan istilah khas Medan dalam keseharian sangat menyenangkan. Selain memunculkan semangat “nasionalisme”, dengan menggunakan bahasa Medan juga dapat bernostalgia sembari mengingat-ingat pengalaman dan kenangan yang lekat dengan penggunaan istilah tersebut.
Berangkat dari problem tersebut, tim kami merekam fenomena pergeseran bahasa Medan di lingkungan sendiri. Tujuannya sederhana, agar kita sama-sama melihat sejauh mana penggunaan bahasa Medan dan bahasa “asing” dalam keseharian.
Bahasa Permainan dan Pergaulan
Dalam pergaulan di Medan, terdapat sejumlah istilah khas yang membutuhkan penjelasan panjang lebar bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya beberapa istilah dalam permainan di masa kanak-kanak, yakni “cop”, “pencorot” atau “lewong”. Bagi mereka yang mengalami masa kecil di tahun 1970-an dan 1980-an, ketiga istilah ini tentu sangat akrab, di mana istilah-istilah ini sangat populer untuk bermain alip berondok (petak umpet) , guli (kelereng) atau layangan.
Istilah “cop” adalah ucapan sebagai pertanda minta rehat atau istirahat saat permainan kian seru dan melelahkan, atau bisa juga untuk menipu teman ketika persembunyiannya ketahuan. Penggunaannya dalam bahasa begini; “Aku cop ya, mau ke WC dulu.”
Sedangkan “pencorot” berarti nomor urut paling akhir alias pecundang dalam bermain guli (kelereng). Kata “lewong” merupakan istilah dalam bermain layangan yang berarti putus. “Lewong juga bermakna hilang atau raib. “Lewong uangku disikat dia.” ![]()
Untuk bahasa pergaulan, tercatat sejumlah istilah khas yang tampaknya tak lekang oleh zaman. Istilah “BK” (plat kendaraan bermotor) sudah jadi generik di Medan, sama seperti Aqua atau Rinso.
Contoh penggunaannya: “ Kereta kau yang mana? Berapa BK nya?” Waduh, sudah dapat dipastikan orang di luar Medan tak akan mengerti apa maksud pembicaraan tersebut.
Yang menarik dicatat, dalam sejumlah istilah pergaulan, kekhasan dan nuansa Medan justru menonjol dan masuk dalam kamus bahasa Indonesia. Lihat saja istilah “preman” (sebutan kepada orang jahat). Padahal sejarahnya, kata ini berasal dari free man (bahasa Inggris)
Menurut Ahmad Husein, praktisi komunikasi yang juga pemilik blog: www.kamus-medan.blogspot.com, akar dari bahasa Medan adalah bahasa prokem. Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan. Bahasa ini awalnya digunakan oleh para pendatang dari berbagai bangsa yang masuk ke Kota Medan, yang dulunya dikenal sebagai kota pelabuhan.
Para pendatang tersebut kemudian berkomunikasi dengan style bahasa sendiri. Tujuan untuk menyesuaikan diri agar kalimat mereka diketahui oleh lawan bicara.
“Bahasa Medan itu lain. Dia menjadi bahasa sendiri dalam pergaulan masyarakat yang heterogen.Beda dengan bahasa jawa yang gramer dan tata bahasanya sudah baku,” ujar Husein.
Selain itu juga, istilah-istilah dalam bahasa Medan mendapat pengaruh dari kemajemukan warga kota Medan itu sendiri. Kendati ada juga beberapa kata yang terdengar unik dan seolah-olah berasal dari negeri antah berantah, namun keberagaman suku dan budaya yang ada di Sumatera Utara, ikut menyumbang perbendaharaan bahasa Medan. Ada melayu, batak, mandailing, karo, tionghia, tamil dan bahasa Belanda. Masing-masing ikut memperkaya khasanah bahasa Medan.
Berikut adalah beberapa di antara bahasa Medan yang khas tersebut. Meski banyak di antara istilah-istilah ini yang tentu sudah sangat akrab ditelinga orang luar, tapi di Medan, pengertiannya benar-benar berbeda!
Lebih Akrab dan Menguntungkan
”Pulaknya, Memacari Bini Orang, ya Bonyoklah!” Barangkali judul berita dengan menggunakan dialek khas sejenis ini pastilah pernah Anda baca di beberapa koran di Kota Medan. Tapi, oups, jangan langsung sentimen dulu dengan koran tersebut. Pasalnya, ini adalah sebuah kiat yang memang disengaja dari sang empunya hak redaksi koran tersebut.
Sebut saja misalnya koran POSMETRO Medan, koran yang barangkali sudah dekat di hati pembaca Kota Medan. Koran ini memang sudah dikenal luas oleh masyarakat Kota Medan yang datang dari berbagai strata sosial.
Dan tak bisa dipungkiri, bagaimana koran ini melekat di hati pembacanya justru dikarenakan salah satu faktor, yakni langgam bahasanya yang khas Medan. Dengan konsep ini, tak sedikit media yang meraih keuntungan berlimpah. Buktinya Pos Metro tadi. Konon oplahnya sempat menembus angka 80 ribu eksemplar per hari, sebuah rating tertinggi surat kabar di Medan.
Ya, POSMERTO yang memang identik dengan bahasa khas Medan itu, bukanlah sebuah human error, atau sebuah kampanye gelap untuk mengaburkan tatanan baku Bahasa Indonesia yang sudah memiliki pakem tersendiri.
”Memang konsepnya begitu. Sejak awal, koran ini memang sengaja menggunakan dialek Bahasa Medan. Tujuannya, agar bisa dekat di hati pembaca ,” jelas Rohana Uli Siregar Redaktur Pelaksana koran dari salah satu anak perusahaan Jawa Pos itu.
Menurut Ana, pembaca akan merasa dekat dengan sendirinya jika berita yang memang memfokuskan diri pada konten lokal juga disajikan dengan penggunaan bahasa ibu setempat.
Yah, perlahan namun pasti, saat ini bahasa Medan telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial.
Dengan alasan serupa Star FM, stasiun radio bergelombang 104,6 FM ini juga melakukan hal yang sama pada setiap program di radio. Bahkan Star FM mewajibkan seluruh penyiarnya menggunakan bahasa Medan. Menurut Dania, salah seorang penyiar di Star FM, siaran dengan menggunakan bahasa Medan lebih enak dan akrab karena kesannya berbicara dengan teman sendiri. Dan ia juga merasa menjadi diri sendiri dengan menggunakan logat Medan.
“ Pendengar kami justru lebih senang kalau kami siaran dengan bahasa Medan,” ucap sembari menjelaskan seluruh konten program siaran di Star FM juga membumi dengan masyarakat Medan itu sendiri.
Mantaflah kalo begitu. Ayo, siapa yang nyusul…
Tulisan ini kami sajikan untuk mengingatkan kita bahwa janganlah malu menggunakan bahasa sendiri: Bahasa Medan.
DIarsipkan di bawah: reportase | Ditandai: bahasa medan, dedy ardiansyah, kamus, medan
wooo ,,,, mantab kalilah kutengok blog abang ini ,,
hahaha .. mang orang Medan ya bang..
bahasa gaul medan itu lebih mantab dari jakarta ini .. dan kalo mau kubilang ya bang bahasa gaul mtv, anak jakarta ini banyak yang diambil dari medan ..
dan aku tadi kurang setuju sama kau bang soal bahasa gaul medan yang bilang
” “Gaul, dong! Pede aja lagi! Kasihan deh, lo! Nyantai aja, Coy! Begitulah antara lain “bahasa gaul” yang seringkali kita dengar di kalangan remaja Medan. ‘Bahasa gaul” para generasi MTV itu seakan telah menjadi bahasa resmi mereka. ”
mana pernah dibilang kek gitu di sana ..
abang medan dimana? hehehehe :p
satu lagi .. cop itu dibilang encop .. cuma kada disingkat cop
terus lewong itu lewoong — kadang dibilang leong ..
kek gitu aja lah dulu bang ya ..
salam kenal lah kita ,,
pernah dengan ancur ma’e bores bang……….artinya ancur-ancuran lah ….kandas……
wew! ! !
alah mak jang, kok lain kali blog yang ku baca ini. tak sangsa
aku. masih ada juga yang inget ama masa lalu nya.
jadi inget aku ama kata litak klo lagi main batalion. ama apa itu alem berondok ya!!.
klo kata sakti akusih biasa nya dari kecil apa yack!!
palingan ko tarok dimana
moncongko lah (istilah bilang mulut)
kek mana (klo bertanya)
orang itu kemana (klo tanya seseorang)
enceng ( jika taq mau main lagi )
bokor ( klo main curang )
apa lagi yack!!…
ea, keluar maen² tuh klo jam istirahat sekolah
hai abang, aku yanne. kampung aku di medan jd emang berkesan sekali bahasa medan itu. aku dulu kalo main alip berondok suka bilang Nceng sama nggak aci hehe. trs kalo mudik ke medan bilangnya “turun” ke medan dan selalu ketukar istilah motor dan kereta. aneh ya… naek kereta, aihhhh… btw, orong2 dan alen2 apa kabar? masih adakah tu jajanan jaman sd dl??
Hai Dedy, dari Ternate aku baca kabarmu. aku Rusli Djalil, eks TRUST yang dulu sering ribut bareng kamu di milis ponden trust. btw, waktu aku maen ke AJI Indonesia, kok kamu gak ada? salam
apakabar kawan Rusli. namamu masih melekat kuat di memoriku.
soal aji, sudah lama aku risign. sejak awal 2008, aku sudah memutuskan untuk fokus ke kerjaan lain.
kontak aku di dedy_ardiansyah@yahoo.com untuk friendster dan facebook.
kau korek dulu paret itu..nanti kau ku balen limpul…
berondok kau cepat..kau mau dilibasnya…
si ucok ketanggor..abis main tuo..
grempang kali kau…
mata kau kok bintilan habis ngeten ya
bang aku di letup si poltak…
Itu beberapa kosa kota khas medan yang masih saya ingat..mengasyikkan sekali punya masa kecil di kota Medan….kalau ada yang mau memperjelas kosa kata tersebut silakan……mantap kalii
hahahaha…. itulah serunya bahasa medan.
terimakasih kedanku, asim..salam kenal.
kalo sempat raun-raun ke medan, kau kontaklah aku biar nanti kujemput naek kereta..
ha.ha.sor kali aku ikutin lawak-lawak kelian abang2. udah lama kali jarang kudengar kata-kata itu. teringat pulak aku pas leher ku di piting waktu betumbuk di smp dulu